PKL Tergugat Denda Rp 1,12 Milyar di Yogyakarta Mengaku Cemas

Agung Budi Santoso, salah satu PKL yang menjadi tergugat 1,12 M
YOGYAKARTA — Lima pedagang kaki lima (PKL) di kawasan pertigaan Gondomanan, Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta yang digugat denda ganti rugi sebesar Rp 1,12 Milyar oleh seorang pengusaha bernama Eka Aryawan mengaku kian khawatir, karena proses persidangan yang terus berjalan, sedangkan upaya penggalangan uang koin atau receh dilakukan sampai hari ini baru memperoleh sebanyak Rp 3,3 Juta. 
Ditemui Selasa (24/11/2015) di warungnya, Budiono dan Agung Budi Santoso, dua di antara lima PKL tergugat denda Rp 1,12 Milyar mengaku resah karena sidang gugatan denda ganti rugi itu terus berjalan. Sebelumnya, para PKL sempat merasa lega karena tim kuasa hukum keraton menyatakan bisa saja mencabut surat kekancingan milik penggugat sehingga proses hukum bisa berhenti.
Namun pernyataan itu sampai kini belum juga terwujud, sehingga proses persidangan terus berjalan. Dan, Budiono serta empat PKL lainnya kini mengaku semakin khawatir jika sidang sampai menemui vonis denda ganti rugi sebesar Rp 1,12 Milyar. Sebab, aksi penggalangan uang koin atau receh yang dilakukan sejak beberapa bulan lalu sampai kini masih jauh dari mencukupi. Saat ini, katanya, jumlah uang koin yang didapatkan baru Rp. 3.338.000. Dari uang itu, sebanyak Rp 2.000.000 merupakan sumbangan dari komunitas tukang kunci seluruh Indonesia perwakilan Kebumen, Jawa Tengah, pada awal November, lalu.
Budiono sangat berharap, pihak keraton akan berpihak kepada rakyat kecil seperti dirinya. Sejauh ini Budiono dan Agung juga mengaku sangat terbebani dengan agenda sidang yang sudah dijalaninya sebanyak delapan kali. Seumur-umur, katanya, ia belum pernah berurusan dengan hukum. 
“Setiap hari saya berpikir bagaimana nanti kalau ditanya dan bagaimana menjawabnya. Juga repot karena harus meninggalkan warung setiapkali sidang, belum biaya transport dan beli minum waktu menunggu sidang,” keluhnya.
Sekedar mengingatkan, gugatan denda ganti rugi sebesar Rp. 1,12 Milyar itu terkait dengan sengketa lahan milik Keraton Yogyakarta atau Sultan Ground (SG), yang berada di sisi barat pertigaan Gondomanan, Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta, seluas 73 meter persegi.
Budiono mengaku telah menempati lahan itu sejak tahun 1960-an secara turun-temurun. Namun belakangan sejak tahun 2011 seorang pengusaha bernama Eka Aryawan mengklaim lahan yang telah ditempati oleh Budiono tersebut merupakan miliknya yang didasarkan pada surat kekancingan dari Keraton dengan No. 203/HT/KPK/2011. Surat kekancingan itu menunjukkan Eka Aryawan merupakan pemilik sah izin penggunaan lahan SG tersebut.
Atas dasar surat kekancingan itu, Eka Aryawan menggugat Budiono dan empat PKL lainnya yaitu Agung, Sutinah, Sugiyadi dan Suwarni dengan tuduhan telah bersama-sama menguasai, menempati dan melakukan kegiatan usaha di atas tanah seluas 5×5,6 meter atau lebih kurang 28 meter persegi di atas tanah hak pinjam pakai dari seluas 73 meter persegi itu tanpa izin.
Terhadap sengketa lahan tersebut, Keraton Yogyakarta melalui kuasa hukumnya telah memediasi kedua belah pihak sebanyak tiga kali. Namun mediasi itu gagal karena pihak penggugat Eka Aryawan tidak pernah sekalipun hadir memenuhi undangan mediasi. Atas hal itu, Achiel Suryanto selaku kuasa hukum keraton menyatakan, jika pihaknya bisa saja mencabut surat kekancingan Eka Aryawan. Namun, sampai kini, hal itu belum juga dilakukan. 

JURNALIS : KOKO TRIARKO

Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.

Akun twitter @KOKOCND
Editor : ME. Bijo Dirajo / Fotografer : Koko Triarko
Lihat juga...