SMK 5 Gelar Workshop Pengolahan Limbah di Sekolah

Workshop pembuatan kompos
SURABAYA — Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Surabaya mengadakan workshop bertema pemanfaatan maksimal limbah di sekolah. Acara ini juga mengundang beberapa SMA dan SMK di Surabaya.
SMA yang terlibat antara lain SMK Ketintang, SMKN 8, SMA 8, SMA 11, dan SMA Wachid Hasyim 1 Surabaya. Para peserta diajari cara membuat pupuk kompos dari sampah daun kering dan kotoran sapi.
Pembina SMK 5 Surabaya, Dinas Surya mengatakan acara seperti ini masih jarang dilakukan oleh sekolah-sekolah lain.
“Kami ingin menjadi contoh SMA atau SMK lain, istilahnya menjadi pencetus kegiatan workshop yang bertema pemanfaatan limbah,” terangnya kepada Cendana News, Jumat (06/11/2015).
Ketua pelaksana workshop, Moh. Rizal mengaku pemanfaatan kotoran sapi dan sampah daun kering di sekolah masih jarang dilakukan.
“Kami termasuk kedalam sekolah, yang memiliki kompos terbanyak. Karena sekolah kami memiliki 4328 tanaman, tentunya sampah daun kering sangat melimpah, lalu kami berinovasi membuat kompos dan pupuk cair,” jelasnya.
Siswa jurusan kimia industri ini juga menambahkan sekolahnya mampu membuat pupuk kompos sebesar 2,5 ton per 3 bulan, hasil tersebut merupakan hasil pupuk kompos terbanyak se-SMK Surabaya.
“Kami menargetkan 5 ton sampai bulan Desember nanti,” tegasnya. Para peserta workshop diajari pengetahuan mengenai pupuk kompos, bagaimana membuat pupuk kompos, bagaimana mengolahnya, dan mendistribusikannya.
Jumlah peserta workshop ada 64 orang. Acara workshop digelar hanya satu hari, mulai dari jam 11.00-16.00 WIB. Dan yang paling penting peserta workshop tidak ditarik biaya apapun alias gratis.
“Kami dapat dana dari hasil penjualan kompos, daur ulang plastik dan jual botol bekas minuman, jadi peserta workshop tidak perlu mengeluarkan uang untuk mengikuti kegiatan ini,” jelasnya.
Cara pembuatan kompos sendiri yaitu dari kotoran sapi yang masih hangat di komposting dan dicampur dengan daun kering selama satu bulan ditaruh di bak-bak penampungan. Setiap hari siswa bergiliran mengaduk campuran tersebut. 
Setelah satu bulan, kompos tersebut diayak untuk mendapatkan kompos yang halus. Kemudian dipacking atau dikemas dengan kemasan 5 kg dihargai Rp.6.500 sedangkan kemasan 10 kg dihargai Rp.12.000 dengan nama produk Enviro’s. Penjualannya sendiri diambil oleh para pengepul yang datang ke sekolah.
“Kompos yang kami buat berisi Nitrogen, Fosfor, dan Kalium yang berguna bagi tanaman,” pungkasnya.
JURNALIS : CHAROLIN PEBRIANTI

Jurnalis Cendana News wilayah Jawa Timur. Gabung dengan Cendana News Mei 2015. 

Akun twitter : @charolineemoo
Lihat juga...