Ratusan Satpol PP Bongkar Paksa Bangunan di Bekas PGSD Sultra

Penggusuran bangunan di lahan bekas eks PGSD
KENDARI — Kehebohan terjadi di Simpang Empat Wua-wua kota Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra). Ratusan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi berada dilokasi dan mengamankan area eks Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).
Sempat terjadi aksi dorong-dorongan di pintu masuk gedung utama eks PGSD. Namun keluarga Kikila yang mengaku ahli waris tanah, tidak mampu berbuat banyak. Jumlah personil Pol PP dibantu aparat kepolisian lebih banyak, sehingga dengan mudah dipukul mundur.  Dalam aksi juga sempat terjadi insiden pelemparan batu. Bahkan seorang perempuan menghunus pedang dan sempat menyiram sebotol bensin,  namun aksi ini dapat dicegah dan langsung diamankan.
Dari belakang barisan Pol PP yang turun lengkap menggunakan tameng dan pentungan, terdengar keras suara kaca jendela gedung pecah. Tidak diketahui siapa yang memecahkan kaca tersebut. Suara tersebut mengundang perhatian warga yang menyaksikan proses penggusuran paksa tersebut.
Berikut rentetan kejadian penggusuran yang terpantau di lokasi.
Pukul 08:12 WITA, Pol PP yang ditugaskan Pemprov Sultra untuk mengosongkan secara paksa eks lokasi  PGSD Sultra, mulai berjaga-jaga.  Sebelum melakukan aksi pengosongan paksa, aparat memberi waktu sekitar 2 jam agar seluruh pedagang yang mengisi kios segera mengosongkan.
Terlihat para pedagang makanan, pakaian, aksesoris sibuk mengepak barangnya. Mereka terlihat  terburu-buru mengosongkan kios. Namun waktu yang diberikan sangat pendek sehingga sebagian barang belum keluar.
Pukul 10.05 WITA, Satuan Pol PP yang berjaga-jaga di deretan Ruko elektronik, garmen, dan Handphone di Jalan Ahmad Yani atau tepatnya depan eks PGSD, langsung membentuk barisan. Karena waktu yang diberikan untuk melakukan pengosongan lokasi sudah berakhir.
Melihat barisan Pol PP sudah siaga, warga dari keluarga ahli waris tanah  langsung memblokir pintu masuk sebelah timur eks PGSD yang berbatasan langsung dengan pintu masuk Hotel Andalus. Dengan menggunakan pengeras suara mikrophone, seorang warga berteriak – teriak bahwa telah terjadi perampasan hak-hak rakyat.
Meskipun suara warga tersebut makin keras, tapi Pol PP makin memperkuat barisan. Mereka langsung berderet memanjang dari pintu masuk sebelah timur sampai pintu barat.
Pukul 10.15 Wita, ratusan Pol PP langsung merangsek masuk. Warga yang mencoba menghalang-halangi tidak mampu menghalau.Sempat terjadi aksi saling dorong, tapi itu hanya berlangsung sekejap. Pol PP berhasil menguasai lokasi eks PGSD.
Kelompok warga mundur ke arah belakang gedung utama eks PGSD. Dari arah belakang, terlihat batu melayang ke arah Pol PP. Lemparan tersebut langsung direspon Pol PP dengan mengejar para pelaku pelemparan.
Kelompok warga terdesak mundur hingga ke bagian bagian paling belakang, tepatnya di gedung eks PGSD yang terletak di batas pagar gedung SMK Negeri 3 Kendari.Kelompok warga ini bertahan.
Pukul 10.20 WITA, setelah area eks PGSD berhasil dikuasai, sebuah mobil tronton yang membawa mobil excavator masuk. Mobil ini kemudian langsung bergerak merobohkan sejumlah bangunan kios yang didirikan oleh keluarga Kikila.
Hanya sekita 30 menit lamanya, bangunan kios sebanyak 8 petak rata dengan tanah.Mobil excavator dengan cepat bekerja meruntuhkan seluruh bangunan kayu. Tidak ada perlawanan dari penyewa kios. Bahkan terlihat Pol PP membantu mengevakuasi barang-barang jualan.
Sekitar pukul 11.35 Wita, terjadi aksi pelemparan di bagian belakang gedung eks PGSD. Pol PP sempat dihujani batu. Pol PP melakukan aksi pembalasan. Hingga pukul 11.50 Wita, sebagian anggota Pol PP masih bersiaga.
Sejarah tanah
Tanah lokasi eks PGSD Kendari ini, menjadi sengketa antara Pemerintah Provinsi Sultra dengan keluarga Ambo Dalle yang mengklaim sebagai pewaris tanah seluas 4,2  hektar. Menurut penelusuran tanah yang kini diwariskan kepada anak Ambo Dalle, yakni Kikila dan Aladin dikuasai sejaj tahun 1964. Dibuktikan dengan surat SKT yang dikeluarkan Baruga Tekaka, mantan Kepala Agraria Kendari.
Namun Pemprov Sultra juga mengklaim sebagai pemilik asset tanah eks PGSD, dibuktikan dengan SKT nomor 18 tahun 1981 dan bukti bangunan PGSD. Namun hal tersebut ditepis, karena ketika Ambo Dalle masih hidup, status tanah dihibahkan untuk pembangunan PGSD Kendari.
Setelah PGSD dihapuskan pemerintah Indonesia, tanah tersebut dijadikan lokasi perkuliahan Universitas Terbuka dan Universitas Sultra. Setelah itu, tanah tersebut ditinggalkan maka muncullah ahli waris yang mengklaim berhak atas tanah eks PGSD Kendari.
Peristiwa bentrokan pengosongan tanah sudah beberapa kali terjadi. Namun hingga peristiwa hari ini, Jumat 27 November 2015 belum tuntas. [Foto Penggusuran: Pembongkaran Paksa Bangunan di Lahan Bekas PGSD Sultra]


JURNALIS : RUSTAM

Jurnalis Cendana News wilayah Sulawesi Tenggara. Sebelum bergabung dengan Cendana News sudah menjadi wartawan di beberapa media cetak lokal maupun nasional. Gabung dengan Cendana News Oktober 2015. 

Akun twitter : @rustamcnd 
Editor : ME. Bijo Dirajo / Fotografer : Rustam
Lihat juga...