Sengketa Unidar, PN Ambon Tolak Keterangan Saksi Ahli

Suasana persidangan sengketa Unidar
AMBON — Sengketa kepemilikan Yayasan Universitas Darussalam (Unidar), Ambon belum berakhir. Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Ambon, Kamis (12/11/2015), kembali menyidangkan perkara perdata tersebut soal gugatan Rektor Universitas Darussalam Ambon, Prof. Dr. Ibrahim Ohorella (Penggugat), terhadap Pelaksana Tugas (Plt), Rektor Universitas Darussalam Ambon, Farida Mony (Tergugat).
Pantauan Cendana News di Pengadilan Negeri Ambon menerangkan, sidang yang dipimpin Suko Harsono (Hakim Ketua), beranggotakan Philip Pangalila dan Hj. Halima Umaternate digelar dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ahli, yang dihadirkan oleh penggugat dalam hal ini Dr. Rijal Kotta.
Namun belum sempat memberikan keterangan, Majelis Hakim PN Ambon menolak secara mentah-mentah Dr. Rijal Kotta untuk memberikan keterangan terkait perkara yang disidangkan. Dengan alasan, karena spesifikasi atau ilmu yang dimiliki oleh saksi ahli tidak sesuai dengan materi perkara yang disidangkan.
Majelis Hakim juga berdalil, spesifikasi ilmu yang dimiliki oleh saksi ahli baik dari jenjang strata satu, strata dua hingga doktor, adalah basic hukum pidana, bukan hukum perdata. Alasan ini kemudian, Dr. Rijal Kotta ditolak untuk memberikan keterangan di perisidangan.
Menyikapi masalah ini, saksi ahli dari penggugat Dr. Rijal Kotta menyesali sikap majelis hakim. Menurutnya, syarat ahli bisa secara formal dan informal. Sehingga tindakan Majelis Hakim PN Ambon yang menolak dirinya memberikan keterangan dengan statusnya selaku saksi ahli untuk penggugat, disinilah ia mempertanyakan hal tersebut.
Alasannya, kapasitas keilmuan karena berdasarkan hukum, dirinya juga salah satu tim perubahan  undang-undang.  Sehingga dia menilai pernyataan majelis hakim sangat keliru dan lucu.
“Kalau hanya baca undang-undang saya juga tahu. Jika benar yang Hakim inginkan. Pertanyaannya, apakah saya orang hukum pidana tidak layak memberikan keterangan saksi, karena wilayah perdata? Apakah semua Hakim di PN Ambon hanya mengadili perkara perdata atau hukum pidana juga? Faktanya, para hakim di PN Ambon rata-rata juga menyidangkan perkara perdata dan pidana. Substansi persoalannya apa, sehingga saya ditolak untuk memberikan keterangan,” sesal Dr. Rijal Kotta kepada wartawan, di PN Ambon.
Dr. Rijali Kotta mengkritik majelis hakim. “Hakim harus punya kemapuan, kita uji dulu benar atau tidak. Saya pernah sembilan kali memberikan keterangan di persidangan dan tidak ada yang mempersoalkan masalah disiplin ilmu. Dan lucunya, ini kali pertama terjadi di PN Ambon,” sindirnya.
lanjutnya, curriculum vitae yang diminta majelis hakim sudah dipenuhinya.
“Padahal, soal yayasan cuma satu bacaan undang-undang. Dan jika hanya bacaan undang-undang, masa doktor tidak pernah tahu. Saya akan laporkan Majelis Hakim PN Ambon ke Komisi Yudisial untuk menyikapi masalah ini,” ancamnya.
Sementara itu, Suko Harsono (Hakim Ketua) yang mengadili perkara ini, saat diwawancarai wartawan di PN Ambon beralsan, saksi ahli dari penggugat yang hadir itu akan ditanyakan materi ada yang menyangkut dualisme Yayasan Universitas Darussalam.
“Saksi ahli yang dihadirkan oleh penggugat ternyata curriculum vitae yang disodorkan kepada kami, yang bersangkutan ahli dalam hukum pidana. Latar belakang pendidikan baik starata satu, strata dua hingga gelar doktoralnya, adalah pidana. Sehingga majelis menganggap, keahlian saksi yang dihadirkan oleh penggugat tidak relevan dengan materi yang akan ditanyakan. Karena penggugat akan menggali mengenai dengan yayasan,” katanya.
Saksi yang hadir adalah ahli hukum pidana, sehingga soal yayasan  adalah ruang lingkup keperdataan.
“Majelis Hakim berkesimpulan saksi ahli yang dihadirkan oleh penggugat tidak sesuai dengan keahliannya. Bukan masalah ketidakberesan, tapi soal kewenangan majelis hakim menilai saksi ahli yang dihadirkan tidak sesuai bidangnya. Kalau hal ini dipermasalahkan hingga ke Komisi Yudisial, silahkan saja. Majelis siap bertanggung jawab,” katanya.
JURNALIS : SAMAD VANATH SALLATALOHY

Jurnalis Cendana News wilayah Maluku. Sebelum bergabung dengan Cendana News sudah menjadi jurnalis di beberapa media cetak lokal. Bergabung Cendana News mulai pertengahan 2015.
Akun twitter : @vanlohy
Lihat juga...