Hak dan Kewajiban Masyarakat Kendari, Pemadaman Bergilir dan Membayar Tepat Waktu

Jika tak memiliki jenset, siapkanlah timbunan sampah, bakarlah saat malam tiba, ketika mendapatkan hak pemadaman bergilir
KENDARI (2/11/2015)—Pemadaman listrik di kota Kendari seolah sudah jadi hak bagi masyarakatnya. Sudah bisa dipastikan setiap hari ada pemadaman di seluruh wilayah Kendari dengan cara bergantian. 
Jika buruh menuntut haknya atas kenaikan penghasilan, mereka harus demo. Kalau masyarakat Kendari, untuk mendapatkan haknya atas pemadaman bergilir tak perlu berdemo karena hak itu pasti diberikan setiap hari dengan durasi yang tidak main-main, minimal 3 jam. Jika tak mendapatkan hak di pagi hari, bisa dipastikan akan mendapatkan hak tersebut di siang, sore atau malam hari. 
Mengenai alasan terjadinya pemadaman bergilir ini, masyarakat sudah tidak mau tahu lagi. Karena masyarakat sudah mempercayakan terpenuhinya kebutuhan listrik kepada PLN (Pusat Listrik Negara). Dan PLN memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat Kendari. 
Tahun lalu, pemadaman listrik bisa terjadi tiga hari sekali atau seminggu tiga kali dengan durasi minimal 2 jam. Bisa terjadi pagi, siang, sore atau malam. Tetapi tahun ini semakin parah, terutama pada 3 bulan terakhir.
Sekarang ini masyarakat Kendari tidak hidup di zaman Flinstone, saat ini masyarakat Kendari pun sudah mulai mengalami perubahan menuju masyarakat jaringan-masyarakat digital. Kebutuhan akan listrik dan koneksi internet adalah hak hidup yang harus dipenuhi oleh pihak terkait. 
Pun, jika sebagian masyarakat lagi, belum menjadi bagian dari masyarakat jaringan, mereka tak membutuhkan jaringan internet dalam kehidupannya sehari-hari tetapi listrik, mereka sangat butuhkan. Peralatan utama apa di masa sekarang yang tak membutuhkan aliran listrik? Semuanya butuh listrik! Mulai dari peralatan dapur hingga peralatan kerja. 
Dan akhirnya, bagi mereka yang benar-benar membutuhkan listrik, mereka pun harus mengalah dengan mengupayakan alternatif lain sebagai sumber listrik yaitu jenset. Jenset bukan benda yang bisa beroperasi hanya dengan ditendang atau disiram air, jenset butuh bahan bakar untuk menggerakkannya, yang itu artinya butuh pengeluaran tambahan setiap harinya. 
Jangan lagi tanyakan masalah kerugian yang harus ditanggung, karena sesungguhnya kerugian bukan hanya biaya yang harus dikeluarkan untuk jenset. Tetapi kerugian waktu dan yang paling utama adalah psikologis. Semangat kerja yang bergelora bisa serta merta padam bersamaan dengan datangnya jadwal hak pemadaman listrik. 
Segala upaya sudah dilakukan oleh beberapa elemen untuk melakukan protes dan menuntut agar PLN memperbaiki kinerjanya, tetapi tetap saja, hak dan kewajiban masyarakat Kendari tetap harus seiring. Hak mendapatkan pemadaman bergilir dan kewajiban membayar tarif listrik dan atau mengisi token. 
Ada peribahasa “Jangan tanyakan apa yang negara berikan padamu tapi apa yang engkau berikan pada negara”. Peribahasa ini menyudutkan masyarakat banyak, seolah masyarakat tidak boleh menuntut pada negara sebelum masyarakat melakukan-memberikan sesuatu pada negara. Tapi, bukankah cinta, kesetiaan dan nasionalisme adalah persembahan terhebat seorang warga negara bagi negaranya? Maka apa yang bisa negara berikan atas semua cinta, kesetiaan dan nasionalisme itu?
Negeri ini sudah 70 tahun merdeka, hak untuk mendapatkan kemerdekaan menggunakan listrik setiap hari saja belum bisa dipenuhi! 70 tahun merdeka, masih belum merdeka membuat jadwal kerja sendiri, harus mengikuti kapan ada aliran listrik!

Penulis : Sari Puspita Ayu
Pimpinan Umum Cendana News dan Ketua Tim IT, Kreatif dan Komunikasi PT. Media Cendana Nusantara. Sudah 1 tahun tinggal di kota Kendari. 

Twitter : @saripuspitaayu 

Lihat juga...