Organda : Kenapa Harus ‘Njlimet’ Mengatur Pintu Tertutup atau Terbuka

SURABAYA — Pro kontra pintu tertutup atau terbuka di Angkutan Umum dalam Kota (Angkot) masih menjadi polemik. Menurut Organisasi Angkutan Darat (Organda) DPC Surabaya, tidak usah terlalu ‘njlimet’ (susah) mengatur pintu.
Ahmad Fauzi
“Kenapa harus njlimet mengatur pintu tertutup atau terbuka, masalahnya tidak semua peraturan bisa diterima masyarakat,” terang Ahmad Fauzi, Sekretaris DPC Organda Surabaya, Sabtu (28/11/2015).
Hal tersebut menyikapi tata cara berlalu lintas bagi pengemudi kendaraan bermotor umum, pasal 124 ayat 1 huruf e : Pengemudi kendaraan bermotor umum untuk angkutan orang dalam trayek wajib menutup pintu selama kendaraan berjalan.
Sanksi pidana diatur diatur dalam Pasal 300 jo pasal124 ( 1) huruf e dengan ancaman pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak 250 ribu rupiah. Pemberlakuan hukuman itu dapat dikenakan kepada setiap pengemudi kendaraan bermotor umum yang tidak menutup pintu kendaraan selama kendaraan berjalan.
Menurut Fauzi, hal ini menjadi hal yang sangat sulit dipraktekan oleh sopir angkot. Buka tutup pintu susah dilakukan, naik turun penumpang juga susah, apalagi kecepatan angkot di dalam kota tidak kencang.
“Sedangkan kaum wanita didalam angkot dengan penumpang laki-laki lebih banyak, dan pintunya tertutup pasti merasa takut,” jelasnya.
Selama penumpang merasa aman dan nyaman dengan pintu terbuka, tidak seharusnya ada aturan pintu tertutup dan terbuka. Kalau pun tertutup, itu bisa digunakan jika angkot disewa, dengan jumlah penumpang yang tetap, penumpang tidak naik turun, dan trayek tetap.
JURNALIS : CHAROLIN PEBRIANTI

Jurnalis Cendana News wilayah Jawa Timur. Gabung dengan Cendana News Mei 2015. 

Akun twitter : @charolineemoo
Editor : ME. Bijo Dirajo / Fotografer : Charolin Pebrianti
Lihat juga...