Promosikan Budaya Daerah, Ikami Sulsel Gelar Budayata di Malang

MALANG — Memperkenalkan, melestarikan dan menanamkan budaya daerah, Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan (Ikami Sulsel) cabang Malang kembali menggelar acara Budayata atau dalam Bahasa Indonesia berarti Budaya kita. 
“Meski berada di rantau orang, namun kami menganggap diri kami sebagai duta Sulsel,”ujar ketua panitia, Khoirul Fajrul di Gedung Kesenian Gajayana, Minggu (09/11/2015).
Kegiatan yang dilaksanakan sejak 2012 selalu mengambil konsep yang berbeda, terutama untuk edisi ke enam tersebut.
“Jika Budayata satu, dua dan tiga lebih mengedepankan tari-tarian, maka Budayata tahun ini berbeda dan lebih segar yaitu dengan menampilkan tidak hanya tari-tarian tetapi juga menampilkan teater serta pemusik yang kami datangkan langsung dari Sulsel,” ungkap Oskar.
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Romansa Siri’ Na Pacce”. Siri’ berarti malu atau harga diri dan pacce berarti pedih dan jika digabung bisa dimaknai bahwa untuk mempertahankan harga diri tidaklah muda dan butuh pengorbanan.
“Dalam pertunjukkan Budayata kali ini kami mengangkat kejadian pada abad 17 dimana suku bugis bertikai dengan suku Makasar,” jelasnya.
Selain sebagai kegiatan rutin tahunan, diacara ini juga digunakan sebagai ajang kreativitas dan promosi budaya kepada masyarakat terutama para remaja.
Menurut Oskar, budaya asing sekarang sudah merajalela dan menjajah bangsa Indonesia. Oleh karena itu, melalui Budayata merupakan wujud mempertahankan budaya-budaya leluhur yang mulai punah. 
“Dan kami berharap agar generasi muda Indonesia bisa mempertahankan dan menanamkan kembali budaya leluhur kita,” harapnya.
Sementara itu, tepat pukul 19.30 WIB acara dimulai dengan menampilkan pertunjukkan drama yang mengisahkan tentang permusuhan kerajaan Bugis dan Makassar pada abad ke-16. Dalam cerita tersebut, raja Makassar sebenarnya ingin berdamai dan bersekutu dengan raja Bugis untuk melawan pasukan Belanda yang mulai memasuki daerah Sulawesi. Untuk memuluskan niatnya, Raja Makassar mengundang Raja Bugis untuk bertemu di kerajaannya. Dalam pertemuan tersebut kedua kerajaan menampilkan tari-tarian khas Makassar dan Bugis. 
Meskipun telah diajak bersekutu melawan Belanda oleh Raja Makassar, namun Raja Bugis masih mempertimbangkan tawaran tersebut.
Namun dibalik permusuhan Makassar dengan Bugis, ternyata terdapat sebuah cerita percintaan antara Putri Makassar dengan Pangeran Bugis. Raja Makassar yang mendengar hal tersebut langsung naik pitam dan melarang putri Makassar untuk melupakan cintanya pada pangeran Bugis serta membatalkan rencananya untuk bersekutu dengan kerajaan Bugis. Karena menurut Raja Makassar kisah cinta putrinya dengan pangeran Bugis merupakan sebuah pelanggaran adat.
Meski sudah dilarang, namun putri Makassar tetap nekat menemui pangeran Bugis yang akhirnya diketahui oleh Raja Makasar dan memerintahkan prajuritnya untuk menangkap dan menghukum pangeran Bugis.
Raja Bugis yang mendengar anaknya akan segera dihukum, langsung mendatangi kerajaan Makassar. Raja Bugis mencoba untuk melakukan deplomasi, namun Raja Makassar tetap tidak bisa mengampuni pangeran Bugis.
Karena tidak menemukan jalan keluar, akhirnya raja Bugis menantang Raja Makassar untuk melakukan Sigajang Laleng Lipa yaitu dua orang berduel di dalam sarung menggunakan badik (pisau) untuk menyelesaikan persoalan meski nyawa jadi taruhan.
Acara Budayata kemudian ditutup tarian empat Etnis yang merupakan gabungan dari empat suku besar di Sulsel yaitu Bugis, Makasar, Toraja dan Mandar.


JURNALIS : AGUS NURCHALIQ

Jurnalis Cendana News wilayah Jawa Timur/Malang. Gabung dengan Cendana News Maret 2015. 

Akun twitter : @shugabst2
Lihat juga...