Pengamat: Pembangunan Kilang Terapung Hanya Untungkan Investor

Dipl-Oek Engelina Pattiasina-1
AMBON — Direktur Archipelago Solidarity Foundation, Engelina Pattiasina mengatakan, dalam Plan of  Development pertama (POD I) yang disetujui Desember 2010, kontraktor akan membangun kilang Floating Liquefied Natural Gas (FLNG) atau LNG terapung dengan kapasitas 2.5 juta ton per tahun (MTPA) di gas Blok Masela dan 24 blok Migas lainnya di Maluku .
Menurutnya, Proyek  investasi sebesar US$ 5 miliar ini mulai berproduksi akhir 2016. Pembangunan kilang terapung hanya menguntungkan investor semata, tetapi tidak memperhatikan dampak ekonomi bagi masyakat Maluku.
“Untuk itu, kami bersama-sama dengan sejumlah akademisi, tokoh masyarakat Maluku teleh bertemu Menko Kemaritiman, Dr. Rizal Ramli untuk meminta agar LNG dibangun di darat, karena hal itu akan merangsang pusat pertumbuhan ekonomi di Maluku. Rizal Ramli menawarkan agar LNG dibangun di Kepulauan Aru, dengan menggunakan pipa gas dari Blok Masela,” ujar Engelina Pattiasina kepada Cendana News di Ambon Senin (23/11/2015).
Menurut Engelina, ia bersama rekan-rekannya sudah mengusulkan agar LNG dibangun di Pulau Wetar dengan mempertimbangkan jarak dari Blok Masela sekitar 365 Km, potensi pengembangan ekonomi Maluku ke depan, dan memperhatikan keselamatan lingkungan di Kepulauan Aru.
“Dalam konteks ini, semua harus berpijak kepada pasal (33) UUD 1945, Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Rumusan pendiri negara ini sangat jelas, Indonesia harus menguasai sendiri kekayaan alamnya dan tidak boleh tergantung apalagi menyerahkan kepada negara lain,” tegasnya.
Kalau ini terjadi, hampir dipastikan selalu ada “tangan kuat” yang membelokkan arah pengelolaan kekayaan alam. Ukuran itu akan jelas, ketika melihat keberpihakan terhadap rakyat dari setiap kebijakan atau rekomendasi.
Gas Abadi
Lanjutnya, niat Inpex mengembangkan LNG terapung semata-mata karena lebih murah, tetapi tidak membawa dampak bagi masyarakat Maluku. Sebab, gas diangkut dari Masela untuk diekspor ke luar negeri tanpa mampu dikontrol Indonesia secara maksimal.
Pasalnya, saat ini, Jepang merupakan importir terbesar LNG di dunia. Blok Abadi Gas Masela hendak dijadikan oleh Inpex sebagai pemasok utama gas LNG ke Jepang. Sehingga merupakan satu dari dua komponen strategis Inpex untuk meraih posisi perusahan pengebor migas upstream dunia. Ladang gas lain Inpex lainnya terletak di Ichthys, Australia Barat dengan nilai proyek investasi sekitar 34 miliar dollar AS dan kapasitas produksi tahunan sekitar 8,4 juta ton.
Pada 2010, Pemerintah RI membayangkan Blok Masela dapat merupakan masa depan investasi sektor gas di Negara RI awal abad 21 dan seakan-akan dapat merebut lagi posisi Negara RI sebagai eksportir LNG terbesar di dunia.
JURNALIS : SAMAD VANATH SALLATALOHY

Jurnalis Cendana News wilayah Maluku. Sebelum bergabung dengan Cendana News sudah menjadi jurnalis di beberapa media cetak lokal. Bergabung Cendana News mulai pertengahan 2015.

Akun twitter : @vanlohy
Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto : doc pribadi Engelina Pattiasina
Lihat juga...