Perjalanan Sampah Kapal Hingga ke Lokasi Pembuangan

Fotografi
Perjalanan Sampah Kapal Hingga ke Lokasi Pembuangan
Karya : Henk Widi
Lokasi, Lampung, Rabu, 04 November 2015
Tak banyak yang mengira kapal merupakan salah satu penyumbang sampah berbagai jenis ke daratan. Meskipun aktifitas di lautan namun sampah yang berada di kapal akan dibuang ke daratan. Cendana News mencoba mengikuti perjalanan sampah tersebut dari kapal menuju lokasi pembuangan hingga dipilah-pilah oleh para pemulung.
Puluhan ton sampah yang diambil dari kapal kapal Roll on Roll Off (Roro) yang berada di lintasan Selat Sunda dibuang ke tempat pembuangan sampah Dusun Penataan Desa Hatta Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan Provinsi Lampung. Sampah sampah tersebut merupakan kumpulan sampah yang dibuang dari aktifitas di dalam kapal Roro dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan. Setiap kapal berlabuh satu unit kendaraan sampah jenis L 300 yang sudah dimodifikasi masuk ke dalam kapal dan mengangkut sampah ke tempat pembuangan sampah.
Salah satu petugas kebersihan yang merupakan bagian dari Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Cabang Bakauheni, Ujang (34) mengungkapkan mobil sampah setiap hari mengangkut sampah ke lokasi tersebut. Sampah tersebut dimasukkan dalam kantong plastik besar yang sudah disiapkan oleh masing masing kapal.
Sampah dari dalam kapal tersebut dan langsung dibersihkan oleh  petugas rata rata sekitar 5 hingga 6 kantong setiap kapal perhari. Sementara jumlah kapal yang beroperasi bisa mencapai 22 kapal perhari.
Sebanyak 3 unit mobil milik Gapasdap setiap minggunya untuk mengangkut sampah kapal berbagai jenis ke lokasi pembuangan sampah tersebut. Bahkan dalam satu bulan sebanyak 60 hingga 70 plastik sampah kapal tersebut diangkut dan dibuang ke lokasi pembuangan sampah yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Pelabuhan Bakauheni.
Sampah yang dibuang tersebut menjadi sumber penghasilan bagi warga yang secara khusus menjadi pemulung dari sampah sampah yang dibuang di lokasi tersebut. Pantauan media CDN ada sekitar 6 warga yang sejak pagi sudah berada di lokasi pembuangan samoah tersebut. Bahkan mereka dengan gesit memilah setiap sampah untuk bisa mengambil sampah yang bisa dimanfaatkan dan dijual kembali.
Salah satu warga dari Desa Yogaloka yang sudah setahun ini memulung di lokasi tersebut. Putu dan beberapa wanita serta laki laki lain yang sejak pagi berada di lokasi pembuangan sampah tersebut merupakan para pemulung yang setiap hari mengais sampah untum mendapat uang tambahan. Sampah plastik yang masih bisa dimanfaatkan selanjutnya dijual kepada pengepul rongsokan. Putu mengaku mendapat uang sebanyak Rp100ribu dalam tiga hari dan kadang tak memperoleh uang jika sampah tersebut tidak banyak yang mengandung plastik.
Ia mengaku melakukan pekerjaan tersebut untuk membantu pekerjaan sang suami yang bekerja sebagai buruh angkut di Pelabuhan Bakauheni. Ia mengaku berangkat sejak pagi dan pulang sore hari dengan membawa karung yang berisi sampah plastik yang akan dijual ke pengepul jika sampah plastik miliknya sudah cukup banyak. Sampah sampah dari kapal tersebut ternyata mampu  menjadi penghasilan tambahan bagi warga di sekitar lokasi pembuangan sampah tersebut.
Pantauan Cendananews.com para pencari sampah tersebut sudah terbiasa dengan aroma busuk menyengat dan bahkan tak menggunakan masker meskipun saat CDN berada di lokasi pembuangan sampah tersebut aroma busuk menyengat hidung. Mereka mengaku sudah terbiasa dengan bau tersebut dan lebih mementingkan untuk mendapatkan sampah untuk bisa dijual dan mendatangkan pendapatan.

Lihat juga...