Kemiskinan, Korupsi dan Narkoba di Maluku Memprihatinkan

Ali Roho Talaohu, S.IP, M.I.Pol
AMBON — Tiga virus sosial kronis nampaknya sudah lama bersarang di organ masyarakat Maluku. Utamanya lagi mengendap di tubuh elit birokrat, politisi dan konglomerat. Tiga penyakit sosial yang merambah jiwa masyarakat di Provinsi seribu pulau itu adalah kemiskinan, korupsi dan peredaran narkoba.
Hingga saat ini, belum ada penawarnya bahkan sangat mengkwatirkan dan menjadi ancaman serius bagi generasi berikut di tanah para Raja-raja itu. Dari berbagai informasi yang diperoleh Cendana News di Ambon Sabtu (14/11/2015) menyebutkan, kemiskinan, korupsi dan peredaran narkoba sudah lama berlangsung.
Sehingga skala Indoneisa atau nasional, Provinsi Maluku dinobatkan pada peringkat ke tiga daerah termiskin, terkorup dan mudah terjadi peredaran narkoba.
Pelaksana Tugas Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Darussalam (Fis Unidar) Ambon,  yang juga dosen ilmu pemerintahan/politik, Ali Roho Talaohu, S.IP, M.I.Pol saat diwawancarai Cendana News di Ambon menegaskan, dari aspek kemiskinan, Maluku dengan potensi kelautan dan wilayah pesisir menjadi potensi kesejahteraan, namun menjadi paradoksial.
Dalilnya, karena aspek infrastruktur pesisir dan penciptaan pasar demi menjawab kesejahteraan tidak tercapai. Apalagi, konsep gugus pulau yang digagas oleh pemerintah daerah ternyata sampai saat ini belum juga di implementasikan. 
“Pemerintah harus mendorong tumbuhnya investasi lokal,” tukasnya.
Dari aspek korupsi, menurut Ali, sudah ditetapkan menjadi kejahatan luar biasa. “Ini menjadi isu nasional, KKN salah satu penyebab rakyat sengsara. Karena penyalahgunaan keuangan negara untuk kepentingan politik dan perseorangan,” tegasnya.
Sebagian besar, lanjut Ali, para elit atau pejabat lokal di Maluku dikaitkan dengan isu korupsi, sehingga implikasi dari itu, semua politik anggaran tidak mengarah kepada kepentingan masyarakat.
“Karena anggaran lebih banyak kepada proses transaksional, dan melupkan substansi pembangunan manusia dan pembangunan infrastruktur di Maluku,” cetusnya.
Dari aspek pengedaran narkoba, hampir sama dengan korupsi. Alasannya, secara medis ini modus melumpuhkan semangat dan daya saing generasi secara regional.
Solusi dari aspek kemiskinan, di menawarkan yang paling prioritas adalah impelemntasi konsep pembangunan yang telah ditetapkan dan direncanakan oleh pemerintah daerah.
“Karena akan berhubungan dengan upaya pemerintah yang serius dalam mendorong peningkatan pendapatan asli daerah. Termasuk, berhubungan dengan pembiayaan baik fisik maupun non fisik,” jelasnya.
Guna mengobati korupsi dan peredaran narkoba yang akut di Maluku, akademisI Unidar Ambon ini berasumsi, harus ada yang merubah minsedt atau paradigma berpikir elit birokrasi terhadap pelayanan publik.
Alasannya, hal tersebut harus ada juga dorongan dari elemen lain, sehingga birokrasi bisa mandiri dalam hal ini konsep mewirausaha birokrasi agar dapat menjadi solusi untuk memutus mata rantai tiga penyakit sosial yang kini akut bersarang di sendi Maluku.
Disamping itu, harus ada penanaman nilai-nilai moral agar masyarakat dapat memahami tugas masing-masing secara baik. Selain itu, pengawasan publik menjadi penting dalam kaitanya dengan ruang publik yang terbuka agar semua orang bisa mengawasi para pejabat atau eit birokrat di Maluku.
Lanjutnya, aspek preventif untuk menanggulangi masalah peredaran narkoba di Maluku kekiniaan, diperulkan pula penanaman nilai-nilai karakter dengan inovasi. Misalnya, penguatan isu-isu lokal yang kuat dari segi kulutur, sehingga bisa menjadi benteng bagi perubahan dan ketahanan generasi muda Maluku kedepan.


JURNALIS : SAMAD VANATH SALLATALOHY

Jurnalis Cendana News wilayah Maluku. Sebelum bergabung dengan Cendana News sudah menjadi jurnalis di beberapa media cetak lokal. Bergabung Cendana News mulai pertengahan 2015.

Akun twitter : @vanlohy
Lihat juga...