Pawai Budaya Kendari Agenda Melestarikan Budaya

Wakil Walikota Kendari Musadar Mappasomba bersama juara anandonia luale 2013
KENDARI— Melestarikan diranah yang memiliki keragaman suku, Kendari kembali menggelar Pawai Budaya untuk ketiga kalinya. Kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai etnis, diantaranya Tolaki, Jawa, Bali, Buton, Muna, Toraja, Enrekang, Bugis dan Makassar. Kemudian ada etnis Moronene, Batak, Padang, Ambon, Papua, Manado, Tionghoa, Sunda, Betawi dan lain-lain.
“Kota Kendari ini kan miniatur Indonesia. Seluruh suku yang terdapat di Indonesia, ada  di Kendari,” Sekretaris Daerah Kota Kendari, Alamsyah Lotunani kepada sejumlah wartawan, Minggu (22/11/2015).
Agar seni dan budaya yang dimiliki masing-masing etnis tetap terjaga dengan baik, maka Pemerintah Kota Kendari  memelihara dan melestarikan sebagai asset kekayaan budaya bangsa Indonesia. Salah satu caranya adalah menggelar event tahunan Pawai Budaya Kendari.
Harapan Pemerintah Kota Kendari, melalui Pawai Budaya Kendari dapat menjadi daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berkunjung ke Kota Kendari setiap awal Mei. 
“Kota Kendari kota yang nyaman, indah dan aman. Mari ke Kendari saksikan budaya kami,” ujar Alamsyah mengajak orang berkunjung ke Kendari sebagai Ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Tujuan lain digelar Pawai Budaya Kendari, adalah untuk menjalin tali silaturahmi antar sesama etnis di Kota Kendari. Dengan hubungan kekeluargaan yang tinggi, maka  hal-hal yang dapat mengganggu keamanan dan persatuan dapat dicegah lebih dini. 
“Isu-isu yang ingin memecah belah persatuan, dengan sendirinya dapat ditangkal melalui kekuatan kerukunan seluruh etnis ,” jelasnya.
Kisah pertama kali menggelar hajatan Pawai Budaya Kendari yang diprakarsai Arifin Baidi, Asisten I Walikota Kendari penuh perjuangan tenaga dan pikiran. Berawal ketika panitia HUT Kota Kendari pada tahun 2013 mempercayakan Bintang Multi Sukses (BMS) Event Organizer untuk menangani event Kendari Expo yang telah menjadi agenda tetap sejak tahun 2010.
Dalam rapat panitia pada bulan April 2013, Arifin Baidi mengutarakan idenya agar lebih meriah peringatan HUT Kendari, maka sebaiknya digelar Pawai Budaya Kendari yang wajib diikuti oleh seluruh etnis di Kendari. Tujuannya adalah untuk melestarikan seni dan budaya serta untuk memperat hubungan silaturahmi sesama warga Kota Kendari, meski berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Mereka tinggal di Kendari dengan berbagai latar belakang pekerjaan dan profesi, seperti pegawai negeri, karyawan perusahaan, pedagang, guru, pengacara, dosen, petani dan nelayan. Mereka hidup rukun dan berbaur serta berasimilasi dengan etnis Tolaki sebagai suku asli wilayah daratan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Mereka tinggal tersebar di 64 kelurahan dan 10 kecamatan di Kota Kendari.
Pada awal akan digelar pawai budaya tahun 2013, Arifin Baidi yang ditunjuk sebagai ketua panitia pawai sempat kebingungan dari mana sumber dana untuk menggelar event tersebut. Sementara Pemkot Kendari pada waktu itu tidak mengalokasikan dana APBD 2013.
Bersama panitia HUT dan tim BMS EO mencoba cara lain, yakni mengundang beberapa perusahaan untuk membantu pembiayaan event. Alhasil, perusahaan tersebut bersedia bersedia menjadi sponsor.
Dari sinilah kemudian menjadi awal mula Pemerintah Kota Kendari menggelar Pawai Budaya sebagai rangkaian HUT Kota Kendari. Pada tahun 2013, Pawai Budaya Kendari dimulai dari depan stadion Lakidende dan finish di depan Kantor Walikota Kendari.
Sementara itu, meskipun pesertanya masih terbatas jumlahnya, tapi  pawai ini langsung menjadi perhatian khusus Asrun Walikota Kendari. Asrun kemudian menegaskan, bahwa event Pawai Budaya Kendari ditetapkan menjadi agenda tetap pada peringatan hari ulang tahun Kendari setiap tahun. Maka jadilah Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengagendakan event ini.
Pada tahun 2014 dan 2015, event Pawai Budaya Kendari makin menarik karena semua etnis berpartisipasi. Misalnya etnis Bugis Bone, etnis Muna, etnis Tolaki, etnis Tionghoa, etnis Toraja, etnis enrekang, etnis Ambon. Lalu ada etnis Betawi, etnis Aceh, etnis, Batak, etnis Papua, etnis Manado. Tak mau kalah, etnis Bali, etnis Jawa, etnis Sunda, etnis Wakatobi, etnis Wawonii dan masih banyak lagi, turut memeriahkan pawai budaya.
Mereka menampilkan baju adat, seni dan budaya yang dimiliki masing-masing etnis. Mereka arak-arakan dalam Kota Kendari dan finish di depan Kantor Walikota Kendari atau tepatnya di alun-alun MTQ Kendari.
Melihat antusias peserta Pawai Budaya Kendari semakin bertambah, Asrun Walikota Kendari juga bertambah semangat. Kelak event ini diharapkan dapat menjadi tontonan wisatawan domestik dan mancanegara. Dengan hadirnya wisatawan, Kota Kendari akan lebih ramai lagi.
Bila anda ingin menyaksikan Pawai Budaya Kendari, datanglah di Kota Kendari pada awal bulan Mei. Atau menjelang perayaan HUT Kota Kendari yang jatuh setiap tanggal 9 Mei tahun berjalan. Agenda tetap ini dipastikan anda dapat puas melihat atraksi budaya yang ditampilkan setiap etnis.
Gadis-gadis dari etnis Wakatobi dalam Pawai Budaya Kendari

Pawai Budaya Kendari dari etnis Ambon

Pawai Budaya Kendari dari etnis NTT

Pawai Budaya Kendari dari etnis Tolaki

Reog ponorogo dari etnis Jawa tampil di Pawai Budaya Kendari
JURNALIS : RUSTAM

Jurnalis Cendana News wilayah Sulawesi Tenggara. Sebelum bergabung dengan Cendana News sudah menjadi wartawan di beberapa media cetak lokal maupun nasional. Gabung dengan Cendana News Oktober 2015. 

Akun twitter : @rustamcnd 
Lihat juga...