Kisruh Freport Bentuk Leluasanya ‘Roving Bandit’ Keruk Kekayaan Negara

Haris Rusly
JAKARTA — Aktivis Petisi 28, Haris Rusly menilai Kisruh PT Freeport merupakan gambaran faktual tentang leluasanya para bandit politik merampok kekayaan negara dengan memanfaatkan rusaknya tatanan politik dan lemahnya kepemimpinan Presiden.
Haris menyebut, Bandit politik alias ‘Roving Bandit’, dibawah pemerintahan rezim ini adalah para politisi yang bekerja secara intensif untuk mencuri kekayaan negara dan merusak tatanan sosial-politik kenegaraan.
“Rezim Joko widodo, adalah era berkuasanya Roving Bandit, yang sangat leluasa beroperasi merampok kekayaan dalam sebuah negara tanpa sistem, tanpa tegaknya nilai-nilai dan moral, tanpa tegaknya aturan,” sebut haris dalam rilis yang diterima Cendana News di Jakarta, Senin (23/11/2015).
Dirinya mengatakan, di era reformasi ini, Presiden dan DPR adalah pihak pembuat aturan, namun mereka adalah pihak pertama yang melanggar aturan yang mereka buat sendiri.
“Penegak hukum adalah pihak yang mengawal tegaknya aturan yang telah dibuat eksekutif dan legislatif, namun mereka adalah pihak pertama yang melumpuhkan aturan yang seharusnya ditegakan,” ungkapnya
Bandit politik atau roving bandit sambung dia, yang merampok kekayaan negara tersebut, mereka juga beroperasi merusak tatanan sosial, politik dan hukum.
Rusly mencontohkan, dikabulkannya gugatan pra peradilan Komjend Budi Gunawan, yang kini telah menjadi bola liar melumpuhkan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi.
Dijelaskan, kemunafikan dan kerusakan moral juga ditularkan oleh para bandit politik yang tidak teguh dalam memegang janji politik seperti Presiden menyerukan revolusi mental, namun di saat yang sama merusak mental masyarakat melalui memberi teladan sebagai pemimpin yang ingkar janji dan bergantung pada modal dan industri asing.
Agar bangsa Indonesia selamat rongrongan asing, sambung Rusly, maka dibutuhkan bangkitnya generasi baru dan lahirnya kekuatan baru.
“Semoga akan bangkit generasi yang berpegang teguh pada Pancasila sebagai nilai-nilai, bukan Pancasila sebagai kepentingan dan tameng yang digunakan oleh sekelompok orang untuk merampok dan menjual negara,” tutupnya.
JURNALIS : ADISTA PATTISAHUSIWA

Jurnalis Cendana News wilayah DKI. Jakarta. Bergabung dengan Cendana News pada Juni 2015. Sebelum bergabung dengan Cendana News, jurnalis di beberapa media lokal dan nasional. 

Akun twitter : @dinopattisdebby
Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto : doc pribadi Haris Rusly
Lihat juga...