Kayu Bakar Masih Diminati Masyarakat dan Pengusaha Rumah Makan

Kayu Kopi jadi Kayu Bakar
LAMPUNG — Penggunaan kayu sebagai bakan bakar untuk memasak masih diminati oleh masyarakat di pedesaan meskipun sebagian sudah beralih ke tabung elpiji. Tidak ketinggalan pengusaha khususnya yang memiliki restoran, warung makan seperti yang ada di wilayah Gisting Kabupaten Tanggamus,Kabupaten Pringsewu Provinsi.
Salah satu pemilik rumah makan di Jalan Lintas Barat Kecamatan Gisting Bawah, Sodikin (45) mengaku masih memanfaatkan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak
“Memasak menggunakan kompor gas memang masih kami lakukan namun penggunaan kayu bakar juga tetap kami pertahankan sebab untuk lebih menghemat terutama untuk merebus air, memasak daging, menanak nasi serta memasak bahan makanan yang membutuhkan waktu lama,”ungkap Sodikin kepada Cendana News, Kamis (12/11/2015).
Sodikin yang memiliki usaha warung makan bersama sang isteri, Imah (43) mengakui membeli kayu bakar dari warga yang ada di beberapa pekon di Gisting Atas atau wilayah Sumber Reji yang berada di kaki Gunung Tanggamus. Sepekan sekali ia memesan sebanyak 100 ikat kayu bakar yang biasanya dari jenis kayu kopi, kayu medang, serta jenis kayu keras lainnya yang dibeli dari warga dengan sistem borongan sebanyak satu kendaraan L300 yang bisasanya dibeli dengan harga Rp450ribu.
“Saya memilih kayu bakar untuk efesiensi karena kalau menggunakan elpiji pasti akan membengkak biaya operasionalnya, selain itu harga elpiji dari waktu ke waktu makin mahal belum lagi saat langka elpiji,”ungkapnya.
Memasak menggunakan kayu bakar diakuinya lebih cepat matang dan memiliki keistimewaan dalam cita rasa. Ia bahkan mengakui pengolahan makanan dengan menggunakan kayu bakar untuk memasak rendang atau jenis makanan lain yang disajikan untuk pelanggannya lebih lezat dibandingkan dengan kompor gas.
Sementara itu, Johan (45) salah satu penjual kayu bakar mengungkapkan, penggunaan kayu bakar di wilayah Gisting masih tetap dipertahankan masyarakat. Ia bahkan mengakui peningkatan penjualan kayu bakar terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Ia bahkan mencatat bisa menjual sekitar 50 hingga 100 ikat kayu bakar per hari. Pembelinya terutama pemilik usaha ruah makan, pemilik usaha kerajinan batu bata, perajin usaha makanan, pemilik usaha rumah tangga pembuatan keripik serta ibu rumah tangga.
“Dalam sehari saya bisa menjual sekitar 50-100 ikat kayu bakar dan akan lebih meningkat jika terjadi kelangkaan tabung gas elpiji dan kenaikan harga gas elpiji,” ungkapnya kepada media CDN.
Tingginya  permintaan kayu tersebut memberi dampak postif bagi laki laki yang memiliki kebun di lereng Gunung Tanggamus tersebut. Akibat meningkatnya permintaan, harga kayu bakar naik dari Rp 2.500 menjadi Rp 3000 per ikat. Selama ini, ia mendapatkan kayu bakar dari kebun miliknya terutama dengan menebang kayu kopi yang akan diremajakan serta kayu pala serta kayu pohon cengkeh.
“Kayu kayu pohon kopi yang sudah akan diganti dengan tanaman baru kami tebang, selain itu ranting ranting pohon kayu besar yang akan digunakan untuk balken atau kayu bahan bangunan kami beli dari pengusaha kayu,”ungkapnya.
JURNALIS : HENK WIDI

Bergabung dengan Cendana News pada bulan November 2014. Dengan latar belakang sebagai Jurnalis lepas di beberapa media dan backpacker, diawal bergabung dengan Cendana News, Henk Widi fokus pada pemberitaan wisata dan kearifan lokal di wilayah Lampung dan sekitarnya.

Twitter: @Henk_Widi
Lihat juga...