Nelayan Tradisional Mulai Lirik Teknik Budiaya Keramba Jaring Apung


LAMPUNG—Hasil tangkapan nelayan di perairan Kecamatan Ketapang dan Kecamatan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan yang mulai menurun akhir-akhir ini disikapi dengan cermat oleh nelayan setempat. Potensi perairan yang berada di perairan Selat Sunda dan memiliki banyak pulau kecil dimanfaatkan oleh nelayan tangkap untuk mulai melakukan tekhnik budidaya menggunakan keramba jaring apung (KJA) yang masih memanfaatkan perairan laut sebagai lokasi budidaya tersebut.
Salah satu nelayan yang mulai membudidayakan ikan dengan tekhnik budidaya di perairan pantai Ketapang dan Bakauheni diantaranya Saleh (34) yang mengaku mulai menerapkan tekhnik keramba jaring apung selama setahun belakangan. Ia mengaku usahanya tersebut didasari oleh faktor biaya operasional, keselamatan serta harga bahan bakar minyak untuk melaut sebagai nelayan tangkap yang cukup tinggi untuk ukuran nelayan sepertinya.
“Awalnya saat harga bahan bakar untuk melaut tinggi dan saya menganggur kemudian saya diajak untuk belajar tekhnik budidaya ikan laut dengan keramba yang masih bisa dipantau setiap hari. Saya belajar di Kabupaten Pesawaran,”ungkap Saleh kepada Cendana News Selasa (3/11/2015).
Bermodalkan pelatihan ia mulai mengumpulkan modal untuk membeli peralatan yang dibutuhkan dalam membuat keramba jaring apung mulai ponton dari drum, jaring, kayu kayu untuk pijakan serta peralatan lain. Sebagai nelayan yang biasa melakukan aktifitas penangkapan ikan di wilayah perairan Selat Sunda, ia mengakui usaha untuk membuat keramba jaring apung tersebut tidak mudah karena harus beralih sebagai nelayan budidaya.
“Pilihan saya akhirnya pada pembesaran benur lobster yang diperoleh bibitnya dari mencari di perairan yang masih memiliki lobster, saya besarkan di keramba jaring apung ini,”ungkapnya.
Ukuran bibit lobster yang dibudidayakannya rata-rata di bawah 2 ons terutama sejak munculnya peraturan menteri kelautan dan perikanan terkait ukuran lobster yang bisa diperjualbelikan. Lobster yang sudah memiliki ukuran cukup besar selanjutnya dijual ke pengepul lain serta ke pembudidaya lain. Sementara nelayan nelayan tradisional yang mulai belajar dan memiliki modal pun melakukan tekhnik budidaya tersebut diantaranya di pantai Keramat serta perairan Pulau Rimau Balak.
Ke depan selain membudidayakan benur lobster, ia berencana membudidayakan ikan jenis kerapu. Ia mengakui keramba jaring apung yang dilakukannya dipilih untuk membudidayakan ikan dengan harga ekonomis cukup tingi terutama jenis lobster dan kerabu macan serta kerapu bebek.
Budidaya ikan, udang dengan tekhnik keramba jaring apung tersebut juga dikembangkan oleh salah seorang warga Bakauheni, Agung (35), ia mengaku membudidayakan lobster yang bibitnya dibeli dari nelayan setempat. Menggunakan keramba jaring apung berukuran 3,3meterx8 plont atau kotak. Sekat sekat atau plong tersebut dibuat untuk membudidayakan benih lobster dengan usia berbeda beda dan selanjutnya dijual ke pembudidaya skala besar.
“Kita masih dalam tahap bididaya benur dan ini sungguh menguntungkan untuk nelayan budidaya dan bisa dimanfaatkan disela sela sebagai nelayan tangkap bisa melakukan pembudidayaan ikan di keramba jaring apung,”ungkap Agung.
Agung yang berdasarkan pengamatan Cendana News merupakan salah satu warga yang memiliki modal cukup mengaku memberdayakan nelayan tradisonal yang mencari lobster dengan cara manual. Lobster yang ditangkap nelayan tersebut dibelinya dengan harga tertentu dan selanjutnya digunakan sebagai indukan. Tanpa mau menyebut besaran modal yang diambil dari koceknya, ia mengaku usaha tersebut mampu membantu nelayan tradisional.
“Saya membantu nelayan tradisional yang selanjutnya saya kembangkan lagi untuk menjadi pembenihan khusus untuk benih lobster ukuran di bawah 2 ons,”ungkap Agung.
Keramba jaring apung yang dimilikinya juga selanjutnya akan ditambah untuk budidaya kerapu serta ikan dengan nilai ekonomi tinggi. Meskipun demikian Agung mengakui meski menjanjikan secara eknomis dengan nilai jual cukup lumayan, ia mengakui budidaya dengan tekhnik keramba jaring apung bukan tanpa kendala.
“Kendalanya cuaca di perairan yang bisa berubah sewaktu waktu sehingga harus memilih lokasi yang tepat, terlindung dari arus kencang dan gangguan lain,”terangnya.
Ia juga mengakui potensi wilayah perairan di pesisir Pantai Timur Lampung Selatan yang terbuka masih jadi halangan. Karenanya ia memilih membuat keramba jaring apung di perairan yang terhalang Pulau Rimau Balak dan beberapa pulau lain. Selain itu lokasi yang dekat dengan tempat tinggalnya dipilih untuk memudahkan pengecekan, pemberian pakan serta perawatan.
“Jika nelayan di sini mulai mengenal tekhnik ini harapan saya nelayan tak hanya mengandalkan mencari ikan dengan cara menangkap di laut tetapi membudidayakan juga,”ungkap Agung.
Pantauan Cendana News, untuk menuju keramba jaring apung tersebut memerlukan perahu yang digunakan untuk mobilitas dari daratan ke perairan. Besarnya biaya operasional untuk penerapan keramba jaring apung untuk budidaya ikan laut masih menjadi kendala bagi nelayan tradisional yang memiliki modal kecil sehingga nelayan tetap menerapkan pola tangkap ikan di perairan.

JURNALIS : HENK WIDI

Bergabung dengan Cendana News pada bulan November 2014. Dengan latar belakang sebagai Jurnalis lepas di beberapa media dan backpacker, diawal bergabung dengan Cendana News, Henk Widi fokus pada pemberitaan wisata dan kearifan lokal di wilayah Lampung dan sekitarnya.

Lihat juga...