Pangkas Rambut Tradisional Bertahan Persaingan Era Moderen

JAKARTA — Pangkas rambut merupakan salah satu jenis usaha yang penghasilannya sangat menggiurkan, karena merupakan salah satu kebutuhan dasar dari masyarakat. Dengan modal yang tidak terlalu besar dan relatif mudah dipelajari menjadi dasar menjamurnya pangkas rambut,
Namun dengan perkembangan zaman, peralatan pangkas rambut juga mengikuti. Awalnya hanya sebatas gunting dan sisir, saat kini sudah merambah ke arah mesin yang canggih. Begitupun dengan lokasi, dahulu biasa dilakukan di bawah pohon, sekarang sudah berada di mall-mall besar.
Perubahan perkembangan jaman yang begitu pesat, membuat pangkas rambut tradisional manual maupun elektrik ” mau tak mau ” harus bersaing ketat dengan pangkas rambut moderen. Diperlukan kesabaran, ketekunan dan pelayanan yang baik, agar pelanggannya mau kembali lagi, itu salah satu solusi agar mereka bisa bertahan hidup di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Dulu pada masa kejayaannya, pangkas rambut tradisional rata – rata dikunjungi 30 – 40 orang per hari, namun kini pelanggannya tinggal separuhnya saja, sekitar 15 – 20 orang. Dengan perbedaan tarif yang tidak begitu jauh, pangkas rambut moderen jelas lebih diminati pengunjung, alasannya ruangannya bersih, sejuk delengkapi dengan pendingin udara ( AC ) dan suasananya nyaman
Salah satu pangkas rambut tradisional yang sudah menggunakan alat cukur elektrik, tempatnya berada di Jalan Dr. Wahidin II, Jakarta Pusat. Warga masyarakat setempat mengenal tempat itu dengan sebutan ” Potong Rambut Garut “. Tempatnya strategis, dekat dengan komplek perkantoran Departemen Keuangan Republik Infonesia, Lapangan Banteng dan komplek SMA / SMK 1 Budi Utomo, Jakarta Pusat.
Tempat potong rambut ini sehari – harinya memang biasa buka mulai pukul 09:00 WIB – 20:00 WIB, kecuali hari Minggu dan tanggal merah tutup. 
Pemilik tempat potong rambut, Kang Asep menyebutkan, dirinya sudah hampir 10 tahun menyewa tempat ini. Dalam jangka waktu tersebut, terjadi penurunan jumlah langganan.
“Rata – rata dalam sehari tempat saya dikunjungi sekitar 15 – 20 pelanggan, bila dibandingkan beberapa tahun yang lalu, jumlah pengunjung terus mengalami penurunan ” kata Kang Asep, yang mengaku berasal dari Leuwiliang, Kabupaten Bogor.
Kang Asep menambahkan, walaupun demikian penghasilan dari usahanya sebagai tukang potong rambut masih cukup untuk membiayai kehidupan rumah tangganya, termasuk menyekolahkan seoarang anak semata wayangnya.
“Untuk menjaga langganan, kita harus memiliki trik agar pelanggan bisa kembali lagi, dan yang penting rezeki tetap ada, sedikit atau banyak harus tetap disyukuri,”katanya. [JURNALIS : EKO SULESTYONO]
Editor : ME. Bijo Dirajo / Fotografer : Eko Sulestyono
Lihat juga...