Difabel Sukses dengan Bisnis Dompet Kulit Ikan Pari

Karyawan dompet ikan pari sedamg membuat dompet
YOGYAKARTA — Sejak kecil, Sulaeman yang kini telah berusia 63 tahun terpaksa hidup hanya dengan satu kaki. Kecelekaan kereta api yang dialaminya ketika masih berusia 6 tahun, membuat kaki kirinya harus diamputasi. Namun, dengan keterbatasan fisiknya itu bukan berarti Sulaeman hanya mengandalkan belas kasih orang lain. Sebaliknya, dia bahkan mampu membantu rekan senasib dengan mempekerjakannya sebagai karyawannya di bidang usaha kerajinan dompet dari kulit ikan pari. 
Sulaeman, difabel pengrajin kulit
Sulaeman, warga Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta bisa mendapatkan omzet antara 100 hingga 200 Juta rupiah dalam sebulan. Dengan keuntungan 10-20 persen dari omset perbulannya itu, Sulaeman mampu mempekerjakan 15 karyawan yang semuanya juga penyandang cacat. Sulaeman sengaja memilih karyawannya dari kaum difabel, yang menurutnya memang sangat butuh kesempatan bekerja.
“Pernah saya mempekerjakan teman-teman yang normal. Tapi, saya pikir mereka masih punya banyak kesempatan untuk bekerja di tempat lain. Beda dengan kami difabel. Selain keterbatasan fisik dan pendidikan, juga sangat jarang perusahaan mau mempekerjakan difabel”, ujar Sulaeman, saat ditemui di tempat kerjanya, Sabtu (07/11/2015).
Dengan niat tulus membantu rekan senasib, ternyata Sulaeman mendapat perhatian dari pemerintah. Alhasil, dia pun pernah dianugerahi penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, atas kepedulian dan upayanya dalam meningkatkan kesejahteraan sosial penyandang cacat. Namun demikian, Sulaeman mengaku tak berharap lain  kecuali terus berupaya mengembangkan usahanya agar bisa menampung lebih banyak lagi rekan-rekannya yang senasib.
Sementara berkait dengan usahanya di bidang kerajinan dompet kulit ikan pari, Sulaeman yang asli Tegal, Jawa Tengah itu menuturkan, telah sejak tahun 1994 ia merintisnya dari kecil. Dia pun merasa bersyukur, karena sebelumnya sempat bekerja sebagai pengrajin kulit di sebuah yayasan penyandang cacat di Sleman, Yogyakarta. Dengan bekal keterampilannya itu, sejak 1994 Sulaeman bertekad mendirikan usaha kerajinan kulit secara mandiri.
Usaha yang digelutinya itu, kini telah sukses. Sebanyak 100-300 dompet bisa dihasilkan dalam seminggu. Tak hanya dompet, namun juga beragam kerajinan kulit lainnya seperti tas, pernak-pernik dari kulit dan ikat pinggang. Bahan kulitnya pun juga tidak hanya dari ikan pari. Namun juga kulit buaya dan biawak. 
“Harganya beragam. Dompet pria berbahan kulit ikan pari harganya 125-250 ribu rupiah, untuk dompet wanita sekitar 400-an ribu rupiah. Harga paling mahal bisa mencapai 2,5 juta untuk produk tas kulit”, jelasnya.
Dengan membuka toko kecil di kediamannya, Sulaeman memajang hasil produksi kerajinan kulitnya. Namun untuk pemasaran besar, Sulaeman lebih banyak mengirim produknya ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya. Sedangkan model atau desainnya berdasar pesanan. Ada pun bahan kulit ikan pari didatangkan dari wilayah Pantai Utara, Jawa Timur. 
“Saya memang lebih fokus ke kulit ikan pari. Selain motifnya yang unik seperti manik-manik, kulit ikan pari juga keras sehingga sangat awet dijadikan produk”, jelasnya. 
Dompet ikan pari
JURNALIS : KOKO TRIARKO

Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.

Akun twitter @KOKOCND
Lihat juga...