Ekstrakurikuler Robotik Angkat Nama SD Muhammadiyah 4 Pucang

SURABAYA — Memberikan nilai lebih, Sekolah Dasar Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya menerapkan ekstrakurikuler robotik untuk murid kelas 3 hingga 6. Hal tersebut membuat sekolah tersebut berhasil meraih prestasi tingkat Internasional. 
Guru pembimbing ekstrakurikuler robotik dari tahun 2009, Endik Setyawan menyebutkan, ada beberapa alasan tertentu sehingga murid dari kelas tiga diberikan ekstrakurikuler robotik.
“Murid kelas 3 saya anggap berada di masa peralihan. Peralihan dari masa kanak-kanak menuju anak-anak. Dan umumnya sudah mulai paham, mulai mengerti dan sudah cukup besar,” terangnya kepada Cendana News, Rabu (18/11/2015).
Dalam ekstrakurikuler robotik, ada empat level. Level pertama yaitu kenaikan komponen, level kedua tentang pengenalan alat dan bagaimana membuat lampu flip flop, level ketiga berisi dengan tahap pengenalan robot dan line tracer (operasional robot) dan level keempat diajari bagaimana membuat program maze solving.
“Anak-anak bisa membuat robot karena biasa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, anak-anak kelas 3 berkenalan dengan listrik, solder, mur, baut yang sudah disediakan sekolah. Kemudian saat kelas 4 sudah mengenal bahaya dan tidak, mana yang boleh dipegang dan mana yang tidak boleh dipegang jika dialiri listrik. Dan ketika kelas 5 sudah bisa dilepas, artinya anak-anak sudah bisa membuat robot sendiri sesuai dengan keinginannya masing-masing tetapi masih dalam pengawasan guru pembimbing.
“Tahun ini yang mengikuti robotika dari kelas 3 sampai 6 ada 120 dari total 1000 murid di SD Muhammadiyah ini,” tandasnya.
Pembagian hari untuk esktrakurikuler robot berdasarkan kelas, yakni Rabu untuk kelas 5, Jumat untuk kelas 3-4, dan Sabtu kelas 6. Biasanya setiap kenaikan kelas, ada penyaringan untuk memetakan kemampuan Murid.
“Murid kelas 4-6 yang mengikuti lomba robotik sudah ada 23 prestasi mulai dari tahun 2009-2015,” kata guru yang mengajar tematik kelas 6 ini.
Manfaat dari mengikuti ekstrakurikuler robotik ini bisa menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi, kemandirian dan bisa menggali potensi diri lain selain dari akademik. Biasanya sebagai modal untuk sekolah ke SMP favorit mereka. Selain itu, membiasakan penghayatan nilai rohani, jika mereka mengikuti lomba selain berusaha juga berdoa, anak-anak disuruh sholat tahajud dan sholat hajat.
“Saya berharap, generasi muda ini bisa mampu berinovasi untuk pendidikan dan bisa memberikan kontribusi untuk bangsa dan negara di kancah internasional dengan berprestasi,” pungkasnya.
JURNALIS : CHAROLIN PEBRIANTI

Jurnalis Cendana News wilayah Jawa Timur. Gabung dengan Cendana News Mei 2015. 

Akun twitter : @charolineemoo
Lihat juga...