Ratusan Penggemar Reptil Gelar Kontes Tingkat Nasional di Yogyakarta

Galih asal Semarang dengan reptil Saigon asal Sulawesi, peserta kontes 
YOGYAKARTA — Lima komunitas pecinta reptil se-Indonesia menggelar kontes di Gedung Pasar Ikan Higienis, Jalan Tegal, Turi, Umbulharjo, Yogyakarta, Sabtu (28/11/2015). Kontest diadakan sebagai upaya lebih mengenalkan beragam binatang reptil tidak berbahaya yang unik serta memiliki nilai ekonomi yang cukup potensial.
Lebih dari 900 peserta meramaikan kontes reptil nasional yang diadakan oleh Disperindagkoptan DI Yogyakarta bekerjasama dengan lima komunitas pecinta reptil seluruh Indonesia. 
Kukuh Riyadi, Koordinator Divisi Reptil di sela akivitas mengatur jalannya kontes, Sabtu (28/11/2015) menjelaskan, selain sebagai upaya lebih mengenalkan reptil sebagai hobi, kontes juga diadakan sebagai ajang silaturahmi antar penggemar dari seluruh Indonesia. 
Dijelaskannya, kontes reptil diikuti lebih dari 900 hobies. Ada pun yang dilombakan meliputi keluarga kadal seperti iguana dan sebagainya. Ada juga biawak, kura-kura dan gecko atau tokek yang habitat aslinya berasal dari Pakistan. 
Gelar kontes diawali dengan kontes reptil gecko atau tokek asal Pakistan. Kukuh menjelaskan, kontes gecko terbagi dalam tiga kelas yaitu leopard gecko non albino, leopard gecko albino dan leopard gecko jungle stripe. Dalam kontes reptil tersebut, jelasnya, gecko akan dinilai dari segi kesehatannya, bentuk tubuhnya yang proporsional, warna dan motifnya. 
“Tentu juga dari aspek keutuhan anggota badannya”, jelas Kukuh.
Yosep Kenthoz, koordinator kontes
Gecko atau yang sebenarnya merupakan tokek tanah asal Pakisatan itu, mejadi unik dan menarik karena unsur warna dan motifnya. Yosep Kenthiz, selaku koordinator kontes reptil mengatakan, warna mengagumkan dan keindahan motif gecko itu yang membuat harga seekor gecko bisa mencapai puluhan juta rupiah. 
Gecko biasa dijual seharga Rp. 50-150.000 seekor. Karena itu, kata Yosep, hobi reptil tersebut juga memiliki potensi ekonomi yang cukup menggiurkan. Pasalnya, kata Yosep, merawat gecko tidak membutuhkan tempat khusus. Pakan juga hanya serangga seperti jangkrik atau belalang kecil dan sejenisnya. 
” Binatang ini juga tidak berbahaya, juga bukan binatang yang dilindungi,” katanya.
Namun demikian, kata Yosep, hobi reptil memang belum sepopuler lainnya. Hal itu, menurutnya, karena masyarakat masih menganggap reptil sebagai binatang yang menakutkan. Padahal, reptil seperti gecko sama sekali tidak berbahaya dan bahkan mempunyai nilai investasi yang cukup tinggi. 
“Salah satu kesulitan dari merawat gecko adalah cara menghasilkan anakan gecko yang memiliki warna bagus dan motif yang unik,” cetusnya.
Yosep menjelaskan lagi, harga seekor gecko yang tergolong morph (metamorph) yang artinya sudah merupakan hasil dari persilangan dua genetik bisa mencapai harga puluhan juta rupiah. Pendeknya, kata Yosep, gecko yang selama ini bisa beragam dari segi warna dan motif, merupakan hasil persilangan. Dan, di situlah seninya hobi reptil khususnya gecko. 
“Dan, seringkali gecko yang sudah morph sehingga berwarna tangerin dan motif yang khas itu pasti merupakan hasil dari beberapa persilangan genetik. Karena itu, gecko sangat unik. Sekalipun ada kembarannya, tidak akan pernah identik,” pungkasnya. 
JURNALIS : KOKO TRIARKO

Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.

Akun twitter @KOKOCND
Editor : ME. Bijo Dirajo / Fotografer : Koko Triarko
Lihat juga...