Matjuang

Rusmin Toboali

CERPEN — Hari ini adalah tanggal 17 agustus.
Tanggal yang sangat istimewa bagi seluruh penduduk negeri yang berdiam dari Miangas hingga Rote. Burung cenderawasih terbang bebas di angkasa biru. Kepaknya membentang luas seluas negeri ini. Bunga raflesia pun memekarkan dirinya. Anoa berlari ke sana ke mari dengan riang gembira. Komodo pun berlari kencang menembus batas negeri. Sebuah elegi kemerdekaan yang amat mempesona bagi semua penghuni nusantara ini.
Dan hari ini adalah hari yang sangat istimewa juga bagi Matjuang sebagaimana kegembiraan hatinya saat menyambut bulan Ramadhan dan hari Idul Fitri yang merupakan hari kemenangan. Dan sudah menjadi kebiasaan Matjuang usai sholat subuh pada tanggal 17 Agustus dirinya selalu mengerek bendera Merah Putih pada tiang bendera yang ada di halaman rumahnya yang sederhana. Lantas memberi penghormatan pada dwi warna yang mulai berkibar gagah arungi angin kehidupan.
Sembari duduk di teras rumahnya, Matjuang dengan mata berbinar-binar diselimuti nurani patriotisme yang mengental dalam jiwa raganya tersenyum bangga menyaksikan Merah Putih berkibar dengan gagah di halaman rumahnya. Kebanggaan yang tak bisa ditukar dengan materi dan jabatan. Dan itulah kehormatan terbesar dalam sejarah hidupnya. Ikut memerdekakan bangsa ini dari keterjajahan dan penindasan dari bangsa-bangsa imperialisme. Ikut memartabatkan bangsa ini dari penindasan bangsa lain.
Kebanggaannya sebagai pejuang yang ikut mengantarkan dan melahirkan NKRI membuat Matjuang selalu mandiri. Usai perang kemerdekaan Matjuang tinggal bersama sang istri di Desa Rakesah tempatnya dilahirkan dan memberi andil dalam berjuang menumpas penjajahan. Walaupun kehidupan ekonominya pas-pasan Matjuang tak pernah mengeluh dan tak pernah meminta bantuan kepada teman-teman seperjuangannya. Perang kemerdekaan telah memberinya pelajaran hidup yang sangat berharga bahwa untuk merdeka kita harus berjuang dan berjuang dengan sekuat tenaga dan energi kita. Jangan pernah berharap dan berharap dari pihak lain kalau kita ingin merdeka dalam kehidupan.
Beragam pihak amat sering menawarinya untuk mengurus kompensasinya sebagai pejuang kemerdekaan. Namun tak satu pun yang digubris pejuang yang menghidupi keluarga dari bertani. Termasuk usaha dari kawan-kawan seperjuangan dulu. Tak mempan. Selalu pulang dengan tangan hampa. Selalu ditolak Matjuang. Itulah sifat Matjuang. Selalu mandiri dan tak pernah berharap dari uluran tangan orang lain. Tak pernah berharap dari belas kasihan orang untuk hidup. Dan tak pernah memanfaatkan perjuangannya tempo dulu untuk hidup dan berkehidupan.
“Saya berjuang dengan ikhlas. Saya ikut melawan penjajah karena semangat nasionalisme. Saya berjuang tanpa pamrih. Dan saya tidak mau perjuangan saya ternodai oleh uang dan harta. Kalau negara menghargai perjuangan saya maka dengan sendirinya jasa-jasa saya akan dikenang. Kalaupun tidak bukan masalah besar bagi saya,” ujar Matjuang.
“Dan saya ikut berjuang melawan penjajah karena panggilan hati untuk memartabatkan bangsa ini. Menjaga kehormatan negeri ini dengan setulus hati tanpa pamrih dan harapan-harapan. Janganlah engkau tanyakan apa yang engkau dapatkan dari negerimu. Tapi tanyakan apa yang dapat engkau berikan kepada bangsa dan negaramu,” lanjut Matjuang penuh heroik. Dan kawan-kawannya pun mati angin atas jawaban Matjuang.
Namun dalam minggu-minggu ini nurani Matjuang terusik. Undangan Pak Lurah tentang pembangunan monumen perjuangan di Desa Rakesah telah membuat nurani dan semangat nasionalismenya sebagai pejuang terusik dan galau. Pembangunan monumen perang yang didanai oleh Zoliman pejuang kemerdekaan yang dulunya penduduk Desa Rakesah telah membuat kursor dan memorinya kembali terusik. Ada kegundahan dan kegalauan yang menghampiri nurani dan sanubari pejuang tua ini. Kenangan dan memori 70 tahun silam terbangun bak mimpi.
“Bu, kini waktunya  saya akan membeberkan apa yang terjadi di lokasi rumah yang akan dijadikan monumen itu biar masyarakat tahu dan tahu,” ujar Matjuang kepada istrinya.
“Sudahlah Pak. Buat apa mengungkit-ngungkit peristiwa yang silam. Ntar orang-orang berasumsi buruk dan negatif terhadap kita,” saran istri Matjuang.
“Bu, kebenaran harus kita ungkapkan walau terasa pahit. Biar jadi pelajaran dan teladan bagi generasi sekarang. Bukankah kini banyak sejarah dibelokkan hanya karena yang tahu dan paham tidak mau menyampaikan kebenaran itu,” jawab Matjuang.
Malam itu Matjuang duduk sendirian di serambi depan rumahnya. Keheningan malam menemani pejuang tua ini. Suara jangkrik liar pun tak terdengar. Membisu. Desah angin pun tak berdesis. Membisu. Entah ke mana. Hanya cahaya purnama yang menerangi hati Matjuang yang gulana. 
Ingatan Matjuang pun melayang pada peristiwa 70 tahun silam. Merajut sekeping peristiwa masa silam. Saat itu pasukan Matjuang dan Zoliman berhasil mengepung pasukan Belanda yang bermarkas di sebuah rumah dekat ujung Desa. Dalam pertempuran yang berlangsung selama 3 hari 3 malam, pasukan Belanda dapat ditundukan. Seluruh pasukan Belanda tewas. Demikian pula dengan pasukan Matjuang dan kawan-kawan. Banyak pejuang yang wafat.
Matjuang yang saat itu bertindak sebagai Danru berhasil masuk dan menguasai rumah tua itu. Dalam rumah itu tubuh-tubuh pasukan Belanda berserakan. Bau anyir mayat menusuk hidung. Darah mengalir dari tubuh-tubuh yang tumbang. Bau mesiu masih tercium. Dengan penuh kehati-hatian Matjuang terus memeriksa situasi dalam gedung. Satu persatu ruangan gedung markas Belanda yang dipenuhi gelimpangan mayat kaum penjajah dia telusuri dengan penuh kewaspadaan. Sepi. Tak ada bunyi apapun. Malah terkesan menyeramkan.
Saat Matjuang hendak memeriksa dan memasuki salah satu ruangan yang merupakan ruangan Komandan pasukan Belanda, Matjuang mendengar suara aktivitas yang terkesan amat hati-hati dan terlatih. Dari lubang kecil pintu Matjuang melihat  Zoliman teman satu regu dan seperjuangannya yang sedang mengemas sebuah kotak. 
Melihat kehadiran Matjuang, Zoliman kaget setengah mati. Jantungnya seakan-akan mau copot.
” Matjuang. Ini emas batangan. Dan ini jutaan uang gulden. Kita kaya raya Matjuang. Kaya raya,” ujar Zoliman setengah berteriak kepada Matjuang.
“Tidak, Zoliman. Ini barang rampasan negara. Barang ini harus kita serahkan kepada Komandan kita di kecamatan. Biar Komandan kecamatan yang mengurusnya,” jawab Matjuang.
“ Tidak Matjuang. Tidak. Ini barang temuan. Barang temuan. Kita berdua yang menemukannya,” jelas Zoliman.
“Sekali lagi saya katakan tidak. Ini barang sitaan dan rampasan perang,” jawab Matjuang tegas.
Zoliman terdiam mematung tanpa suara. Hanya mimik wajahnya terlihat kekecawaan besar atas jawaban Matjuang. Wajah yang memancar pantulan keinginan yang tersembunyi. Matjuang pun segera membalik badan meninggalkan Zoliman. Baru dua langkah kaki Matjuang melangkah keluar ruangan.tiba-tiba terdengar bunyi braak. Matjuang terkapar. Hantaman benda keras menjungkal Matjuang ke lantai. Terkapar. Darah segar mengalir dari kepalanya. Merahi ubin.
“Bangun. Bangun ekstrimis,” teriakan seorang prajurit penjajah dengan suara menggelegar bak petir sambil menyiram tubuh Matjuang dengan air. Dengan mata nanar dan badan yang dipenuhi luka, Matjuang bangkit. Seiring bangkitnya Matjuang dari lantai, sebuah tendangan menghampiri badan Matjuang. Pejuang ini terhuyung-huyung. Tempelkan badan pada dinding.
“Kamu yang membakar markas kami di Desamu? Ayo jawab,” tanya prajurit berwajah bengis dengan nada keras.
“Saya tidak tahu Tuan. Saya tidak tahu,” jawab Matjuang.
Dan brakk. Tendangan prajurit tadi kembali menyambar tubuh disusul dengan pukulan kearah perut Matjuang yang membuat pejuang muda ini menjerit dan hampir muntah.
Sudah seminggu Matjuang menghuni sel tahanan penjajah yang terletak dalam hutan. Jauh dari jangkauan jalan raya dan pemukiman. Para penghuni wajahnya dipenuhi luka-luka. Wajah-wajah babak belur. Ada yang tergeletak di lantai tanah sel. Ada pula yang bersandar didinding sel tahanan dengan tatapan mata yang nanar dan kosong. Ada pula penghuni sel tahanan yang sehat walafiat dan tak terlihat luka apapun.
Para penghuni sel ada yang dikenal Matjuang. Ada pula yang tak dikenal dan wajahnya sangat asing. Dalam tahanan mareka tak pernah saling menyapa. Hanya tatapan mata saja yang mengharmoni mareka sebagai pejuang. Sebagai anak bangsa yang ingin segera lepas dari gairah imprealisme penjajah. Selama menghuni sel tahanan Matjuang melihat ada yang datang dan ada yang pergi tanpa kembali ke dalam tahanan. Entah dibawa kemana mareka.
Pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno-Hatta adalah penyelamat Matjuang dan kawan-kawan untuk tidak berlama-lama menghuni sel di tahanan. Usai pembacaan naskah yang mereka dengar dari radio milik prajurit, Komandan Regu rumah tahanan melepaskan mareka para pejuang negeri ini. Dan Matjuang dengan penuh sukacita mengucapkan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas rahmat dan karunianya kepada bangsa ini sehingga lepas dari bentuk penjajahan bangsa asing di muka bumi Nusantara ini.
Dan Matjuang mendengar kabar bahwa Zoliman sekarang sudah menjadi pengusaha besar dan terkenal. Usahanya banyak dan menggurita. Zoliman dikenal pula sebagai Ketua sebuah ormas terkenal yang dipunggawai orang-orang ternama negeri ini. Informasi terkini yang diperoleh Matjuang, Zoliman adalah  orang dekat Gubernur dan orang kepercayaan seorang Menteri yang sedang menjajaki untuk menjadi RI 1.
Saat ke kantor Kecamatan untuk mengurus E-ktp yang sudah hampir enam bulan belum selesai. Matjuang melihat foto Zoliman sedang bersama Pak Menteri dan Pak Gubernur dalam peresmian Kantor Cabang milik Zoliman pada sebuah surat kabar harian nasional.
Upacara pengibaran bendera 17 Agustus dilapangan sepakbola Desa berjalan khidmat dan heroik. Usai upacara bendera di lapangan Desa, para warga berduyun-duyun menuju lokasi tempat pembangunan monumen perang. Sepanjang areal lokasi pembangunan monunen perang beragam atribut, umbul-umbul dan baliho bernada nasionalisme dan patriotisme berjejer rapi. Bendera Merah Putih pun terpasang indah. Berjajar rapi dan tertata. Sebuah ornamen yang sangat artistik. Panggung ukuran raksasa dan tenda-tenda untuk para undangan pun telah disiapkan diareal lokasi lengkap dengan panggung hiburan yang akan dimeriahkan artis ibukota Kwartet Kepijit yang akan menggatalkan kaki penonton untuk bergoyang seiring lantunan lagu dan syair yang kwartet kepijit dendangkan denga suara pas-pasan dan goyangan penuh erotisme .
Suara sirene mobil keamanan menandakan bahwa petinggi telah datang. Tepuk tangan dan koor merdeka dari para hadirin yang dipandu pembawa acara sambut kehadiran Zoliman dan para petinggi negeri di panggung utama. Dan Zoliman tampak sumringah. Ada  kegembiraan dihatinya. Wajahnya bercahayakan kebahagian. Walaupun usianya sudah 87 tahun, namun Zoliman tampak sehat. Wajahnya sangat bersih. Berwibawa. Suaranya pun masih jelas, mantap, dan berwibawa bak para petinggi negeri saat pidato dan orasi di musim Pilkada.
“Bapak dan Ibu sekalian. Dari relung hati yang terdalam, saya minta maaf kepada seluruh penduduk desa Rakesah. 70 tahun saya tinggalkan Desa ini usai negeri ini merdeka. Dan ini adalah memomentum bagi saya untuk memberikan sesuatu yang berarti bagi Desa ini di mana saya dilahirkan dan berjuang menumpas penjajah dari negeri ini dari Desa ini pula. Kini saatnya saya membalas kebaikan Desa dan negeri ini yang telah banyak memberi saya. Inilah saatnya saya berbakti. Inilah momentum bagi saya untuk berbuat dan mengabdi bagi rakyat Desa ini. Inilah kesempatan saya berbagi walaupun nilainya tak seberapa,” jelas Zoliman sambil diringi tepuk tangan para undangan.
“Dan saya,” suara Zoliman terputus saat seseorang memanggil namanya. Suara yang amat dikenal dan amat akrab di telinganya. Zoliman pun menoleh ke arah suara panggilan itu. Jantungnya berdegup keras dan kencang. Sekencang larinya Zoliman bersama barang-barang peninggalan Belanda yang dibawahnya ke luar Desa Rakesah setelah dirinya membakar gedung tempat markas Belanda di Desa Rakesah 70 silam.
“Matjuang,” ujar Zoliman lirih saat melihat rekan seperjuangannya memanggil namanya.
Dan dalam hitungan detik tubuh berwibawa Zoliman pun rubuh di atas panggung. Para undangan sibuk menyelamatkan Zoliman. Suasana panggung utama bak pasar malam. Teriakan bantu dan panggil ambulans dan dokter terus meluncur dari mulut-mulut para undangan. Suasana peletakan batu pertama pembangunan Monumen Perang pun kacau balau. Panitia berhamburan menyelamat Zoliman yang sudah terkapar diatas panggung. Dokter Puskesmas yang memeriksa nadi Zoliman pun geleng kepala. Dan ucapan Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun meluncur dari mulut-mulut mareka yang hadir. Awan hitam berarak selimuti langit. 
MINGGU, 16 Agustus 2015
Penulis       : Rusmin Toboali
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...