Komunitas Sleman Berdaya Kritik Kekerasan dalam Pilkada

Edi Susilo, Kordum berorasi 
YOGYAKARTA — Aksi kekerasan dalam kampanye Pilkada 2015 menuai kritik dari massa yang terdiri dari sekelompok mahasiswa dan pemuda mengatas-namakan diri Komunitas Sleman Berdaya (Berdikari dan Berbudaya) Yogyakarta dengan menggelar aksi unjuk rasa di Bunderan Universitas Gadjah Mada (UGM)
Mereka menuntut agar pihak kepolisian mengusut tuntas pelaku kekerasan terhadap warga pengguna jalan ketika berkampanye mendukung salah satu pasangan calon dalam Pilkada Sleman 2015.
Koordinator umum massa Sleman Berdaya,  Edi Susilo mengatakan, aksi tersebut digelar sebagai bentuk keprihatinan terhadap masih adanya praktik kekerasan yang terjadi dalam kampanye Pilkada 2015 di Sleman, Yogyakarta. 
Edi mengatakan, kekerasan itu menimpa pengguna jalan sehingga kampanye yang seharusnya menjadi pesta demokrasi justru menjadi teror psikologis bagi masyarakat. Terlebih lagi, aksi kekerasan itu terjadi di Sleman, Yogyakarta, yang merupakan kota keberagaman dan menjadi barometer nasional dari solidaritas dan kemajemukan.
“Jika kekerasan terus terjadi dalam masa kampanye Pilkada, maka akan menjadi sebuah ironi. Pilkada sebagai pesta demokrasi justru menjadi teror bagi masyarakat. Sebab, kekerasan selalu menimpa pengguna jalan dan tidak mengenal umur. Siapa pun bisa menjadi korban seperti yang beberapa waktu lalu terjadi”, ungkapnya Jumat (27/11/2015), sore,.
Dikatakan pula, masyarakat menginginkan pesta demokrasi menjadi selayaknya pesta yang menyenangkan. Namun dengan adanya aksi kekerasan dalam kampanye, Edi mengaku khawatir jika dibiarkan akan membuat masyarakat tidak akan peduli lagi dengan agenda demokrasi berupa Pilkada atau pemilu lainnya.
Karena itu, pihaknya menuntut agar pihak berwenang mampu bertindak tegas terhadap pelaku kekerasan tanpa pandang bulu. Kekerasan, kata Edi, tidak mencerminkan perilaku beradab dan berbudaya yang selama ini telah melekat di masyarakat Sleman. 
“Kami ingin Pilkada 2015 di Sleman berlangsung lebih beradab dan berbudaya dan aman nyaman tanpa ada kekerasan”. Pungkasnya. 
JURNALIS : KOKO TRIARKO

Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.

Akun twitter @KOKOCND
Editor : ME. Bijo Dirajo / Fotografer : Koko Triarko
Lihat juga...