Kenang Ignatius Slamet Riyadi, Kodam XVI Pattimura Gelar Upacara

Upacara Peringatan Jasa Almarhum Brigjen TNI Anumerta Ignatius Slamet Riyadi, dipimpin Pangdam XVI Pattimura, Doni Monardo
AMBON — Memperingati jasa perjuangan Pahlawan Nasional, Brigjen TNI Anumerta Ignatius Slamet Riyadi, yang wafat di Ambon pada 3 November 1950, Kodam XVI Pattimura Selasa (3/11/2015)  menggelar upacara di Markas Detasemen Kaveleri-5/Blc.
Pangdam XVI/Pattimura, Mayjen TNI Doni Monardo dalam sambutannya mengatakan, sejarah adalah guru kehidupan, dan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya.
“Mari belajar dari sejarah masa lalu, kita dapat memahami nilai-nilai luhur perjuangan yang telah diwariskan oleh Pahlawan Nasional, Brigjen TNI Anumerta Ignatius Slamet  Riyadi  yang dengan semangat kebangsaan mempertahankan kemerdekaan Indonesiam”sebutnya.
Menurut Pangdam, perjuangan yang dilaksanakan oleh Slamet Riyadi meninggalkan beberapa warisan yang patut dibanggakan.
Pertama, tradisi selalu berhasil memenangkan pertempuran. Slamet Riyadi adalah satu-satunya komandan pertempuran yang mulai tahun 1949-1950 berhasil memenangkan pertempuran di tiga Palagan antara lain membebaskan kota Solo dari cengkraman Belanda.
Letkol Slamet Riyadi tidak pernah melarikan diri dari kejaran Belanda karena kemampuannya dalam mengantisipasi dan menetapkan kapan waktu untuk menyerang dan kapan harus menghindar.
Kedua, kreatif dan Inovatif dalam kehidupan keprajuritan. Slamet Riyadi merupakan sosok perwira yang langka. Pada saat bertugas menghadapi tentara Belanda, dia masih sempat menuliskan buku : “Taktik Gerilya’’.
“Ketika bertugas dalam penumpasan pemberontakan di Ambon, dia sempat memberikan gagasan untuk membentuk Pasukan Khusus agar ketika Prajurit TNI harus bertempur, mereka dapat dengan cepat memenangkannya dengan korban jiwa yang sangat sedikit,” jelas Pangdam.
Selain itu, sikap rela mengorbankan jiwa dan raganya demi keberhasilan pelaksanaan tugas. Ketika berdialog dengan Letkol Soediarto yang merasa akan gugur dalam penugasannya kali ini.
Mengutip pernyataan almarhum Slamet Riyadi membantah, “Ora, aku lebih dulu, karena di sini aku Komandan. Aku akan gugur setelah menguasai Ambon”. Hal ini menunjukkan bahwa meski Slamet Riyadi mengetahui betapa besar resiko dalam pertempuran yang dipimpinnya, namun dia sama sekali tidak takut dan gentar dalam melaksanakan tugas.
Acara dilanjutkan menuju Desa Tulehu Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah guna mengetahui fakta sejarah.
Tulehu adalah tempat dimana awal mula kedatangan sampai dengan wafatnya Brigjen TNI Anumerta IGN Selamet Riyadi di Maluku.
Pada kesempatan itu juga Letda Purn Suhadi selaku kerabat seperjuangan Pahlawan Nasional tersebut, menceritakan secara detail mengenai semangat perjuangan yang di kobarkan oleh seorang Pahlawan besar seperti IGN Selamet Riyadi.
Turut hadir dalam upacara tersebut,  Kadis Bintalad, Kadis Jarahad, Letjen TNI (Purn) Yohanes Suryo Prabowo.Mewakili keluarga Brigjen TNI  Anumerta Ignatius Slamet Riyadi, Kolonel Purn Aloysius Sugianto, Kolonel Purn Soejoto serta Bapak Letda Purn Suhadi selaku kerabat seperjuangan akmarhum.
Wakil Gubernur Maluku, Xeth Sahuburua dan Forkopimda Maluku, Ketua DPRD Provinsi Maluku, Kasdam beserta Aisten dan Kabalakdam, Forkompinda Kota Ambon, Para Pimpinan Universitas, Prof Dr Jhon Pattikaihatu dan Civitas Akademika, Para pejabat TNI/Polri, Pemprov Maluku, Pemkot Ambon, Para Veteran dan Pepabri, Para Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama dan Tokoh Pemuda Kota Ambon.
JURNALIS : SAMAD VANATH SALLATALOHY

Jurnalis Cendana News wilayah Maluku. Sebelum bergabung dengan Cendana News sudah menjadi jurnalis di beberapa media cetak lokal. Bergabung Cendana News mulai pertengahan 2015. 
Akun Tiwitter @vanlohy
Lihat juga...