BNPT Gelar Aksi Penindakan Terorisme di Yogyakarta

Mobil diledakan

YOGYAKARTA — Bertempat di Lapangan Markas Detasemen Pertahanan Udara (Denhanud) 474 Paskhas TNI AU Yogyakarta, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar simulasi penanganan serangan teroris di sebuah hotel dan rumah sakit. Simulasi gabungan melibatkan seluruh aparat keamanan berbagai instansi di Indonesia, mulai dari POLRI, TNI, dan pasukan khusus tidak kecuali Densus 88 Anti Teror dalam koordinasi BNPT, Selasa (3/11/2015).
Simulasi penindakan teroris dalam koordinasi BNPT dengan sandi Latin V, digelar sebagai upaya melatih aparat keamanan dengan situasi yang dibuat mirip kondisi nyata dengan peluru tajam dan ledakan sungguhan. 
“Ini dimaksudkan agar aparat tidak ragu lagi dalam hal penindakan kasus terorisme yang sangat membahayakan,” jelas Komjen Saut Usman Nasution, Kepala BNPT yang ditemui seusai pelaksanaan simulasi.
Usman mengatakan, ancaman terorisme seringkali tidak terduga, bahkan sekonyong-konyong, dan mematikan, dan menakutkan. Karena itu, katanya, aparat di Yogyakarta dilatih supaya tidak ragu dan tahu persis dengan yang harus dilakkan ketika terjadi terorisme. Dan, semua dilakukan sesuai dan demi penegakan hukum sebagaimana  amanat reformasi.
 “Kita lihat ancaman terorisme ini sangat besar. Meski sekarang ini hening, bukan berarti teroris berdiam diri. Tapi, mereka menyiapkan tenaga, personel, persenjataan dan dukungan lain. Bercermin dari pengalaman arus balik Jamaah Islamiyah dari Afganistan di tahun 1990-an, juga melihat dari arus balik ISIS dari Iran dan Syuriah, kita harus senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan”, tegasnya.
Sementara itu berkait upaya pencegahan, pihaknya juga mengadakan berbagai program penyadaran seperti dialog dan seminar serta workshop internet, mengingat saat ini terorisme juga melakukan rekruitment dan serangan melalui jaringan internet.
 “Ke depan, sesuai intruksi presiden dan undang-undang akan kita siapkan satuan-satuan anti teror di tingkat lokal dan nasional, dengan mensinergikan semua aparat keamanan dan kelembagaan lainnya seperti POLRI, TNI dan masyarakat. kita juga akan perbanyak latihan dalam penindakan terorisme ini”. tandas Usman. 
Sebelumnya, gelar simulasi penanganan dan penindakan aksi terorisme di Lapangan Markas Denhanud 474 Yogyakarta didahului dengan upacara penutupan pelatihan bersama penanggulan terorisme dalam koordinasi BNPT. 
Kombes Pol. Supriyanto

Sesudah upacara selesai, simulasi segera dilakukan. Kombes Pol. Supriyanto, Kasubdit Pelatihan BNPT mengatakan, simulasi tersebut dibuat berdasar skenario penangkapan pelaku terorisme di Solo, Jawa Tengah dan Pamulangan, Jawa Barat, yang menewaskan Dulmatin, terduga kuat pelaku Bom Bali II tahun 2002, lalu.

Simulasi dimulai berdasar skenario penggrebekan pada bulan Agustus 2015 dengan terjadinya penangkapan satu orang teroris di Solo, Jawa Tengah. Lalu dari pemeriksaan, diketahui ada 8 orang teroris kabur ke Yogyakarta dengan dua kendaraan dan dua bom siap ledak. Satu bom terdapat pada rompi dan satu lagi di dalam tas ransel gemblok.
Delapan teroris itu lalu melakukan aksi teror di sebuah rumah sakit dan hotel. Menebar teror dengan melepaskan tembakan membabi buta. Suasana mencekam. Mereka para teroris menuntut agar teroris yang ditangkap di Solo dibebaskan. Terhadap kejadian itu, petugas polisi Polresta Yogyakarta segera meluncur. Dibantu aparat TNI setempat, petugas melakukan pengamanan wilayah dengan membuat perimeter dan berusaha mendekati teroris. Namun situasi kian mencekam dan negosiasi yang dilakukan gagal.
Maka, Kadensus melapor ke Kapolri untuk seger minta bantuan kepada Menkopolhukam untuk memperbantukan satuan bantuan penindak. Menkopolhukam lalu berkoordinasi dengan Kepala BNPT, untuk melaksanakan penetrasi, penangkapan dan penyelamtan sandra. BNPT mengambil-alih penanganan dengan mendatangkan Pusdalsis BNPT dan meminta BKO Satuan Penindakan Wilayah seperti Denhanud 474 Paskhas, Yonif 403, Satbrimob Polda DIY, Penjinak Bom, dan 1 unit Helikopter untuk menurunkan empat personel penyusup yang akan melakukan penetrasi.
Simulasi berjalan mencekam dengan tembakan sniper dan suara ledakan. Bahkan, dalam simulasi tersebut diadegankan sebuah bom di dalam mobil yang tak bisa dijinakkan terpaksa diledakkan. 
“Skenario dalam simulasi itu menunjukkan jika eskalasi tindakan meningkat dan membahayakan, koordinasi penanganannya diambil-alih oleh BNPT”, jelas Supriyanto.


JURNALIS : KOKO TRIARKO
Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.
Akun twitter @KOKOCND
Lihat juga...