Kenalkan Berbagai Topeng, Museum Sonobudoyo Gelar Pameran

Pengunjung mengamati koleksi topeng

YOGYAKARTA — Tak ingin koleksi topeng tua dan bersejarah hanya tersimpan di ruangan, Museum Sonobudoyo Yogyakarta menggelar pameran selama sembilan hari ke depan sejak Jumat (20/11/2015) dengan tema The Power of Topeng.

Dalam pameran tersebut dipajang 500 topeng yang berasal dari berbagai zaman dan dilengkapi secarik kertas yang berisi tentang sejarahnya.

“Tahun ini kita pilih topeng kayu untuk dipamerkan, dengan kurator topeng I Wayan Dana. Koleksi topeng milik Sonobudoyo sendiri ada sekitar 600-an buah, terdiri dari topeng panji, ramayana, mahabarata, dan berbagai versi lainnya. Juga ada topeng yang pada zamannya digunakan untuk ritual”, jelasnya.

Namun demikian, lanjut Agung, dalam pameran kali ini tidak semua koleksi topeng milik Sonobudoyo dipamerkan. Melainkan hanya sebanyak 94 buah dan lainnya merupakan koleksi pribadi dari pencinta topeng seperti Didi Nini Thowok, Tedjo Badut, Museum Anak Kolong, dan sejumlah seniman lainnya serta dari Keraton Yogyakarta sebanyak 20 buah yang dianggap istimewa.

Agung mengatakan, koleksi topeng milik keraton warisan Sultan HB VII itu dianggap istimewa karena hanya terbuat dari kertas, namun bisa awet selama puluhan tahun.

Koleksi topeng, kata Agung, pameran ini juga untuk mengingatkan topeng emas dari zaman Majapahit yang hilang dicuri dari Museum Sonobudoyo lima tahun silam. Kendati sudah lima tahun berlalu, kata Agung, pihak museum masih belum menganggap kasusnya itu sudah kedaluarsa.

“Museum masih menganggapnya sebagai koleksi yang hilang dan belum mencoretnya dari daftar koleksi”, jelasnya.

Dengan alasan itu pula, sambung Agung, pihak museum saat ini sengaja tidak mempublikasikan riwayat topeng secara rinci, terutama dari aspek tahun pembuatan karena masih trauma dengan peristiwa hilangnya topeng emas Majapahit. Sebab, dari sistem pengamanan museum masih belum memadai.

Sementara itu, berbagai topeng yang dipamerkan antara lain topeng dengan latar belakang kisah panji di zaman Majapahit, Ramayana, Mahabarata, dan beragam topeng unik yang dibuat untuk sebuah ritual. Bahkan juga ada topeng perwujudan wewe atau makluk halus paling ditakuti di masyarakat Jawa, dan tokoh kuno Jro Gde dan Jro Luh, yang merupakan dua tokoh terkenal dalam khasanah budaya Bali.

Agung menjelaskan, topeng-topeng panji merupakan topeng yang paling populer di zaman Majapahit yang digunakan dalam kisah-kisah percintaan yang penuh penyamaran dan pengorbanan yang cukup menegangkan.

Sedangkan, topeng-topeng ramayana merupakan topeng yang dibuat dengan latar budaya Hindu yang kuat, di antaranya untuk menggambarkan tokoh-tokoh raksasa, hewan dan lainnya. Adapun tokoh mahabarata, banyak menggambarkan tokoh-tokoh pewayangan yang sangat dikenal di kalangan masyarakat Jawa, misalnya buto cakil dan sejenisnya.

Melalui pameran ini, kata Agung, masyarakat diharapkan bisa lebih mengenal kekayaan budaya bangsa.

Pengunjung mengamati koleksi topeng

JURNALIS : KOKO TRIARKO

Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.

Akun twitter @KOKOCND

Lihat juga...