Prosesi Karia Turunan Raja Muna, Para Kalambe Dibekali Ilmu Kehidupan di Kamar Tertutup

Barisan Karia Kalambe
CATATAN JURNALIS—Pemerintah Kabupaten Muna tetap mempunyai komitmen yang kuat untuk melestarikan budaya Muna yang saat ini mulai terkikis dengan perkembangan zaman yang makin modern.
Ini dibuktikan dengan digelarnya budaya dalam bahasa Muna Karia (pingitan) bagi anak wanita (kalambe) maupun pria yang sudah menginjak dewasa. Seluruh rangkaian prosesi karia berlangsung selama 6 hari.
Dalam sejarah, karia adalah upacara masyarakat Muna yang pertama diadakan pada masa pemerintahan Raja La Ode Husein yang bergelar Omputo Sangia terhadap putrinya Wa Ode Kamomono Kamba.
Dalam kaidah bahasa Muna, karia berasal dari kata kari yang artinya (1) sikat atau pembersih, (2) penuh atau sesak. Sedangkan makna secara konkrit berarti ribut atau keributan. Arti lain adalah keramaian.
Pendekatan secara filosofis jika ditinjau dari aspek rilologi bahwa karia berarti ribut, ramai dan keramaian benar adanya, karena dalam pelaksanaan upacara ini karia tidak hanya berdiri sendiri sebagai suatu acara tutura, tetapi secara lengkap dan paripurna.
Acara karia selama empat hari, empat malam ditempa dalam sebuah tertutup (songi) yang dikemas khusus. Untuk menghilangkan rasa stress selama dalam masa pingitan, para kalambe diselingi acara rambi padangga (memukul gong), mangaro yaitu sandiwara perkelahian.
Dalam masa pingitan, makan, minum dan jam tidur diatur. Ini dimaksudkan agar kelak dapat hidup dalam kesederhanaan. Sedangka iringan tarian, nyanyian, pantun dan gong adalah isyarat pembinaan hidup untuk senantiasa menabur semangat dan percaya dalam menghadapi hidup ini.
               
PROSESI KARIA 
Kaalano Oe Kaghombo
Untuk mengawali prosesi  karia, dimulai dengan mengambil air yang akan dighombo bersama peserta karia. Air diambil di tempat khusus yang ditentukan. Di masa lalu, air hanya boleh diambil di Kali Laende, sebagaimana diamanatkan Raja Muna, La Ode Maktubu Milano Wekaleleha (1903-1915). Kali Laende ketika itu dinobatkan sebagai air Alkausar. Tetapi sekarang, air dapat juga dapat diambil di kali yang airnya mengalir seperti oe bhalano dan fotune rete air.
Prosesi karia terhadap keluarga Ridwan BAE yang saat ini menjabat sebagai bupati Muna dimulai sekitar pukul 17.00 Wita,  Rabu (4/6). Pengambilan air dilakukan oleh delegasi atau petugas khusus, selanjutnya  di bawa di rumah raja terakhir Muna, La Ode Pandoe. Air itu kemudian disemayamkan di tempat tersebut.
Barisan Karia
Air tersebut diambil untuk mensucikan diri para wanita dan pria yang akan dipingit selama 4 hari di ruangan yang gelap gulita. Air itu nantinya dipakai mandi dan berwudu selama menjalani prosesi pingitan di rumah jabatan bupati Muna.
Setelah proses pengambilan air diiringi dengan musik tetabuhan asli Muna, dilanjutkan dengan panjat pohon pinang. Prosesi panjat pinang dilakukan selepas  magrib. Pria yang ditunjuk memanjat pinang untuk mengambil mayang pinang (Bhansano Bea), tidak sembarang orang tetapi orang-orang pilihan yang dianggap mampu menjalankan tugas, sesuai yang diamanatkan.
Salah satu syarat penting yang harus diperhatikan pemanjat pinang adalah tidak boleh bercakap-cakap, tidak boleh mendengarkan perintah dari siapapun setelah diperintahkan patande untuk memanjat mengambil inang pinang.
Setelah diberi isyarat, dengan cepat pemanjat pinang naik mengambil inang pinang. Hanya sekitar 7 menit lamanya, inang tersebut sudah dibawa sampai ke tanah  dengan memakai sarung. Selanjutnya mayang pinang yang akan dijadikan bantal para kariya dibawa ke rumah raja terakhir Muna di Kamali.
Pada hari yang sama, dilanjutkan pengambilan kuncup bunga (Kamba Wuna). Cara pengambilannya juga dilakukan delegasi khusus yang disebut Kodasano, namun sekarang dapat diambil oleh  petugas yang diberi kepercayaan oleh Koparapuuno (yang punya hajatan). Setelah seluruh perlengkapan siap, selanjutnya diserahkan kepada pemandu (Pomantoto) untuk disemayamkan di rumah Raja La Ode Pandoe. 
Pada periode Ridwan Bae masih menjabat sebagai Bupati Muna dan sekarang menjadi anggota DPRI, pernah menggelar acara budaya Karia pada bulan Juli 2007. Para kalambe yang akan dipingit menunggang kuda dari rumah raja di Kamali menuju rumah jabatan bupati Muna. Jaraknya lebih 1 Kilometer. Mereka menunggang kuda, dengan dasar agar mereka tetapi suci hingga di tempat pingitan karena tidak menyentuh tanah. Selain itu, pada masa lalu belum ada mobil atau motor, satu-satunya kendaraan yang dapat mempercepat perjalanan adalah kuda. 
Selama perjalanan menuju rumah jabatan bupati, warga Kota Raha keluar rumah melihat iring-iringan karia. Saat para karia melintas di depan RS Muna, para pembesuk orang sakit berhamburan keluar melihat para kalambe menunggang kuda. Demikian juga ketika melewati jalur pertokoan, seolah-olah bisnis mereka sejenak dilupakan. Mereka tertarik menyaksikan para karia.
Bagi kalambe yang dikaria, menunggang kuda terlihat memberikan kesan tersendiri. Sesekali terlihat mereka melempar senyum ke  arah masyarakat Muna yang berdiri di sepanjang jalan   menuju Galampano.
Di bagian depan rombongan karia adalah para tetabuh (tatabu) musik. Di belakang tetabuh, ada barisan perang yang dimainkan para pemuda pilihan. Disusul para tetua yang mengumandangkan takbir, baik saat akan berangkat dari Kamali maupun sampai di rujab bupati. Para tetua ini berpakaian putih-putih yang menandakan kesucian.
Di belakang  para  kalambe yang akan dipingit menunggang kuda, ada barisan pria yang juga iku dipingit dan barisan tetua atau tokoh adat dan tokoh masyarakat yang ikut beriringan. Sedangkan pria sebanyak 11 orang. Selama pingitan berlangsung, perlakuan pria berbeda dengan kaum wanita. Selama dalam masa pingit, para pria diberi pembekalan-pembekalan (Kakanu) tentang bagaimana sikap seorang pria yang benar dalam memimpin.
Rombongan karia tiba di rumah jabatan bupati, mereka yang dipingit belum dibolehkan masuk ruangan, sebelum prosesi takbir yang dikumandangkan  para tetua belum selesai. Mereka boleh masuk setelah takbir dibalas oleh para tetua yang telah menunggu di pintu masuk rumah. Setelah selesai, para rombongan satu persatu masuk ruangan diiringi musik gong dan gendang yang dimainkan sekitar 7 menit lamanya.
Barulah para kalambe yang dipingit masuk ke kamar khusus ( Suo) bagi puti-putri raja dan Songi untuk golongan masyarakat umum. Selepas sholat magrib, dilanjutkan dengan pembacaan Alquran. Setelah itu, para kalambe dimandikan oleh pomantoto dilanjutkan dengan mengganti pakaian serba putih. Air yang dipakai mandi adalah air yang diambil dari Kali Laende. Air yang dipakai mandi itu terlebih dahulu dibacakan doa oleh imam. Air tersebut ada dua  jenis yakni Oe modaino yang dianalogikan air tersebut dapat menolak segala kejahatan. Saat mandi dengan Oe modaino, para  karia menghadap sebelah barat. Sedangkan Oe metaano dimandikan dengan tujuan bermohon kepada Tuhan agar mendapat Ridho dari yang Maha Kuasa. Air jenis ini dimandikan dengan menghadap sebelah timur.
Air kedua ini harus disisakan di dalam kendi atau bhosu yang telah dimasukkan cincin. Air ini di ghombo selama 2 malam bersama peserta karia untuk dimandikan kepada peserta kafolego.
Setelah itu, mereka keluar ruangan bersama pada sanak keluarga untuk makan malam bersama. Mereka juga didoakan oleh imam atau pegawai sarah lainnya (Modji).
Pada saat pembacaan doa, disertai dengan dulang. Isi dulang diperuntukkan bagi karia untuk dimakan bersama sebagai bekal ketika berada di dalama kaghombo.
Dalam masa pingitan, ini merupakan proses penempaan para gadis untuk mengetahui hakekat dirinya darimana ia berasal, sedang berada di mana, untuk apa keberadaannya dan selanjutnya hendak ke mana.
Khusus untuk karia laki-laki yang diistilahkan kafotai menerima berbagai pelajaran atau petuah-petuah dari berbagai tokoh masyarakat. Biasanya dilakukan pada malam terakhir.  Mereka mendapat pelajaran berupa ilmu agama, ilmu adat istiadat, ilmu kepemimpinan dan ilmu ketangkasan. Namun yang dominant adalah ilmu agama dan adat istiadat. Ini dimaksudkan agar anak tersebut memiliki sifat dan kepribadian yang baik, terpuji serta tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan adat dan istiadat.
Perangkat yang dimasukkan ke dalam kaeghomboha (pingitan) yakni (1) dua buah palangga (tempat yang dibuat dari lidi pohon aren dalam bentuk anyaman). Palangga berisikan beras, telur dan uang perak, (2) Padjamara (lampu tradisional Muna) yang telah dinyalakan, (3) Polulu (kampak), kandole ( bantu alat tenun) adalah isyarat telah siap menghadapi kehidupan rumah tangga yang penuh tantangan, (4) Bhangsano Bea (kuncup bunga pinang), Bhangsano Ghay (kuncup bunga kelapa), daun Kasambo Lili dan dua buah kelapa sebagai isyarat alat untuk menumpangkan segala kotoran dan noda yang ada pada diri peserta karia.
Posisi mereka yang dipingit di kamar  adalah anak yang mempunyai hajatan acara (kopehano) berada paling kanan,disusul  lainnya. Ini merupakan sebagai isyarat penghargaan terhadap tuan rumah dan sudah merupakan etika bahwa yang tertinggi selalu di tempatkan di sebelah kanan.
Proses Kabansule
Saat tidur mereka yang dipingit tidak boleh seenaknya, seperti tidur biasa. Mereka harus melalui proses Kabansule yaitu proses perubahan posisi yang dipingit. Awalnya posisi kepala sebelah barat dengan baring menindis kanan, selanjutnya posisi di balik ke sebelah timur, kedua tangan di bawah, kepala tindis kiri. Filosofis dari proses ini adalah perpindahan dari alam arwah ke alam Aj’san.
Penabuh gendang sebagai pengiring Karia
Mengawali proses perpindahan, semua peserta karia dikelilingi lampu padjamara dan cermin ke kiri dan ke kanan. Isyarat ini menandakan bahwa ke depan peserta karia diharapkan mendapatkan kehidupan yang terang benderang. Sedangkan cermin adalah symbol kesungguhan dan keseriusan dalam menghadapi tantangan kehidupan di masa mendatang. Makna filosofis menurut orang tua di Muna bahwa kadekiho polambu, ane paeho omandehao kofatowalahae ghabu adalah jangan engkau kawin sebelum memahami empat penjuru/sisi dapur.
Setelah itu, para karia juga harus berebut ketupat yang diambil dari belakang masing-masing tanpa dibatasi jumlahnya. Menurut orang tua di Muna, rebutan ketupat ini menggambarkan masa depan. Artinya semakin banyak  ketupat yang diperoleh saat berebut, makin cerah masa depannya.
Proses Kalempagi 
Kalempagi diawali proses Dhebalengka yaitu membuka pintu kaghombo (pingitan). Tahapan ini adalah proses perpindahan dari alam Aj’san ke alam insani. Setelah mereka dimandikan, maka mereka dirapikan rambut dan keningnya (di bhindu) oleh petugas atau keluarga yang diserahi tugas. Semua bulu rambut dan kening ditadah pada piring yang berisi beras dan telur. Kemudian peserta karia dirias dengan model kalempagi. Makna filosofis yang dikandung disini yaitu proses peralihan dari remaja ke usia dewasa.
Pada hari keempat menjelang magrib, para kalambe yang dipingit siap dikeluarkan dari ruang pingitan ke tempat Bhawono Koruma (panggung). Pada saat menuju panggung, mereka tidak boleh menginjak atau menyentuh tanah. Agar terhindar dari sentuhan tanah, biasanya dibentangkan kain putih dari rumah sampai panggung, tapi dapat juga di soda atau di papa oleh dua laki-laki yang berasal dari lingkaran keluarga dan masih hidup kedua orang tuanya.
Pada saat diantar ke panggung, peserta pingitan tidak boleh menoleh ke mana-mana dan mata harus tertutup menandakan kekhusuan. Di panggung telah menunggu gadis-gadis yang telah dipilih dan diberi tanggung jawab duduk berjejer dalam keadaan bersimpuh. Gadis-gadis pendamping ini, kedua orang tuanya masih hidup. Mereka ini bertugas memegang surutaru (pohon terang yang terbuat dari kertas warna-warni dan dipuncaknya dipasangkan lilin yang menyala).
Makna yang dikandung surutaru adalah cahaya atau Nur Ilahi yang akan menjadi penentu dalam hidup para peserta yang di karia sejak lahir sampai menuju akhirat nanti. Makna lain yaitu isyarat atay harapan agar kedepan memperoleh jalan hidup yang lebih cerah.
               
Proses Katandano Wite
Katandano wite adalah langkah keempat dalam proses karia. Proses ini dilakukan oleh pegawai sarah yang diawali dari peserta yang paling kanan duduknya, diatur berdasarkan urutan yang pertama adalah putri dari kopehano.
Tanah yang digunakan untuk upacara katandano wite, diambil di Wadumapo Kota Muna. Tanah yang diambil selanjutnya diserahkan ke pomantoto.
Prosesi Karia
Katandano wite yaitu sentuhan tanah pada ubun-ubun dan dahi kepada para peserta yang dipingit dengan etika pegawai sarah mengambil tanah dari tempat yang telah disediakan (piring putih) kemudian melakukan proses katandano wite dari ubun-ubun turun ke dahi dengan menggambarkan huruf alif. Ini memberikan isyarat bahwa mengenali diri. Katandone wite merupakan simpul pertemuan antara tanah (Adam) dengan manusia atau perempuan yang dipingit (Hawa)
Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan doa selamat sebagai tanda syukur bahwa segala kegiatan telah selesai dan mendoakan agar peserta karia dapat menjalani kehidupan di muka bumi.
Dari seluruh rangkaian karia ini, acara yang paling banyak ditunggu-tunggu para sanak keluarga maupun para undangan adalah melakukan tari linda. Tari Linda yang diperagakan para peserta karia berbeda dengan Linda yang ditampilkan pada acara hiburan, karena mereka hanya berputar di sekitar tempat berdiri.
Saat menari Linda, para sanak keluarga dan undangan ada yang memberikan hadiah dengan cara melempar kea rah panggung, tempat menari. Makna filosofisnya yaitu kenang-kenangan dari orang tua, keluarga dan saudara-saudara, teman sebagai tanda syukur dan gembira, sebab telah menempuh ujian yang berat. Mereka telah memahami segala seluk beluk persiapan hidup berumah tangga dan etika masyarakat.
Keesokan harinya dilanjutkan dengan acara kahapui yaitu acara ritual pemotongan pisang yang telah ditanam. Pada acara ini dilakukan pogala yang diiringi bunyi gong dan gendang. Mengawali.acara pogala, pomantoto terlebih dahulu memecahkan belanga tanah sebagai aba-aba untuk memulai pogala. Setelah itu penari pogala beraksi dan saling berebut untuk memotong pisang lebih awal. Pemotongan ini harus putus satu kali.
Sebagai penutup dari rangkaian ini adalah kahgorono bhansa atau kafolantono bhansa. Tempat untuk melakukan hal tersebut di sebuah sungai yang airnya mengalir. Filosofi acara ini adalah melepaskan segala etika buruk yang ada pada peserta karia.

JURNALIS : RUSTAM

Jurnalis Cendana News wilayah Sulawesi Tenggara. Sebelum bergabung dengan Cendana News sudah menjadi wartawan di beberapa media cetak lokal maupun nasional. Gabung dengan Cendana News Oktober 2015. 
Akun twitter : @rustamcnd 
Lihat juga...