Pasca Tergelincir, Penerbangan Batik Air Dibekukan

Penjelasan insiden Pesawat Batik Air di Angkasa Pura I
YOGYAKARTA — Pasca insiden tergelincirnya pesawat Batik Air bernomor id 6380 di Runway 27 Bandara Adisucipto, Yogyakarta pada Jumat (07/11/2015), penerbangan anak perusahaan Lion Air tersebut dibekukan selama 90 hari. Hal tersebut dilakukan untuk penyelidikan lebih lanjut.
Kapten Fx Nurcahyo Utomo,
Investigator KNKT
Investigator KNKT, Kapten Penerbang Fx. Nurcahyo Utomo mengatakan, pihaknya masih harus mengumpulkan data-data lain, seperti data cuaca saat kejadian, data lokasi, data pesawat dan lain-lain. 
Nurcahyo pun menampik, jika tertekuknya noswhell atau roda depan pesawat terjadi sejak awal pendaratan, karena di lokasi jalur pendaratan tidak ada bekas gesekan. Ia menduga, tertekuknya noswhell terjadi menjelang tergelincirnya pesawat.
Kendati noswhell tampak bermasalah, namun bukan berarti penyebab tergelincirnya pesawat disebabkan oleh noswhell. Mengenai penyebab pasti, jelas Nurcahyo, masih harus menunggu pengkajian data termasuk data dari black box pesawat yang saat ini akan dikirim ke Jakarta. 
“Dalam waktu 3-4 bulan, mungkin kesimpulan pasti dari penyebab insiden itu sudah bisa diketahui”, ujarnya, Sabtu (07/11/2015).
Sementara itu, General Manager Bandara Adisucipto Yogyakarta, Kapten Penerbang Bagus Pandu Purnama dalam keterangan persnya di Angkasa Pura I bersama sejumlah pihak terkait mengatakan, pengumpulan data terkait insiden tersebut saat ini sedang dilakukan oleh Tim KNKT. 
Sementara itu, badan pesawat Batik Air telah berhasil dievakuasi pagi tadi, melibatkan tim gabungan yang terdiri dari sekitar 60-an personil. Namun demikian, pihaknya belum bisa memastikan penyebab tergelincirnya pesawat.
Pandu mengatakan, evakuasi bisa cepat dilakukan lantaran roda depan pesawat atau noswhell masih bisa difungsikan, sehingga mudah diderek menuju lokasi parkir bandara setempat. 
Sementara itu, Kapten Daniel Putut Kuncoro Adi, mewakili manajemen Lion Group yang membawahi pula penerbangan Batik Air menjelaskan, saat evakuasi dilakukan roda depan pesawat memang terlihat patah. Namun setelah bagian depan badan pesawat berhasil diangkat, ternyata roda depan atau noswhell itu hanya tertekuk ke belakang dan menempel di badan pesawat. 
“Noswhell yang hanya tertekuk itu masih bisa difungsikan, sehingga memudahkan evakuasi”, jelasnya.

JURNALIS : KOKO TRIARKO

Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana 

News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.

Akun twitter @KOKOCND
Lihat juga...