Pak Harto Memberikan Inspirasi untuk Membangun Semangat Kebangsaan dalam Pembangunan

Ishak Ismail, pengusaha yang tak pernah lupa berbagi
Suasana coffee morning itu terkesan  dalam keluarga sendiri. Di atas meja sudah ada makanan kecil yang tersedia. Sehingga siapapun orang yang datang bertamu, pasti menikmati snack dan suguhan minuman teh atau kopi.
Mengawali dari perbincangan, Ishak sempat menanyakan untuk berita media mana? Setelah disampaikan portal berita cendananew.com, langsung membahas nama besar Jenderal Soeharto, mantan Presiden RI yang memimpin Indonesia selama 32 tahun.
Soeharto telah memberikan inspirasi bagaimana membangun semangat kebangsaan dalam menata pembangunan dari Sabang sampai Merauke. “Beliau memberi saya inspirasi cara menghadapi tantangan dalam merintis dunia usaha. Kita bisa lihat kondisi perekonomian Indonesia di zaman Orde Baru, serba penuh keterbatasan,” kisah pria kelahiran Makassar, 10 Juni 1964 ini.
Dengan mendorong pembangunan potensi sumber daya pertanian dan perikanan, perlahan tapi pasti Bangsa Indonesia mampu menciptakan swasembada pangan.  
“Jadi banyak sekali hal-hal positif Bapak Soeharto yang bisa dijadikan spirit untuk diaplikasikan kedalam profesi kita sehari-hari, termasuk dunia usaha. Harus kita lihat Soeharto banyak mendapat tantangan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, tapi tetap saja dihadapi. Semangat membangun kerjasama dengan negara lain terus dilakukan. Itulah semangat  pantang menyerah,” kata mantan ketua POSSI Sultra ini.
Dan memang benar seperti yang dilakukan mantan Presiden Soeharto,  bahwa untuk memulai membangun negara yang kuat atau membangun usaha mulailah dari modal jaringan atau relasi  yang luas (networking), kemudian bangun kepercayaan (trust) kepada pihak lain. 
“Modal uang soal kedua. Jika anda miliki kedua tadi, saya yakin anda akan sukses merintis usaha,” kata mantan bendahara POBSI Sultra ini kepada Cendana News Minggu (1/11/2015).
Sejurus kemudian, Tetta, panggilan lain  Ishak menceritakan awal mula merintis bisnis. Alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Nusantara, Bandung, Jawa Barat (Jabar) ini, memulai bekerja sebagai karyawan magang di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) milik mantan Presiden BJ Habibie.
Mentor di BPPT kemudian menyarankan Ishak agar kembali ke Bau-Bau untuk mengembangkan budidaya rumput laut. Atas saran itu, mantan ketua Kadin Kota Bau-Bau ini, membeli bibit  rumput laut dari Bali ke Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara (Sultra). Waktu itu tahun 1991.
Bibit tersebut kemudian dibudidayakan di perairan Buton. Setelah berkembang budidaya rumput laut itu, kemudian disebarkan ke Pulau Wakatobi dan Pulau Wawoni, kini keduanya sudah mekar otonom menjadi kabupaten. Usaha penyediaan benih rumput laut itu dilirik oleh almarhum Alala, mantan gubernur Sultra.
Ishak kemudian mendapat tugas khusus dari gubernur  untuk mengembangkan konsesi budidaya rumput laut di perairan Sultra pada tahun 1995. 
“Awalnya hanya budidaya, karena melihat pasarnya baik, saya masuk ke bisnis pasarnya. Saya bekerjasama dengan pengusaha dari Jakarta,” ungkap pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan tapi sejak kecil sudah tinggal di Kota Bau-bau mengikuti kedua orang tuanya yang bertugas sebagai PNS.
Hasil budidaya rumput laut di Sultra dikumpulkan lalu dijual ke Jakarta, untuk selanjutnya diekspor ke Kanada dan Filipina. “Hasilnya sangat memuaskan,” aku alumni SD Tauladan Bau-Bau ini yang menekuni bisnis rumput laut sampai tahun 1994.
Dari bisnis rumput laut inilah yang mengantarkan Ishak berkenalan dengan pejabat daerah. Hingga kemudian bertemu dengan H.Saidoe, mantan Bupati Buton. Dari pertemuan inilah kemudian Saidoe menyarankan agar mencoba usaha jasa konstruksi.
Seiring dengan waktu lesunya pasar rumput laut di Indonesia, pada tahun 1995 Ishak banting stir mencoba peruntungan di dunia kontraktor. Dunia usaha konstruksi yang dirintisnya itu tidak berjalan mulus. Beberapa kali mengalami kerugian. “Namanya usaha, kita harus kuat menghadapi tantangan yang terjadi. Harus figh hadapi segala cobaan dan kendala,” tegas
Suatu ketika, Direktur Utama PT.Rizky Ilham Bersaudara ini, mengalami kerugian besar saat menangani proyek anggaran ratusan juta. Ketika krisis ekonomi melanda Indonesia, dia sudah menandatangi kontrak proyek pemerintah senilai Rp 400 juta. Dalam perjalanan pekerjaan, tiba-tiba harga material melonjak. Setelah diestimasi untuk menyelesaikan pekerjaan proyek tersebut, dibutuhkan anggaran Rp 700 juta.
“Bisa dibayangkan kerugian yang saya alami waktu itu. Saya ambil hikmahnya,” ujarnya sambil menengadah seakan mengenang peristiwa tersebut. Peristiwa semacam itu berkali-kali terjadi dan membuat keadaan ekonomi keluarga cukup terpuruk. Namun berkat dukungan Hj. Nirna Lachmuddin, Ishak yang telah dikaruniai 6 orang anak, tetap tegar menghadapi kondisi tersebut.
Untuk bangkit kembali, Ishak memulai kembali mengerjakan proyek anggaran puluhan juta. “Dari proyek ratusan juta, turun mengerjakan proyek 25 juta. Tapi dari puluhan juta inilah yang membuatnya bangkit hingga bisa mengerjakan proyek diatas ratusa juta sampai sekarang. Inilah hikmah dari membangun jaringan dan kepercayaan kepada orang,” tegasnya.
Bagi Ishak, seorang pemimpin tidak hanya seorang sosok yang mampu memimpin negeri ini tetapi juga mampu mewariskan spirit serta filosofi hidup dalam melakukan pembangunan di negeri tercinta ini, dan Soeharto bagi Ishak adalah pemimpin yang mampu melakukannya. (Editor : Gani Khair)
JURNALIS : RUSTAM

Jurnalis Cendana News wilayah Sulawesi Tenggara. Sebelum bergabung dengan Cendana News sudah menjadi wartawan di beberapa media cetak lokal maupun nasional. Gabung dengan Cendana News Oktober 2015. 
Akun twitter : @rustamcnd 
Lihat juga...