Ciptakan Lapangan kerja, Titiek Soeharto Apresiasi Peternak Itik Bantul

Titiek Soeharto sedang belajar membuat telur asin
YOGYAKARTA  —  Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto mengapresiasi kelompok peternakan itik dari jenis khas Bantul, yang terbukti mampu memberikan dampak besar terhadap perkembangan perekonomian warga setempat.
“Jika suluruh desa di Indonesia bisa mengembangkan ternak itik seperti yang dilakukan warga dusun Bakulan Wetan itu, tentu efek ekonominya sangat luarbiasa,”sebutnya dalam reses ke Kelompok Perternakan Unggas Itik Ngudi Mulyo di pedukuhan Bakulan Wetan, Patalan, Jetis, Bantul, Yogyakarta, Rabu (11/11/2015).
Titiek juga mengapresiasi warga setempat, yang telah mampu mengembangkan dan memberdayakan desanya, sehingga tidak perlu merantau ke kota untuk mencari pekerjaan.
Dalam kunjungan tersebut, Titiek juga menampung aspirasi warga. Dia menyatakan, pihaknya akan berupaya mencari sumber-sumber dana bantuan dari pemerintah. Tidak hanya itu, untuk permodalan, warga juga bisa memanfaatkan yayasan dari Soeharto seperti Yamandiri, yang bisa membantu dalam hal mendapatkan pinjaman Bank dengan bunga lunak. 
Sebelumnya, ketua kelompok Ngudi Mulyo, Tujana (42) menyebutkan, meski permintaan dari waktu ke waktu terus meningkat, namun belum bisa dipenuhi kaerna saat ini masih terkendala penambahan modal dan lahan, karena lahan yang digunakan saat ini masih merupakan bekas kandang sapi milik kas desa setempat.
“Karena itu, kami berharap Ibu Titiek bisa memberikan jalan keluarnya,” ujarnya sambil menyebutkan, peternakan itik khas Bantul tersebut mulai dikembangkan tahun 2008, dan mampu memberikan lapangan pekerjaan kepada warga desa.
Tujana juga menyampaikan, saat ini ada sekitar 2.200 ekor itik yang dipelihara oleh kelompoknya, dengan luas kandang sekitar 1 Hektar. Dengan jumlah anggota sebanyak 20-an orang, itik sebanyak itu mampu mengjasilkan telur rata-rata sebanyak 2000 butir. Telur itu dijual dengan harga berbeda tergantung kualitas. Telur nomor satu khusus untuk ditetaskan dijual seharga Rp. 2000 sebutir dan untuk konsumsi seharga Rp.1750 sebutirnya. 
“Salah satu kelebihan itik khas Bantul ini memang tingkat produktivtas telurnya yang tinggi. Satu ekor itik mampu bertelur sebanyak 270 butir dalam setahunnya,” jelas Tujana.
Dengan memberdayakan keluarga, masing-masing anggota kelompok pun terlibat dalam pemeliharaan itik. Selain untuk ditetaskan, telur itik juga dibuat telur asin dan untuk memenuhi outlet jamu di Yogyakarta. 
JURNALIS : KOKO TRIARKO

Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.

Akun twitter @KOKOCND
Lihat juga...