Melihat Lebih Dekat Desa Pengrajin Genteng dan Batu Bata di Lampung

LAMPUNG — Salah satu desa di Kecamatan Palas Lampung Selatan adalah Desa Tanjungsari. Pemandangan berbeda ditemui di daerah ini yakni tumpukan kayu, batu bata, genteng serta batu bata yang masih dijemur di halaman rumah. Bahkan sebagian warga masih sibuk mencetak batu bata di bangunan khusus yang menjadi tempat pembuatan kerajinan genteng dan batu bata.
Desa Tanjungsari dikenal sebagai wilayah pusat pembuatan genteng dan batu bata sejak puluhan tahun lalu. Sebagian warga yang membuat batu bata dan genteng sudah menekuni kerajinan tersebut beralasan keterbatasan lahan dan tidak memiliki lahan pertanian menjadikan pekerjaan pembuatan batu bata sebagai pekerjaan yang dijadikan mata pencaharian.
“Kami di sini memang tidak memiliki lahan pertanian dan jenis tanah di sini merupakan tanah cadas berwarna putih yang cocok untuk pembuatan genteng dan batu bata,”ujar Sarmin, salah satu warga Desa Tanjungsari kepada Cendana News, Senin (16/11/2015).
Sarmin mengungkapkan, pembuatan kerajinan batu bata, genteng sudah ditekuni oleh dirinya turun temurun bahkan sudah memasuki keturunan kedua mewarisi usaha kerajinan batu bata tersebut. Tak hanya kaum laki laki, bahkan kaum perempuan bahkan ikut terlibat dalam proses pembuatan batu bata dan genteng tersebut.
Sarmin mengaku selama musim kemarau ini pembuatan genteng dan batu bata lebih terbantu dengan kondisi cuaca sehingga mempercepat pengeringan batu bata dan genteng. Selain itu proses pembakaran menggunakan kayu bisa cepat dilakukan selama musim kemarau berlangsung. Pembuatan genteng bahkan sudah memiliki langganan dari beberapa wilayah untuk pembuatan bangunan.
“Saat ini permintaan genteng cukup meningkat karena banyak yang membangun dan ini menjadi sumber pendapatan kami di sini,”ungkap Sarmin.
Harga genteng saat ini di Palas mencapai Rp700ribu-Rp900ribu untuk perseribu buah. Kebutuhan akan genteng bahkan masih cukup tinggi seiring dengan kebutuhan akan pembuatan bangunan di beberapa wilayah.
Selain Sarmin, kaum wanita yang masih menekuin usaha pembuatan batu bata di Dusun Banyumas Desa Tanjungsari adalah Nusriah (40) yang masih menekuni pembuatan batu bata dengan tekhnik manual meski sudah muncul alat pembuatan batu bata.
“Saya membuat batu bata karena tidak ada pilihan selama musim kemarau ini, mau upahan di sawah atau ladang saat ini banyak petani yang tidak menanam, makanya pilihan membuat batu bata ini jadi pilihan terakhir,”ungkap Nusriah.
Nusriah yang membuat batu bata dengan sistem manual menggunakan cetakan kayu mengaku dalam sehari bisa mencetak batu bata sebanyak 100 buah. Batu bata yang sudah kering diangin anginkan di bangunan khusus yang menjadi lokasi untuk pembuatan sekaligus pengeringan batu bata tersebut. Setelah kering batu bata tersebut akan dibakar menggunakan kayu hingga bisa dijual.
Nursiah mengaku mengeluarkan modal tak sedikit untuk melakukan proses pembuatan batu bata tersebut mulai dari membeli tanah untuk bahan pembuatan batu bata seharga Rp120ribu per mobil L300. Selanjutnya bahan bakar kayu juga dibelinya dengan harga Rp175ribu untuk satu mobil. 
“Kalau tidak begini kami tidak bisa mendapat uang karena ini usaha kami satu satunya dan bisa dikerjakan kapan saja,”ungkap Nursiah yang suaminya bekerja sebagai buruh tersebut.
Di Desa Tanjungsari yang dikenal sebagai desa pengrajin batu bata tersebut, batu bata kering sudah siap menjadi bahan bangunan dijual dengan harga Rp200ribu per seribu batu bata.
Salah satu ketua Kelompok Bina Usaha Mandiri II, Usman, kepada Cendana News mengaku usaha pembuatan batu bata dan genteng memiliki kelompok usaha yang bisa menjadi perkumpulan para pengrajin batu bata dan genteng. Kelompok tersebut sekaligus menjadi koperasi dan menjadi tempat para pengrajin bertukar pikiran serta mencari solusi untuk usaha mereka.
“Kami memiliki kelompok sekaligus koperasi sehingga bisa saling membantu jika kesulitan modal dan pemasaran dan ini menguntungkan bagi anggota sekitar 10 orang perkelompok,”ungkap Usman.
Usman mengaku desa tersebut tetap akan dikenal sebagai sentra pengrajinb batu bata dan genteng. Kualitas dan bahan yang digunakan tetap dijaga sehingga pengguna genteng dan batu bata tidak kecewa terhadap batu bata dan genteng yang mereka buat.
Selain memberdayakan pengrajin untuk memenuhi kebutuhan ekonomi warga bahkan desa tersebut kini mulai berkembang dengan semakin bagusnya jalan desa yang sebagian dibuat dengan sistem rigid hasil swadaya masyarakat. 

JURNALIS : HENK WIDI

Bergabung dengan Cendana News pada bulan November 2014. Dengan latar belakang sebagai Jurnalis lepas di beberapa media dan backpacker, diawal bergabung dengan Cendana News, Henk Widi fokus pada pemberitaan wisata dan kearifan lokal di wilayah Lampung dan sekitarnya.

Twitter: @Henk_Widi
Lihat juga...