Mantan OB Ini Gigih Memperjuangkan Hak Rakyat Miskin Mendapat Aliran Listrik

Iwan Susanto, kemeja biru.
INSPIRASI—Siapa yang mengira jika yayasan yang konsisten memperjuangkan hak semua warga Madiun khususnya dan Jawa Timur pada umumnya untuk mendapatkan aliran listrik, adalah yayasan  sosial yang didirikan oleh mantan Office Boy. 


Adalah Iwan Susanto, lelaki kelahiran Madiun tahun 1972 yang terpaksa putus sekolah ketika ia menginjak kelas III SMA karena ayahnya yang pensiunan ABRI (sekarang TNI) meninggal dunia. Walaupun sepeninggal ayahnya, sang ibu berusaha keras dengan berjualan kue untuk memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya, tetap saja tidak mencukupi. Setelah merasa terlalu berat jika tetap bertahan hidup di kota kelahirannya, Iwan pun memutuskan merantau ke Yogyakarta untuk mencari kehidupan baru pada tahun 1989. 
Untuk bertahan hidup di Yogyakarta, Iwan mulai bekerja sebagai OB (Office Boy) di sebuah kantor milik cucu Panglima Besar Jenderal Sudirman. Bermula dari pekerjaan inilah ia akhirnya dilibatkan dalam proyek jaringan listrik dan pemancar televisi pada tahun 1992, yang akhirnya menjadi titik awal baginya meraih kesuksesan demi kesuksesan.


Ketika sudah meraih sukses, Iwan sadar masih banyak masyarakat yang tidak seberuntung dirinya. Tanpa berfikir panjang, ia pun memulai kerja sosialnya seorang diri pada awal tahun 2010. Dan masalah yang paling menarik perhatiannya adalah tidak meratanya hak mendapatkan aliran listrik bagi warga Madiun dan sekitarnya. 
Untuk mendapatkan data yang lebih jelas dan detail, ia pun melakukan pendataan dari desa ke desa dan alangkah terkejutnya ia ketika mendapati Desa Giringan yang masih gelap, padahal di wilayah tersebut berdiri megah sebuah PLTA. Masalah yang dihadapi oleh semua warga yang rumahnya masih “gelap” adalah sama, yaitu tidak memiliki biaya untuk pemasangan jaringan listrik. 
Baca Juga
Yayasan Terang Untuk Bangsa
Istilah rumah-kampung-desa yang masih gelap inilah yang menjadi ide bagi Iwan untuk menyebut dirinya sebagai anak bangsa yang ingin membawa “terang” bagi warga di sekitarnya. Dengan dana pribadi sebesar 115 juta, ia pun memulai berbagi “terang” bagi mereka yang masih merasakan “gelap”. Dengan dibantu oleh beberapa relawan yang tulus bekerja tanpa meminta imbalan apapun, Iwan pun mampu menerangi rumah 1300 KK di 8 Kecamatan 11 Desa dengan bantuan aliran listrik PLN dengan daya 450 Watt.
Tapi kebaikan tak selalu dipandang baik oleh orang lain, isu negatif pun menghantam Iwan dan ketika isu yang bergulir mulai memasuki ranah politik, Iwan memutuskan untuk menghentikan kegiatannya. Di saat itulah, salah seorang teman menyarankan Iwan untuk mendirikan sebuah Yayasan sebagai bendera formal kegiatan sosial yang selama ini dilakukan.
Ia pun mengikuti saran teman-temannya dan berdirilah Yayasan Terang Untuk Bangsa atau Yayasan TUB yang kini beranggotakan 15 orang dan beberapa relawan yang tersebar di kabupaten Madiun, Ponorogo dan Magetan. Markas, demikian Iwan Susanto memberi istilah bagi kantor yayasannya berada di Jl. Raya Dungus KM.03 Ds.Mojopurno, Kab. Madiun, Jawa Timur. 
Bicara masalah kendala sangatlah banyak sekali, mulai dari hak teknik pemasangan yang bertele-tele sampai harus ada terbit SLO yang menggandeng pihak swasta dengan alasan keamanan-keselamatan. “Kalau kami menurut, akan ada biaya tambahan yang tidak sedikit di luar biaya materai dan biaya penyambungan PLN”, Lanjut Iwan. 
Belum lagi ditambah dengan hingar bingar Pilkada yang seringkali memanfaatkan warga miskin sebagai ‘kendaraan” menuju kursi impiannya sehingga yayasan saya sering diisukan macam-macam tetapi saya tidak peduli, program tetap saya lanjutkan dengan modal menjual aset berupa rumah di Klaten, Jawa Tengah.

“Semula istri menentang tetapi setelah saya jelaskan bahwa kita harus gigih menjalankan misi kemanusiaan ini akhirnya istri saya pun bisa mengerti dan pada tahun 2012 hasil kerja keras Yayasan TUB berhasil memberikan “terang” bagi 2650 KK,” pungkasnya.

Demikianlah Yayasan TUB berdiri, berproses dan mencapai impiannya sampai sekarang pasang surut karena masalah klasik, keuangan. Lambat laun, Pemerintah setempat pun mulai mengetahui eksistensi Yayasan TUB dan tak jarang mereka melakukan kunjungan dan kerja sama tetapi prinsip utama Yayasan TUB tetap sama seperti saat dirintis – didirikan, kegiatan ini adalah kegiatan kemanusiaan bukan kegiatan Politik. (Baca berita : Setelah 5 Tahun Berjuang Sendiri, Yayasan TUB Mendapat Dukungan ESDM Jatim)

Lihat juga...