Menikmati Deburan Ombak Pantai Batu Gong Sultra

Pengunjung pantai Batu Gong
KENDARI — Deburan ombak yang menderu-deru di sepanjang Pantai Batu Gong terdengar keras. Suara ombak yang datang secara bergelombang di bibir pantai makin terdengar keras pada saat matahari berdiri tegak di atas kepala. Gelombang yang berkejar-kejaran disertai buih itu menyapu semua benda yang berada di atas pasir. Seolah-olah ombak ini ingin menyapa semua pengunjung pantai.
Pantai Batu Gong yang telah dikenal masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra) sejak tahun 1990-an berada di Kecamatan Lalonggasu Meeto Kabupaten Konawe. Dari kota Kendari Ibukota Provinsi Sultra hanya sekitar 14 Km dengan waktu tempuh paling lama 30 menit.
Sedangkan jarak dari Kota Unaaha Ibukota Kabupaten Konawe sekitar 70 Km, dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam lamanya, bila kondisi jalan tidak padat dilalui kendaraan roda dua dan empat.
Namun pada hari libur nasional, khususnya libur lebaran maupun libur awal tahun, Pantai Batu Gong yang panjangnya sekitar 2 Km penuh sesak manusia. Sehingga untuk menuju Pantai Batu Gong membutuhkan waktu perjalanan berjam-jam. Karena kendaraan yang menuju obyek ini sangat padat. Bila anda berangkat dari Kota Kendari pada jam 08.00 Wita, diperkirakan tiba sekitar jam 10.00 Wita.
“Daripada jauh-jauh mencari pantai, lebih baik rekreasi bersama keluarga di Batu Gong.Jaraknya juga tidak jauh, biaya masuknya juga murah, keluarga sudah puas berenang di pantai,” ujar Ramadan kepada wartawan Cendananews.com.
Ramadan mengaku, hampir setiap hari libur Minggu dan libur nasional lainnya mengajak keluarga berekreasi di Pantai Batu Gong. “Ya hitung-hitung biayanya murah, dan anak-anak sudah senang,” katanya.
Pantai Batu Gong ini menjadi obyek wisata terkenal pada zaman Soeharto mantan Presiden RI ke 2 masih berkuasa. Obyek ini dikembangkan Direktorat Jenderal Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Dirjen Parpostel) ketika itu masih dijabat Almarhum Job Ave melalui Kantor Wilayah (Kanwil) Parpostel Provinsi Sultra yang dijabat Sukarna Himsani pada tahun 1996.
Di atas asset Pemerintah Provinsi Sultra yang berada di wilayah Pemerintahan Kabupaten Konawe, sudah dibangun villa untuk peristirahatan para pejabatan atau masyarakat umum yang berkunjung di pantai tersebut. 
Dalam perkembangannya, villa pemerintah dianggap tidak cukup,  maka masyarakat yang berdomisili di sekitar pantai mendirikan gazebo.
Gazebo ini kemudian dipersewakan kepada pengunjung yang ingin menggunakannya. Tarifnya bisa dinegosiasi, yang jelas hanya berkisar Rp 50 ribu sudah bisa dipakai sehari penuh. 
Sejarah pantai ini dinamakan Batu Gong tergolong unik. Berdasarkan pengakuan Irfan warga Desa Lalonggasi Meeto yang tinggal tepat di pantai, masyarakat menyebut Batu Gong karena di lereng bukit yang bersentuhan dengan pantai terdapat batu yang menyerupai gong. Bila batu itu dipukul, maka akan menimbulkan suara seperti gong juga. Maka jadilah orang menyebut Pantai Batu Gong.
Pantai ini sebenarnya dapat dijadikan arena selancar angin, tiupan angin dari arah timur laut Banda sangat kencang pada siang hingga sore hari. Dengan tiupan angin yang kencang sehingga menimbulkan gelombang yang cukup keras dan kuat. 
Selain berselancar, pengunjung juga dapat bermain bola voli pantai atau bermaib bola kaki di atas pasir yang terbentang memanjang dari arah selatan ke utara Pantai Batu Gong.
Pengunjung juga dapat berenang sambil menikmati gulungan ombak. Namun bagi pengunjung yang tidak pandai berenang, harus berhati-hati karena sewaktu-waktu bahaya ombak besar datang secara tiba-tiba. Oleh karena itu disarankan agar menggunakan pelampung ban yang disewakan antara Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu per buah, tergantung ukuran lingkar ban yang akan digunakan.
Nah bagi pengunjung yang tidak suka berenang, dapat mencicipi  kuliner yang disediakan di Pantai Batu Gong. Salah satunya yang terkenal adalah kuliner sate pokea bersama gogos yang terbuat dari ketan. Jika tidak suka makan gogos, sate pokea dapat dimakan dengan mandura sejenis lontong. Harga sate pokea sangat terjangkau hanya Rp 1.000  per tusuk. 
Belum puas menikmati sate pokea, pengunjung juga dapat menikmati ikan bakar yang tersedia di warung-warung masyarakat. Jenis ikan yng disiapkan bermacam’macam, seperti ikan tongkol, ikan katamba, ikan bandeng dan ikan ruma-ruma. 
Soal harga ikan bakar, tergolong murah. Hanya merogoh kocek antara Ro 25 ribu sampai Rp 35 ribu, sudah bisa menikmati ikan bakar, nasi putih dan sambel. 
Jadi tunggu apa lagi, ayo ke Kendari. 

JURNALIS : RUSTAM

Jurnalis Cendana News wilayah Sulawesi Tenggara. Sebelum bergabung dengan Cendana News sudah menjadi wartawan di beberapa media cetak lokal maupun nasional. Gabung dengan Cendana News Oktober 2015. 

Akun twitter : @rustamcnd 
Lihat juga...