Pasar INPRES Kota Ambon Kini Tinggal Kenangan

Pasar yang rata dengan tanah
AMBON — Pasar Lama Bilangan Yos Soedarso Kelurahan Hunipopu Kecamatan Sirimau kota Ambon akhirnya digusur rata dengan tanah oleh Pemerintah Kota Ambon. Ratusan lapak dan kios milik 353 pedagang di lahan seluas 5690 m2 itu sudah rata dengan tanah alias tinggal nama.
Mereka hanya terlihat pasrah. Ketika alat berat yang diturukan Pemkot Ambon lengkap diback up aparat TNI dan POLRI mulai merobohkan satu persatu bangunan lapak dan kios-kios. Pembongkaran ini insiatif Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy bekerjasama dengan PT PELINDO untuk memperluas area Peti Kemas.
Pasar ini dibangun sesuai Instruksi Presiden (INPRES), di masa Presiden RI Ke II Almarhum HM. Soeharto pada tahun 1970. Pasar lama (tertua) namanya, karena pasar ini pertama yang dibangun pasca kemerdekaan RI. Sejak 1970, kawasan Hunipopu itu sudah dimanfaatkan oleh warga di kota bertajuk manise itu sebagai tempat beraktivitas (jual beli).
Wakil Ketua Garda Muda Nasional (GMN) Provinsi Maluku, Abdul Halim Marasabessy menyayangkan penggusuran oleh Pemkot. Karena pasar lama itu adalah pertama di kota Ambon (Pasar Tradisional).
Abdul Halim mengatakan, di Pasar Lama Ambon banyak anak lokalan maupun pendatang yang akhirnya sukses dalam dunia usaha. Awalnya, beraktivitas di Pasar INPRES kota Ambon tersebut.
Banyak diantara pedagang ini juga menyekolahkan anak mereka hingga bisa sarjana dan bekerja selayaknya. Hasilnya, ya mereka berjualan di Pasar Lama itu.
Atas pembongkaran secara sepihak itu Wakil Ketua Garda Muda Nasional Provinsi Maluku, menegaskan, tindakan tersebut sangat tidak wajar dan terkesan menyengsarakan 353 pedagang yang awalanya menggunakan tempat tersebut untuk mencari nafkah.
Dia mengancam Pemkot Ambon jika tidak segera menyeriusi lokasi baru kepada 353 Pedagang yang telah diusir tersebut, maka GMN secara kelembagaan akan membawa masalah ini ke Komisi VI DPR RI di Jakarta.
“Wali Kota Ambon dan PT Pelindo harus bertanggung jawab. Kami akan kawal terus masalah ini. Bahkan akan kami bawa ke Komisi VI DPR RI, agar segera memanggil Wali Kota Ambon dan PT PELINDO,” tegasnya.
JURNALIS : SAMAD VANATH SALLATALOHY

Jurnalis Cendana News wilayah Maluku. Sebelum bergabung dengan Cendana News sudah menjadi jurnalis di beberapa media cetak lokal. Bergabung Cendana News mulai pertengahan 2015.

Akun twitter : @vanlohy
Editor : ME. Bijo Dirajo / Fotografer : Samad Vanath Sallatalohy
Lihat juga...