Perda TNRAW Berikan Kepastian Hukum Bagi Masyarakat Adat Bombana

Kawasan TNRAW yang ditinggali warga Moronene Hukaea
KENDARI— Sebanyak 110 Kepala Keluarga (KK) Moronene Hukaea, Kabupaten Bombana yang mendiami kawasan Taman Nasional Rawa Aopa (TNRAW) sudah bisa hidup dengan tenang, karena sudah diatur Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 tahun 2015 tentang pengakuan dan pemberdayaan masyarakat adat.
“Perda Nomor 4 tahun 2015 ini ditetapkan tanggal 7 September lalu. Perda ini dikhususkan warga Moronene Hukaea yang tinggal dalam taman nasional,” kata Erwin, Direktur Eksekutif Sulawesi Institute yang menginisiasi lahirnya Perda tersebut.
Perjuangan Sulawesi Institute untuk membela hak hidup layak warga Moronene Hukaea yang tinggal di kawasan TNRAW sejak tahun 2002. Namun nanti pada tahun 2015, barulah Pemerintah Kabupaten Bombana melalui DPRD memberi kepastian dengan terbitnya Perda No 4/2015.
Warga Moronene yang mendiami kawasan TNRAW diperkirakan pada tahun 1964, ketika itu gerombolan DI/TII masih beroperasi mengacaukan keamanan di bekas wilayah Kabupaten Buton ini. Warga bersembunyi di tengah hutan TNRAW, untuk menyelamatkan diri.
Tapi karena status tempat mereka berdomisili di kawasan TNRAW, sehingga beberapa kali  mereka diusir secara paksa untuk meninggalkan kawasan tersebut. Tetapi mereka tetap bertahan dengan dalih status tanah adat.
Pada tahun 1998, saat Saidoe masih menjabat Bupati Buton, rumah kebun milik warga Hukaea dibakar. Mereka diusir karena dianggap telah merambah hutan kawasan taman nasional, dan sudah mengganggu ekosistem habitat lain.
Di zaman pemerintahan Order Baru, TNRAW ini menjadi kawasan wisata yang ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara untuk melihat kehidupan margasatwa rusa. Kelompok-kelompok rusa itu dapat dijumpai di pinggir jalan yang membelah kawasan TNRAW antara Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) dan Kabupaten Bombana. Panjang jalan yang membelah kawasan itu sekitar 47 Km.
Tapi pasca Orde Baru berakhiri, habitat rusa sudah berkurang. Hewan ini tidak dijumpai lagi di pinggir jalan. Padahal Polisi Jagawana dari Dinas Kehutanan Provinsi Sultra yang di tempatkan di area itu, masih terus berjaga-jaga hingga sekarang.
JURNALIS : RUSTAM

Jurnalis Cendana News wilayah Sulawesi Tenggara. Sebelum bergabung dengan Cendana News sudah menjadi wartawan di beberapa media cetak lokal maupun nasional. Gabung dengan Cendana News Oktober 2015. 

Akun twitter : @rustamcnd 
Lihat juga...