Kokohkan Kerukunan, Kampung Multikultur akan Dibangun di Maluku

Direktur LAIM DR. Abidin Wakano
AMBON — Belajar dari konflik horizontal 1999 hingga 2004 yang melanda masyarakat Maluku, seluruh pihak susah payah mendamaikan kedua bela pihak. Aneka format rekonsiliasi dilakukan untuk menjadi blue print, guna menghadirkan dan mengokohkan hubungan persaudaraan antar kerukunan umat beragama atau perdamaian sejati di tengah Provinsi berjuluk seribu pulau tersebut, agar tidak kembali hancur.
Salah satunya, membangun Kampung Multikultur di Provinsi yang kental dengan budaya Pela dan Gandong tersebut. Ide ini datang atau digagas oleh Lembaga Antar Iman Maluku (LAIM). ide ini digagas LAIM bertujuan agar menjadi ikon dari laboratorium kerukunan antar umat beragama di Maluku.
“Kampung Multikultur yang akan dibangun LAIM, agar Maluku menjadi kiblat perdamaian bukan hanya di Indonesia tapi juga internasional,” terangnya saat diwawancarai Cendana News di Ambon, Sabtu (28/11/2015).
Direktur LAIM DR. Abidin Wakano juga Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku menerangkan, ide membangun Kampung Multikultur telah digagas oleh LAIM jauh-jauh hari, namun baru sekarang bisa diwujudkan.
Abidin Wakqno yang juga akademisi asal Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon ini menjelaskan, Provinsi Maluku pra 1999 terkenal dengan wilayah jarang sekali terjadi benturan (konflik interest) antar warga.
“Namun hubungan persaudaraan masyarakat Maluku yang rukun itu harus menelan pil pahit dan menjadi renggang, akibat diterpa konflik horizontal pada 1999,”sebutnya Sejarah kelam tersebut, lanjutnya, maka masyarakat Maluku yang awalnya hidup sangat rukun di Indonesia dengan modal budaya pela dan gandongnya, akhirnya retak akibat konflik horizontal pada 1999 – 2004.
“Banyak hal yang bisa dipelajari dari Maluku terkait upaya merajut perdamaian kembali. Kita tidak lagi bicara perdamaian karena orang-orang tidak berkonflik, tapi melakukannya dengan perdamaian aktif, saling menopang, membanggakan dan menghidupkan satu sama lain,” jelas Abidin.
Sementara itu, menyangkut pembangunan Kampung Multikultur juga disambut positif oleh Pemprov Maluku. Gubernur Maluku mengakui, dirinya akan mencari lokasi untuk pembangunan Kampung Multikultur yang digagas oleh LAIM.
“Saya ingin Kampung Multikultur sudah mesti dibangun pada 2017. Hal ini akan menjadi contoh dari bentuk fisik kerukunan hidup antar umat beragama di Maluku,” kata Gubernur Maluku, Said Assagaff di Ambon, Sabtu (28/11/2015).
Menurutnya, Kampung Multikultur yang menjadi contoh dari upaya terus memperjuangkan kerukunan hidup masyarakat Indonesia, akan ditempati sebanyak 200 kepala keluarga (KK) dengan latar belakang etnis dan agama yang berbeda-beda.
“Yaitu100 dari 200 KK merupakan etnis dan sub etnis yang berada di Maluku, sisanya berasal dari suku-suku yang ada di Nangroe Aceh Darussalam hingga Papua Barat,” sebutnya.
JURNALIS : SAMAD VANATH SALLATALOHY

Jurnalis Cendana News wilayah Maluku. Sebelum bergabung dengan Cendana News sudah menjadi jurnalis di beberapa media cetak lokal. Bergabung Cendana News mulai pertengahan 2015.

Akun twitter : @vanlohy
Editor : ME. Bijo Dirajo / Fotografer : Samad Vanath Sallatalohy
Lihat juga...