Hari Pahlawan, Tokoh HMI Ceritakan Pengalaman Hadapi PKI

JAKARTA — Budayawan senior yang juga mantan Ketua Umum PB HMI, Ridwan Saidi mengatakan, rakyat Indonesia, terutama Himpunan Mahasiswa Islam punya pengalaman dan luka sejarah ideologi yang dalam dengan parpol pembawa ideologi komunis.
“Situasi yang saya alami pada waktu itu sebagai aktivis HMI tahun 1962, setiap malam kita harus bekerja keras untuk menghadapi Cortem alias coretan tembok yang ditulis oleh PKI,”ujar Ridwan Saidi dalam diskusi memperingati Hari Pahlawan Nasional “Meneladani Kepahlawanan Para Aktivis Muslim dalam Mempertahankan NKRI” di Jalan Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (10/11/2015).
Saat itu, kata Ridwan, PKI menulis di tembok, HMI ganyang, HMI antek CIA, HMI Darul Islam Kota, dan banyak lagi yang mengibaratkan HMI tidak boleh ada di Indonesia. Dan aktivis terpaksa menghapus tulisan tersebut sebelum dibaca orang.
“Kadang kadang pukul 02:00 malam, kita dibangunkan hanya untuk menghadang demonstrasi dari pemuda rakyat, sayap pemuda dari Partai Komunis Indonesia ,” kata Ridwan
Menurut Ridwan, peristiwa yang paling besar adalah pada 28 september 1965 dimana puncak penutupan kongres DPP Partai Nasional Indonesia yang diadakan di Istora Senayan, Jakarta serta upaya pembubaran HMI. 
Ridwan Saidi mengungkapkan pada tahun 1975 dirinya bertemu dengan Leimena di Malang Jawa Timur. Om Jo sapaan akrab Leimena, menyampaikan bahwa strategi yang dipasang PKI saat itu antara lain. HMI dulu yang harus dipukul, dan dihancurkan, jika sudah dibubarkan, maka ormas yang lain akan dihancurkan.
“Ketika itu DN Aidit mengatakan kepada Dr Johannes Leimena bahwa kalau kamu tidak bisa membubarkan HMI, berarti kamu pakai sarung saja,” cerita Ridwan.
Bahkan Aidit menyebut HMI adalah ilalang atau tinja, kotoran yang harus dibersihkan dari Indonesia, Aidit berusaha keras menghasut Presiden Soekarno untuk membubarkan HMI.
Dr Johannes Leimena menentang Aidit dengan menyatakan apa kriteria kontra revolusi, menurutnya kontra revolusi adalah orang atau kekuatan yang menghalang halangi tercapainya tujuan revolusi.
Tujuannya, yakni masyarakat adil dan makmur yang berdasarkan pancasila, dia sebagai penganut kristiani, tidak pernah saksikan HMI melawan tujuan revolusi.
“Pikiran pikiran untuk membubarkan HMI adalah pikiran kontra revolusioner, jadi sangat prontal.
Sehingga bung karno mengatakan,  Jika HMI kontra revolusi, maka Saya bubarkan,”kata Ridwan mengulang ucapan Dr Johannes.
Sosok Johannes Leimena dimata Ridwan merupakan pahlwan yang jujur, patriotik sejati. Kalau bukan Dr Johannes Leimena yang menghadang, maka hmi saat itu bernasib sama dengan barisan badan pendukung sukarnoisme (BPS). BPS adalah pers yang anti komunis, digalang oleh berita indonesia. Merupakan sekolompok pers yang melawan PKI pada zaman itu.
“BPS dibubarkan Bung Karno karna provokasi PKI,”tutur ridwan.
Dikatakan, dalam praksis penyelenggaraan, komunisme sangat eksis di dua negara besar, yakni Rusia dan China. Namun, sungguh aneh, sekarang justru NKRI ini kembali hendak berkiblat ke Cina. Sumber daya alam (SDA) negara ini tampaknya hendak diserahkan untuk dikelola oleh para pebisnis Cina, baik yang domisili di dalam negeri maupun dari cina langsung, termasuk akan kebijakan yang menjadikan warga cina berbondong-bondong ke negara ini.
Disebutkan, Seharusnya Jokowi menganulir semua kebijakan pemberian kemudahan terhadap negara yang pernah secara ideologi membahayakan bangsa ini.
“Jadi terus terang pemerintahan sekarang ini udah jompo, udah tinggal kita bacain yasin aja, jompo di pemerintahan tapi bukan negara. Untuk urusan nkri, kita mesti berjuang sampai titik darah penghabisan,” tutupnya.
JURNALIS : ADISTA PATTISAHUSIWA

Jurnalis Cendana News wilayah DKI. Jakarta. Bergabung dengan Cendana News pada Juni 2015. Sebelum bergabung dengan Cendana News, jurnalis di beberapa media lokal dan nasional. 

Akun twitter : @dinopattisdebby
Lihat juga...