Perlindungan Hutan Akan Disimulasikan dalam Film Dokumenter

Sampul Film Dokumenter

JAYAPURA—Papua yang termasuk salah satu paru-paru dunia, kini menjadi sorotan tentang perlindungan hutan dari kebijakan-kebijakan pemerintah dibidang energi dan tata guna lahan. Dari dasar tersebut, World Wide Fund (WWF) Indonesia region Papua akan menggelar nonton bareng film dokumenter tentang kondisi bumi di masa yang akan datang. 

Organisasi non-pemerintah internasional yang menangani masalah-masalah tentang konservasi, penelitian dan restorasi lingkungan tersebut bekerjasama dengan British Embassy Jakarta akan menayangkan film dokumenter yang berjudul The Age of Stupid. 
Pemutaran film dokumenter yang menceritakan bagaimana kondisi bumi di masa yang akan datang, jika manusia mengabaikan upaya untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Film dokumenter tersebut nantinya menjadi bahan pertanyaan bagi para undangan seperti jurnalis, sejumlah SKPD dan para tokoh-tokoh di Kota Jayapura. 
Perwakilan Kedutaan Besar (Kedubes) Inggris untuk Indonesia, Energy Adviser, Rizka Sari akan menjawab semua pertanyaan tentang perubahan iklim dan bagaimana peranan Indonesia dalam mendorong proses negosiasi internasional.

Hubungan Masyarakat (Humas) WWF Indonesia region Papua, Andhiani M. Kumalasari mengatakan kebijakan-kebijakan  yang  diambil  Pemerintah  di  bidang  energi  dan  tata  guna  lahan  akan sangat mempengaruhi  laju  pembangunan  negara tersebut.  
“Selain dampaknya pada tingkat  pertumbuhan  ekonomi, kebijakan-kebijakan  tersebut  juga  dapat berpengaruh  pada  perkembangan  sumber  energi  baru  dan terbarukan, jenis dan besar  permintaan energi dari berbagai sektor, maupun pada kelestarian lingkungan,” kata Andhiani, Senin (02/11/2015).
Menyadari pentingnya mencermati potensi dampak-dampak tersebut, lanjutnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bekerjasama dengan Kementerian Energi dan Perubahan Iklim Kerajaan Inggris (UK Departement of Energy  and  Climate  Change  –  UK-DECC)  telah  mengembangkan  sebuah  alat  simulasi  kebijakan  bernama Indonesia  2050  Pathway  Calculator  atau  Kalkulator  Indonesia  2050  (KI2050).
“KI2050  merupakan  suatu  simulator  web  yang  memungkinkan  pengguna,  berperan  sebagai pengambil kebijakan, untuk memilih beberapa opsi kebijakan sektoral dan melihat dampak dari kombinasi pilihan-pilihan tersebut terhadap ketahanan  energi, penggunaan lahan, dan emisi  gas rumah kaca (GRK)  yang dihasilkan,” ujarnya.
Pihaknya akan menyebarluaskan informasi melalui sebuah film dokumenter mengenai keberadaan dan tata cara penggunaan KI2050 serta bagaimana mengembangkan KPP2050, maupun untuk memicu diskusi pilihan-pilihan kebijakan Indonesia dan Provinsi Papua menuju tahun 
“Besok, Selasa (03/11/2015) urutan kegiatannya pertama, nonton bareng film Perubahan Iklim ‘2 Degrees’, kedua, workshop tentang perkembangan Indonesia menuju tahun 2050 dan Indonesia 2050 Pathway Calculator terakhir media  briefing,” jelasnya. 
Ditempat terpisah, salah satu jurnalis media cetak regional Kota Papua, Abdel Gamel Naser mengatakan manusia tak dapat hidup tanpa energi dan jika dikaitkan dengan kondisi terakhir sekitar lingkungan ini, manusia tak bisa mengantungkan hidup dengan terus memanfaatkan energi bumi, karena pelan namun pasti, semuanya akan segera habis. 
“Energi terbarukan perlu digalakkan seperti Solar Cell, pemanfaatan energi tak yang lebih praktis, murah dan terukur untuk pasokan listrik. Bumi saat ini mengalami perubahan iklim atau climate change dan itu nyata, bumi semakin tua dan semakin panas, manusia perlu sikapi dengan bijak dan ikut menjaganya,” kata Gamel yang juga salah satu pecinta lingkungan ini. 
Menurutnya, pemutaran film itu sebagai salah satu penyebaran infromasi soal bumi, WWF sudah lama memulai dan harus direspon pemerintah dengan kebijakan kongkrit dan tepat, sesuai kondisi teritorial masing-masing daerah di Indonesia. 
“Soal informasi tentang bumi kedepannya, harus disosialisasikan terus. Seperti mendatangi kampus-kampus atau komunitas guna menularkan atmosfir positif ini. Tapi yang lebih penting adalah film tersebut harus mengena dan memberi dampak. Saya sudah beberapa kali menyaksikan film dengan isu yang sama, dan itu sangat membantu membuka wawasan kita, ini semua perlu doktrin dan komitmen bersama,” tutup pria yang juga anggota Forum Peduli Port Numbay Green, Papua. (Editor : Sari Puspita Ayu)

JURNALIS : INDRAYADI T. HATTA

Jurnalis Cendana News wilayah Papua. Bergabung dengan Cendana News bulan April 2015. Sebelum bergabung dengan Cendana News, menjadi jurnalis dan fotografer lepas untuk berbagai media cetak dan online dalam berbahasa Indonesia dan Inggris.

Akun twitter : @indrayadihatta

Lihat juga...