Hari Pahlawan, Ratusan Murid SD Kunjungi Museum Soeharto

Eza Rahmat Dani, siswa SD Muhammadiyah Kasuran mencatat hari lahir Pak Harto 
YOGYAKARTA — Museum Jenderal Besar HM Soeharto di dusun Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Selasa (10/11/2015) dibanjiri pengunjung. Mereka merupakan ratusan murid Sekolah Dasar dari berbagai wilayah di Yogyakarta yang begitu tampak sibuk mencatat beragam catatan penting sejarah bangsa ini semasa pemerintahan Pak Harto.
Ken Sarjono, SP.d, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Kasuran, Seyegan, Sleman, Yogyakarta, tampak sibuk mendampingi 80 siswa-siswinya di Joglo Musuem Soeharto. Ken mengatakan, puluhan siswa didiknya memang selalu diajak berkunjung ke Museum Soeharto pada setiap peringatan Hari Pahlawan sebagai upaya mengenang jasa-jasanya. 
Selain sebagai bagian pelajaran dari mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Pelajaran Kewarga-negaraan (PKN), Ken menuturkan, kunjungan itu juga sebagai upaya menanamkan nilai-nilai patriotisme kepada generasi muda.
Menurutnya, sebagai seorang guru sudah semestinya memberi bahan pendidikan yang bermanfaat, terutama dalam hal menumbuhkan jiwa kepahlawanan dan patriotisme. 
Ken mengungkapkan, dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan NKRI, Pancasila dan UU 1945 sebagai pondasi bangsa, jiwa patriotisme Soeharto sangat teruji. Pembangunan juga sangat terprogram dengan adanya GBHN. Pertanian makmur dan bisa swasembada pangan. Selain itu, katanya, kehidupan di semua sektor sangat sejahtera. Lapangan pekerjaan terbuka, dan pemerintahan begitu berwibawa. 
Sekarang, kata Ken, selepas Pak Harto pemerintahan seperti tidak punya arah dan tujuan. Tidak ada GBHN, dan wakil rakyat bahkan berkelahi ketika sedang rapat. Di zaman Pak Harto, katanya, semua itu tidak pernah terjadi. Demokrasi sekarang, menurut Ken, telah menimbulkan kebebasan yang tanpa batas, sehingga misyawarah mufakat justru tidak tercapai. Semua serba vooting. 
“Kita lihat selepas Pak Harto, Timur Leste justru lepas dari NKRI. Dan, itu melalui vooting referandum. Padahal, Pak Harto memperjuangkan persatuan dan kesatuan bangsa dengan pengorbanan darah, jiwa dan raga”, tandasnya.
Museum Jenderal Besar HM Soeharto, dibangun di bekas tanah kelahiran alm Soeharto. Berdiri di atas lahan seluas 3.620 meterpersegi, yang terdiri atas bangunan Joglo, Rumah Notosudiro dan Rumah Atmosudiro serta petilasan kelahiran Soeharto. 
Gatot Nugroho, Wakil Kepala Museum Soeharto 
Gatot Nugroho, Wakil Kepala Museum menjelaskan, Gedung Atmosudiro merupakan bangunan utama dari museum yang berisi semua hal tentang Pak Harto. Memasuki gedung tersebut, katanya, pengunjung akan disuguhi rangkaian visualisasi tonggak-tonggak penting perjalanan hidup Soeharto. Seperti memasuki lorong waktu, pintu masuk gedung dibuat lorong berbentuk rol film yang berisi masa kecil Soeharto sebagai anak desa. Lalu ada beberapa diorama yang mengisahkan peran penting Pak Harto dalam perannya sebagai pejuang sejak zaman Jepang. Juga ada diorama yang mengisahkan peran Soeharto dalam Serangan Umum 11 Maret 1949, peristiwa Trikora pembebasan Irian Barat, pengganyangan PKI 1965 yang berusaha menggulingkan pemerintahan yang sah, sampai proses Soeharto menjadi presiden. 
Selain itu, lanjut Gatot, juga dikisahkan dalam diorama peran Soeharto dalam membangun bangsa ini dengan sejumlah prestasinya sampai pada peristiwa lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan. Dengan berbagai peran penting Soeharto terhadap negeri ini, semestinya sejak dulu Soeharto juga digelari sebagai pahlawan nasional. Namun demikian, jika pun saat ini belum juga dianguerahi gelar pahlawan karena alasan politis dan lain-lain, baginya ribuan pengunjung di Museum Soeharto merupakan bukti, bahwa Soeharto adalah pahlawan. Dikagumi, dirindukan dan diteladani. 
“Bagi saya, rakyat-rakyat itulah yang sudah menganggap Pak Harto sebagai pahlawan. Bangsa ini adalah milik rakyat, bukan presiden atau kelompok tertentu”. tegasnya. 
Museum Jenderal Besar HM Soeharto diresmikan pada 8 Juni 2013., Jumlah pengunjung setiap bulannya mencapai ribuan orang. Di Yogyakarta, kata Gatot, Museum Soeharto termasuk 5 besar sebagai museum yang paling banyak dikunjungi. 

JURNALIS : KOKO TRIARKO

Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.

Akun twitter @KOKOCND
Lihat juga...