Pengamat: Pendidikan di Maluku Belum Didukung SDM Memadai

Mohamad Polhaupessy
AMBON — Pengamat Pendidikan asal Kota Ambon Maluku, Mohamad Polhaupessy menyebutkan, peningkatan mutu pendidikan sesuai keinginan kurikulum di Kota Ambon khususnya dan Provinsi Maluku masih terkendala dalam sumber daya manusia, terutama tenaga pendidik.
“Di Ambon Ibukota Provinsi saja, banyak guru yang belum memahami IT. Padahal IT satu dari variabel lain yang bisa digunakan sebagai sarana untuk mendongkrak mutu pendidikan di Kota Ambon dan Maluku umumnya,” ujarnya ketika diwawancarai Cendana News di Ambon, Rabu (18/11/2015).
Disebutkann, soal kapasitas intelektual guru, kompetensi guru masih rendah. Kelemahan lain, soal regulasi mulai peraturan pemerintah, UU, Pancasila dan UUD 1945, instansi berwenang belum sepenuhnya memiliki komitmen utuh, untuk menjalankannya.
“Soal sertifikasi misalnya, bagi saya tidak seprofesional seperti yang diamanatkan dalam ketentuan yang berlaku,” tandasnya.
Untuk anak didik, level SMA saat ini sebagian besar siswa dan guru sudah didukung dengan infrastruktur yang siap. Namun dia menggaris bawahinya, kondisi berbeda akan ditemui di Sekolah Dasar, utamanya tenaga pendidik yang notabenenya adalah guru kelas.
“SMA hanya guru mata pelajaran. Banyak kegiatan yang dilakukan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, itu berbasis mata pelajaran,” lanjutnya.
Sedangkan untuk guru SD (Guru Kelas), yang terkesan dipaksakan untuk memahami semua mata pelajaran.
“SD sebagai pondasi, harusnya ini yang diperhatikan. Barulah kita bisa bicara peningkatan mutu pendidikan di kota Ambon maupun Maluku umumnya,” tegasnya.
Dia mencontohkan, SD Negeri 87/79 Kota Ambon, merupakan salah satu SD dengan jumlah murid terbanyak.
Tercatat total siswa di atas 600 orang. Dengan rombel diisi 40 sampai 50 murid, dibagi menjadi 18 rombel untuk menempati 13 ruang kelas, maka begitu besar jumlah murid dalam kelompok belajar ini, kendala lain untuk mengukir sejauh mana tingkat keberhasilan implementasi K13 nanti.
“Betapa sulit membayangkan untuk mengukur tingkat kualitas, kesuksesan suatu pembelajaran dengan kondisi jumlah siswa yang tidak  efektif,” ungkapnya.
Padahal, kata Polhaupessy, penerapan  metode  pembelajaran yang  tepat bukan jaminan untuk menghasilkan   kualitas  yang sebentar nanti akan berkompetensi.
Padahal, semua pihak utamanya organisasi PGRI, juga memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu pendidikan di Provinsi seribu pulau tersebut.
“Intinya, untuk mencerdaskan anak bangsa, bukan hanya tanggung jawab orang per orang atau kelompok, tapi tanggung jawab semua pihak,” pungkasnya.
JURNALIS : SAMAD VANATH SALLATALOHY

Jurnalis Cendana News wilayah Maluku. Sebelum bergabung dengan Cendana News sudah menjadi jurnalis di beberapa media cetak lokal. Bergabung Cendana News mulai pertengahan 2015.

Akun twitter : @vanlohy
Lihat juga...