Peneliti Optimis Temukan Kapal Kuno di Bukit Kepayang Lampung

LAMPUNG — Proses pengeboran di lokasi dugaan adanya kapal kuno yang tenggelam dan terbawa arus piroklastik letusan Gunung Krakatau 1883 sementara dihentikan. Penghentian pengeboran tersebut dilakukan akibat electromotor pada bagian mesin bor yang digunakan mengebor bukit kepayang mengalami kerusakan.
Menurut  peneliti independen Hadi Subroto, proses penggalian yang sudah memakan waktu sekitar dua tahun tersebut merupakan upaya untuk menemukan dugaan adanya kapal  kuno yang tertimbun di Bukit Kepayang, Bakauheni, Lampung Selatan, akibat tsunami terkait letusan Gunung Krakatau tahun 1883.
“Dari hasil pengujian geolistrik tampak jelas bahwa objek yang diduga badan kapal terlihat membentuk anomali yang menyerupai irisan sebuah lambung kapal dengan posisi mengguling menghadap ke timur dengan ukuran tinggi lambung dan dak masing-masing sekitar 15 meter,” kata dia, di Bakauheni, Lampung Selatan, Rabu (11/11/2015).
Berdasarkan keyakinannya menggunakan uji geolistrik proses penggalian tersebut tetap dilakukan meski sebagian orang masih meragukan upaya yang dilakukan pria ini. Selain menggunakan tekhnik geolistrik ia juga menggunakan metode foto satelit dan analisa pergeseran jejak longsor.
“Saya sedang terus mengumpulkan biaya secara mandiri untuk penelitian serta proses penggalian hingga nantinya menemukan dugaan kapal yang sudah saya cari sejak lama tersebut,”ungkap Hadi Subroto.
Menurut dia seperti keyakinannya sejak awal ia terus melakukan penggalian di lereng bukit kepayang yang berada di Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan. Dibantu oleh beberapa pekerja hingga awal November ia bahkan mengerahkan alat bor karena penggalian dengan tekhnik manual terkendala kerasnya batuan di dalam terowongan yang sudah digalinya. 
Kedahsyatan tsunami yang terjadi pada tahun 1883 akibat letusan Gunung Krakatau telah mengakibatkan adanya aliran piroklastik dari arah Gunung Krakatau yang membawa beberapa benda yang ada di Selat Sunda termasuk kapal yang diduga terbawa tsunami hingga ke puncak bukit Kepayang.
Hadi menegaskan dari foto satelit juga  ia telah menduga adanya kapal yang menyangkut di puncak bukit Kepayang dengan ketinggian 155 meter di atas permukaan laut. Selanjutnya kapal tersebut bergerak menuruni lereng bukit yang memiliki kemiringan sebesar 20 derajat sejauh sekitar 150 meter di lereng bukit pada ketinggian 125 meter di atas permukan laut.
“Tidak hanya sampai di situ, kapal mengalami longsor untuk kedua kalinya sejuah 150 meter hingga di dasar bukit,” ujarnya.
Hadi mengatakan di posisi terakhir ini, pola bayangan berbentuk mirip lambung sebuah kapal berada pada gundukan sepanjang 200 meter membentang dari utara ke selatan.
Penelitian juga berlanjut dengan melakukan penggalian secara manual dari puncak gundukan longsor dengan metode pembuatan sumur dengan peralatan pahat batu.
“Proses penggalian ini memakan waktu sekitar dua tahun lebih dari penggalian manual hingga penggalian menggunakan mesin bor,” katanya.
Ia memperkirakan keberadaan kapal tersebut pada kedalaman antara 25–30 meter dari permukaan bukit.
Pengeboran Dilakukan untuk Memasukan Kamera
Hadi Subroto mengungkapkan proses pengeboran yang dihentikan akibat kerusakan mesin bor akan dilanjutkan beberapa hari ke depan jika mesin bor sudah diperbaiki. Mata bor tersebut digunakan untuk melubangi struktur batuan yang menimbun dugaan kapal kuno di bukit Kepayang tersebut. 
Berdasarkan kronologi penelitiannya, ia menuturkan proses riset independen tersebut dimulai sejak 2010 kemudian dilanjutkan proses penggalian awal menggunakan metode manual pada tahun 2012, selanjutnya proses penggalian menggunakan alat berat escavator pada 2014, hingga terakhir pada awal November  sudah tahap penggunaan mesin bor yang akan digunakan untuk memasukkan kamera ke  dalam body kapal.
“Kita gunakan mata  bor desain sendiri dan selanjutnya kami akan menggunakan mata bor buatan Jerman jenis tricon,”ungkap Hadi Subroto.
Penggunaan kamera tersebut ungkap Hadi Subroto dilakukan  agar seluruh stakeholder dapat menyaksikan melalui camera yg masuk kapal. Ia mengungkapkan proses eksplorasi tersebut dengan kaidah UU no 11 tahun 2010 tentang cagar budaya.
Sebelumnya Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Selatan Sutono mengatakan bahwa Pemkab Lampung Selatan mendukung penelitian oleh peniliti independen ini untuk penemuan kapal yang diduga terhempas oleh tsunami Krakatau 1883.
“Poin penting dari penelitian ini adalah untuk pendidikan. Selain itu juga untuk pengetahuan sejarah serta parawisata ke depannya,”ungkapnya.
Ia menambahkan apabila kapal tersebut benar ada, ke depan kawasan ini akan dijadikan situs wisata budaya, arkeologi, dan pendidikan serta pengetahuan sejarah.
Karena itu, pihaknya akan menyiapkan infrastruktur berupa perbaikan akses jalan yang bagus menuju kawasan ditemukannya kapal tesebut dan pembuatan duplikat kapal serta museum.
JURNALIS : HENK WIDI

Bergabung dengan Cendana News pada bulan November 2014. Dengan latar belakang sebagai Jurnalis lepas di beberapa media dan backpacker, diawal bergabung dengan Cendana News, Henk Widi fokus pada pemberitaan wisata dan kearifan lokal di wilayah Lampung dan sekitarnya.

Twitter: @Henk_Widi
Lihat juga...