Harga Jagung Melambung, Petani di Ponorogo Meraup Untung

Kebun jagung di Ponorogo
SURABAYA — Meningkatnya harga jagung disambut bahagia oleh petani. Tercatat harga di November satu kilonya Rp.4.250 meningkat dari sebelumnya Rp.3.200.
“Bulan September-Oktober harganya berkisar 3200-3500 rupiah. Ini kebetulan saya panen, langsung saya jual jagung pipil kering pas harga Rp.4.250,” terang Widodo (55 tahun) petani jagung di Desa Bungkal, Ponorogo kepada Cendana News, Rabu (18/11/2015).
Menurutnya, naiknya harga jagung sekarang ini, disebabkan karena banyaknya permintaan tetapi hasil panen dari petani sedikit. Hal ini dikarenakan tahun kemarin banyak petani yang menanam jagung mengalami gagal panen akibat penyakit bulai (putih daun) dengan ciri jagung tidak tumbuh normal dan tidak berbuah. Bulai jagung disinyalir akibat cuaca dan benih jagung itu sendiri, sehingga banyak petani beralih menanam komoditas lain.
“Tahun ini banyak petani yang menanam kedelai dan kacang hijau, sehingga pasokan pipil jagung kering berkurang dan mengakibatkan melambung tinggi,” ujarnya.
Yang menjadi kendala saat ini masalah pengeringan, pasalnya bulan November sudah memasuki musim penghujan. Jika jagung setelah digiling (pipil) tidak segera dijemur dan tidak kering maka bisa dipastikan bisa berjamur.
“Tapi bisa dipastikan tahun ini untung 60 persen, ini lebih baik dari tahun kemarin yang hanya 40 persen,” tandasnya.
Widodo menanam jenis jagung untuk pakan ternak, dengan luas lahan 1,5 Ha dan menjualnya dalam bentuk pipil jagung kering, hasil panenannya mencapai 6 ton jagung. Ia mengaku meskipun biaya operasional selama penanaman hingga penggilingan jagung berkisar 40 persen. Ia tetap mendapatkan keuntungan bersih 60 persen.
JURNALIS : CHAROLIN PEBRIANTI

Jurnalis Cendana News wilayah Jawa Timur. Gabung dengan Cendana News Mei 2015. 

Akun twitter : @charolineemoo
Lihat juga...