Paman

CERPEN — Bagi Anisa dan keluarga, Paman bukan sekedar adik dari ayahnya. Paman bagi keluarga Anisa adalah simbol martabat hidup keluarga. Bagaimana tidak, berkat uluran tangan Paman mareka, Anisa dan keluarga bisa termartabat hidupnya di Kampung. Dihargai orang se kampung karena mareka kini bisa hidup layak di perantauan.
” Pamanmu adalah wakil Ayah di tempat kalian nanti. Pamanmu adalah pengganti ayah. Anggaplah Pamanmu sebagai orangtua kalian sebagaimana kalian menghormati Ayah dan Ibu sebagai orang tua kalian,” pasan Ayahnya ketika Anisa dan Kakak lelakinya diajak Paman ke daerah tempatnya mengabdi sebagai birokrat.
Berkat Pamannya yang mempunyai banyak relasi di Kabupaten, Anisa dan kakaknya bisa mengabdi di Kantor Kantor Kabupaten. Kendati mareka bukan asli putra Kabupaten, namun kelincahan Pamannya dalam mengakomodir semua pihak membuat mareka berdua mulus mengabdi di Kantor Kabupaten walaupun harus mengorbankan para putra daerah yang berpendidikan lebih tinggi.
” Insya Allah, Paman akan berusaha membantu kalian sekuat tenaga. Yang penting kalian bekerjalah dengan baik dan jangan membuat pamanmu malu,” nasehat Pamannya saat mareka datang ke rumah.
” Iya. Janagan kalian memalukan pamanmu. Walaupun Pamanmu orang pendatang di sini, namun pamanmu punya banyak relasi. Apalagi banyak keluarga Bibi yang memiliki jabatan hebat di Kabupaten,” sambung Bibi istri paman.
Walaupun kehadiran Anisa dan kakaknya di Kantor Kabupaten menimbulkan banyak pertanyaan, namun semuanya berjalan lancar dan mulus. Hingga bulan ketiga, perjalanan mareka sebagai pekerja di kantor Kabupaten berjalan mulus. Walaupun ada yang mengganjal dengan kehadiran mareka sebagai pekerja di Kantor Kabupaten, semuanya dapat teratasi dengan baik.
” Kalian sungguh beruntung bisa bekerja disini. Padahal banyak orang-orang pintar yang melamar tak diterima,” ungkap seorang pekerja sekantor dengan Anisa.
” Alhamdulillah Pak. Semua itu berkat bantuan Paman kami,” ujar Anisa.
Bagi warga Kota Paman Anisa bukanlah orang hebat dan berprestasi. Pergaulan sang Paman lah yang membuat Paman mareka memiliki jaringan yang luas bagi warga Kota sehingga Paman mareka di kenal warga Kota. Apalagi sang paman sudah lama tinggal di Kota. Istrinya pun warga Kota sehingga hubungan pertemanan mareka pun bertambah. Apalagi orang tua istri Paman mareka cukup terpandang sebagai juragan di Kota sehingga sedikit banyak menambah daftar referensi pergaulan sang paman.
” Orangtua istri Pamanmu cukup terpandang di Kota. itu yang membuat pamanmu banyak relasi dan teman,” ungkapnya Ayah Anisa pada suatu ketika.
” Walaupun pamanmu bukan pejabat, tapi pergaulannya cukup luas,” sambung Ayahnya. Anisa hanya terdiam mendengar narasi ayahnya tentang Paman mareka di Kota.
Dan setahu Anisa saat masih bersekolah di SMA, hampir tiga bulan sekali Pamannya pulang Kampung menengok nenek mareka yang tinggal di kampung. Dan biasanya kehadiran paman membawa rezeki bagi mareka. Mareka kecipratan angpao dari sang paman.
Saat tinggal bersama sang paman, Anisa mulai mengetahui sepakterjang adik Ayahnya di Kota. Benar kata ayahnya, sang paman memiliki relasi yang sangat luas. Hampir semua warga Kota mengenal Paman mareka. Mungkin karena fisik Paman mareka yang tinggi dan berwajah ganteng. Dan sang paman sangat baik kepada mareka sebagai ponakan. paman memperlakukan mareka sebagaimana anak mareka. Tak ada beda dalam perlakuan. Setia mengantar jemput Anisa pergi dan pulang kerja. Tak heran banyak yang iri dengan Anisa.
” Hebat pamanmu. Baik banget dengan kalian ponakannya,” ujar seorang teman sekantornya.
” Beliau menjaga kami,” jawab Anisa.
Anisa baru menyadari ketika kepala Kantornya mulai menaruh hati kepadanya. Dan ketika pamamnya tahu soal adanya hubungan asmara antara ponakannya dengan kepala Kantornya, Pamannya berang. Suara penolakan dari pamannya bak mesiu di medan perang yang dilontarkan kepadanya. Dan baru kali ini Anisa memahami sikap Pamannya.
” Kamu itu masih bau kencur. Belum tahu apa-apa tentang dunia ini,” ungkap Pamannya.
” Apakah salah kalau ada yang mencintai saya paman,” tanya Anisa memberanikan diri.
” Tidak salah. Tidak ada yang salah. Cuma kamu belum tahu siapa kepala kantormu itu. Kamu tidak tahu. Kami ini sudah paham dengan watak dan tabiatnya. Dan saya sebagai pamanmu tidak akan membiarkanmu jatuh kedalam pelukan lelaki pelit itu,” ujar Pamannya dengan nada keras.
” Kamu masih baru disini. Kamu belum mengenal watak Kepala Kantormu. Kami ini sudah bertahun-tahun bergaul dengan dia. Jadi paham betul bagaimana sifat dan wataknya,” sambung Bibinya.
Sinar rembulan meredup. Kerlap-kerlip bintang dilangit pun terhenti. Ada kesenduan diwarna jaga raya malam itu. Sebagaimana kesenduan hati Anisa.
Anisa pun terpaksa menolak rayuan hati dari kepala Kantornya yang duda itu. Padahal Kepala Kantornya telah menyatakan cinta kepada dirinya. Bahkan kawan-kawan sekantornya pun setuju. Apalagi Kepala kantornya terkenal religius. Walaupun desas desus yang dia dengar bos nya itu terkenal pelit. Dan selama beberapa bulan bergaul Anisa sudah merasakannya. Cintanya pun tertelan kebaikan pamannya. Apalagi Ayahnya telah menyerahkan mareka kepada Sang paman. Anisa ingat dengan kata-kata Ayahnya.
” Kalian harus menurut dengan pamanmu. Jangan kalian membantah dengan pamanmu,” ungkap Ayahnya.
” Membantah Pamanmu sama saja kalian membantah Ayahmu. Apa kalian mau jadi anak durhaka kepada orang tua,” tanya Ibunya.
Duka lara meliputi Anisa dan keluarga ketika Sang paman meninggal. paman yang selama ini mareka anggap sebagai orang tua telah pergi. Dan mareka pun kini bukan hanya kehilangan orang tua, namun telah kehilangan pedoman dalam hidup. Sekaligus kehilangan orang yang bisa melindungi mareka dari berbagai masalah yang sering datang.
Dan Anisa masih ingat ketika dia menemui kepala Kantornya untuk menjadikan suaminya sebagai pengganti dirinya sebagai pekerja di kantor itu. Jawaban yang diberikan Kepala kantornya sungguh amat kontradiksi dengan sikapnya selama ini. Tak ada diksi lemah lembut. Tak ada sikap sebagai seorang pemimpin.
” Oh, Tidak bisa. Kamu masuk ke sini dulu karena kami menghargai pamanmu yang telah kami kenal,” ungkap Kepala kantornya dengan nada keras dan seolah-olah melecehkan dirinya.
” Kalau bukan pamanmu yang membawamu ke Kantor ini kami tak akan menerimanya. Karena kami dan saya sebagai kepala Kantor tidak mengenal siapa kamu,” lanjut kepala Kantor.
Anisa cuma terdiam. Membisu. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir tipisnya.
Perlakuan kurang bersahabat juga ditunjukan keluarga Bibinya. Mareka berasumsi sakitnya Paman mareka karena ulah Anisa.
” Perbuatanmu telah membuat pamanmu sakit. Kebaikan Pamanmu telah kalian balas dengan air tuba. Kalian memang ponakan yang tak bisa diberi kebaikan. Tak bisa membalas budi kebaikan orang,” ujar Bibinya dengan narasi kesal.
” Apa kurangnya Paman kalian kepada kalian? Karena Pamanmu kamu bisa bekerja. Atas kebaikan Pamanmu kakakmu bisa bekerja. Dasar ponakan yang tak tahu diuntung,” sambung Bibinya. Anisa cuma terdiam. Mukanya merah. Hanya nisan Pamannya yang kini menjadi tempat dirinya dan kakaknya datangi. Dan setiap jumat pagi, biasanya Anisa selalu menyempatkan diri berziarah ke makam pamannya. 
Penulis      :RUSMIN TOBOALI

Bergabung dengan Cendana News pada bulan Desember 2014. Sastrawan dan penulis asal Bangka Belitung.

Twitter: @Rusmin_Toboali
Lihat juga...