Demi Diklat Bela Negara, Wanita ini Rela Tinggalkan Enam Anaknya

Edi Yusuf dan Sri Daryanti Sudarmini
YOGYAKARTA — Sri Daryanti Sudarmini (51), warga dusun Mojo, Gayam, Sukoharjo, Jawa Tengah, yang kini sedang mengikuti diklat kader pembina bela negara di Yogyakarta menilai, bela negara itu adalah masalah riil, masalah saat ini, sehingga ia pun rela meninggalkan enam putranya untuk mengikuti diklat tersebut.
Hampir selama dua pekan ini Sri mengikuti program diklat bela negara yang diadakan oleh Kesbangpol Linmas Kementerian Dalam Negeri RI di kawasan obyek wisata Kaliurang, Sleman, Yogyakarta.  
Bersama sekitar 300 peserta lainnya dari Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Sri yang berbadan gempal itu tak kehabisan semangat mengikuti semua kegiatan, kendati pada awalnya mengaku merasa tersiksa karena harus berjalan jauh, senam, baris-berbaris dan sudah itu menerima pembekalan materi wawasan kebangsaan dan bela negara sampai malam hari.
Dari kegiatan itu, tentu saja Sri tak mendapatkan upah. Sri juga bukan lagi seorang muda atau pelajar yang masih bisa leluasa untuk sekedar mencari ilmu dan pengalaman. Sri bahkan seorang orangtua tunggal dari enam anak dan nenek dari dua cucu. 
Suaminya sudah lama meninggal dunia, dan ia masih harus banting tulang untuk membiayai pendidikan empat orang anaknya. Lalu, tanggung-jawab itu ditinggalkannya demi mengikuti program bela negara yang direncanakan akan berlangsung dua minggu sampai nanti tanggal 30 November 2015. Padahal, Sri hanya seorang guru tidak tetap di sebuah taman kanak-kanak milik yayasan dan setiap bulan hanya mendapat  gaji Rp. 300 Ribu.
Bagi Sri tanggung-jawab bela negara lebih penting dari semua itu. Ditemui di sela waktu pelaksanaan diklat, Kamis (26/11/2015) Sri mengungkapkan, jika ia langsung merasa terpanggil begitu mendengar ada program diklat pembinaan kader bela negara dari Kesbangpol tersebut. Didampingi Edi Yusuf, pengawas diklat, Sri mengatakan, jika selama ini dirinya merasa resah dengan berbagai peristiwa yang menimpa bangsa ini. Mulai dari terorisme, ISIS, ancaman disintegrasi dan begitu banyaknya anak muda terlibat kasus narkoba. 
“Maka saya langsung menyanggupi diklat bela negara, supaya saya bisa turut membenahi keadaan, minimal dengan memberi pengetahuan kepada anak-anak saya”, cetus Sri.
Dengan mengikuti program bela negara, Sri merasa tak berlebihan. Karena dalam diklat itu ditanamkan kembali pemahaman Pancasila, NKRI dan kebhinekaan. Juga kedisiplinan dan kesadaran bela negara sesuai bidangnya masing-masing. Semua itu, katanya, bisa menjadi jawaban atas berbagai persoalan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini.
Terhadap siswa didiknya itu, Edi Yusuf pun merasa sangat bangga. Bahkan juga trenyuh, manakala melihat jiwa nasionalisme Sri yang begitu kuat. 
“Kami semua memang tidak ada yang dibayar. Tapi, bagi kami, melihat generasi muda nanti bisa mencintai tanah airnya itu sudah lebih dari cukup”. pungkas Edi yang juga merupakan Waketum Penerus Perjuangan Perintis Kemerdekaan Indonesia, PPPKI. 
JURNALIS : KOKO TRIARKO

Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.

Akun twitter @KOKOCND
Editor : ME. Bijo Dirajo / Fotografer : Koko Triarko
Lihat juga...