Kemarau Panjang, Petani di NTT Alami Gagal Panen


FLORES — Kemarau panjang hampir lima bulan terakhir menyebabkan puluhan hektar tanaman padi di dua desa di NTT mengalami gagal produksi. Hal ini dialami oleh para petani di Desa Jaong dan Ngkaer, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, Flores Barat.
Salah seorang petani di Desa Jaong, Bahur kepada Cendana News menuturkan, tanaman padi di desanya yang berpotensi masih bisa dipanen pada musim ini diperkirakan hanya sekitar 4 hektar. Ia mengklaim, sebagian besar lahan telah mengalami kondisi gagal produksi. 
“Secara keseluruhan luas lahan bisa mencapai 20-an hektar. Tapi saya lihat yang masih bisa dipanen tidak lebih dari 4 hektar lahan. Sekitar itu kalau saya lihat dari kondisi padi yang ada sekarang,” tutur Bahur, Jumat (06/11/2015).
Disebutkan, tanaman padi di desanya seharusnya sudah berbunga pada saat ini. Penurunan debit air akibat dilanda kemarau yang terlalu lama menyebabkan hal tersebut tidak terjadi. Sejauh ini debit air di saluran menuju lokasi persawahan yang ada hanya tinggal sedalam 20 sentimeter dari yang biasanya bisa mencapai kedalaman lebih dari 1 meter. Terlampau ekstrimnya keadaan malah telah membuat banyak tanaman padi mengalami kekeringan.
“Biasanya padi sudah berbunga sekarang. Tapi mau bagaimana, air di saluran saja sudah sangat turun, malah di bawah 30 sentimeter,” ungkapnya.
Sementara itu, hujan yang selama beberapa hari ini sesekali sudah mulai turun, Bahur melihat, hal tersebut tidak akan mengubah kondisi yang ada. 
“Memang kita lihat sekarang hujan mulai turun. Tapi tidak ada guna, saya rasa. Lebih baik kering terus saja sampai habis tahun ini. Keadaan sudah terlanjur rusak,” celoteh Bahur pasrah.
Keadaan serupa diinformasikan sebelumnya terjadi pula di Desa Ngkaer. Lamber Tali, salah seorang warga setempat mengatakan, kekeringan yang terlalu lama ini sudah menyebabkan belasan hektar lahan di Lingko Tapa Ela di desanya tidak lagi teraliri air. Hal ini berdampak buruk pada banyaknya tanaman padi di wilayah tersebut yang mengalami kekeringan.
“Kemarau sudah terlalu lama ini. Itu di Lingko Tapa Ela, air sudah tidak ada lagi. Itu hari kita sempat tanam, tapi ternyata kekeringan ini panjang. Sekarang semua tanaman padi tidak ada yang bisa diharapkan lagi,” ungkap Lamber beberapa hari sebelumnya di Kampung Inenggaja.[JURNALIS : FONSI ECONG]
Lihat juga...