Teknologi Pertanian Tingkatkan Efesiensi Petani di Lampung

Mesin pemanen padi
LAMPUNG — Meningkatkan efisiensi petani dalam mengelolah sawah membutuhkan peralatan yang modern, mulai dari pengolahan tanah yang sebelumnya menggunakan cangkul atau bantuan kerbau, saat ini sudah lebih mudah dengan adanya hand traktor atau mesin bajak sawah. Begitu juga dengan saat panen, yang biasanya petani hanya menggunakan tenaga manusia dengan bantuan sabit, kini sudah mulai berubah menggunakan mesin pemanen padi atau dikenal dengan combine harvester.
Dengan adanya peralatan modern tersebut, penggunaan tenaga manusia sudah mulai digantikan dengan mesin. Biasanya untuk memanen padi seluas 1 hektar membutuhkan waktu berhari-hari atau menggunakan banyak tenaga manusia. Saat ini dengan peralatan modern, lahan tersebut dapat diselesaikan dalam hitungan jam.
Seperti halnya di Kecamatan Sragi Lampung Selatan Provinsi Lampung yang saat ini tengah masa panen. Ratusan hektar lahan sawah yang berada di kecamatan tersebut kini mulai menggunakan tekhnik modern dalam proses pemanenan menggunakan mesin pemanen padi atau dikenal dengan combine harvester. Mesin pemanen padi yang oleh masyarakat dikenal dengan “combed” tersebut mulai digunakan untuk efesiensi waktu proses pemanenan di lahan sawah yang cukup luas.
Salah satu petani, Sanuri (40) mengaku alat combine harvester bantuan dari dinas pertanian  memberikan dampak proses pemanenan yang relatif mudah dan cepat, dan kini menjadi pilihan bagi anggota kelompok tani dalam melakukan proses pemananenan padi sawah.
“Bantuan ini kita manfaatkan untuk kepentingan kelompok dan sistem yang kita gunakan melakukan sistem penyewaan berdasarkan luasan lahan untuk biaya bahan bakar serta tenaga,”ungkap Sanuri kepada Cendana News, Selasa (17/11/2015).
Sanuri mengungkapkan, penggunaan mesin panen padi jenis combine harvester memiliki kelebihan, mesin ini mampu memanen 1 hektar sawah dalam waktu 6-8 jam dengan hasil berupa gabah (GKP) yang langsung masuk kedalam karung. 
Selain itu mesin dapat berjalan pada sawah yang berair, mesin ini lebih tangguh jika berjalan pada tanah yang berlumpur, beratnya yang sangat ringan memungkinkan mesin ini untuk bermanufer dengan cepat pada segala medan, pengoperasiannya yang sederhana sehingga siapapun bisa untuk menjalankan mesin ini, sangat cocok pada lahan yang luas, sempit, miring, maupun pada lahan yang tak berbentuk. 
“Setelah mesin berjalan beberapa orang bertugas mengumpulkan padi untuk dimasukkan dalam karung karung dan sebagian lagi menjadi pengojek padi untuk membawa padi ke rumah pemilik,”ungkap Sanuri.
Saat ini ungkap Sanuri, pemanfaatan mesin pemotong padi tersebut sudah digunakan oleh beberapa kelompok petani dan memanen ratusan hektar sawah di wilayah Kecamatan Sragi. Penggunaan mesin tersebut menurut Sanuri telah mengubah pola pertanian di wilayah Sragi yang semula menggunakan tekhnik konvensional menjadi sistem modern.
“Selama ini kami memanfaatkan buruh tani dengan sistem borongan dan ternyata perbandingan biaya operasionalnya lebih murah menggunakan mesin pemanen,”ungkap Sanuri.
Selain penggunaan mesin pemotong padi yang mulai bergeser menggunakan tenaga mesin, pemanfaatan mesin modern juga menggeser tenaga manusia pada saat masa tanam juga diungkapkan petani Sragi lainnya , Untung (45). Ia menerangkan sebelumnya proses tanam yang pada umumnya menggunakan tenaga kerja konvensional yaitu menancapkan benih padi ke dalam lumpur di hamparan sawah sudah berganti dengan menggunakan alat penanam padi atau rice transplanter.
“Bantuan rice transplanter tersebut juga diperuntukkan bagi kelompok tani di wilayah sini meskipun sebagian petani tetap menggunakan cara lama,”ungkap Untung.
Untung mengungkapkan pada cara lama proses penanaman menggunakan tenaga yang lebih banyak dan tidak menghemat waktu. Untuk menanam 1 hektar padi dibutuhkan tenaga kerja sebanyak 10 orang dan waktu kira kira 2 hari itu belum termasuk tenaga ndaut (memindahkan bibit padi dari persemaian ke lahan persawahan).
“Memang itu perubahan yang cukup merugikan bagi tenaga buruh namun proses perubahan ke pertanian modern harus dilakukan untuk melakukan efesiensi waktu dan biaya operasional,”tegas Untung.
Ia bahkan mengaku untuk peralihan dari penggunaan tenaga manusia ke tenaga mesin, ia mampu menghemat sebesar Rp350ribu untuk proses penanaman padi dan Rp450ribu untuk pemanenan yang dihitung berdasarkan kebutuhan biaya operasional. Peralihan tersebut secara langsung memberi dampak bagi para tenaga kerja yang sebagian besar wanita di wilayah tersebut sehingga tak lagi bisa menjadi buruh tanam dan buruh padi.
Untung bahkan berencana membeli mesin pemanen padi yang sekaligus menjadi mesin bajak sawah ukuran mini. Ia bahkan sudah memesan mesin panen padi (Mini Combine Harvester) yang memiliki dua fungsi yaitu sebagai mesin panen padi dan alat pengolah tanah (bajak).
“Saya yakin petani kita nantinya akan semakin modern dan peralatan menjadi investasi saya sebab selain bisa dimanfaatkan sendiri juga bisa disewakan,”ungkapnya.
Masa panen pada musim kemarau ini diakui Untung, padi sawah yang dipanennya mengalami penyusutan dibandingkan tahun sebelumnya yang biasanya bisa memperoleh 8 ton perhektar hanya memperoleh 7,3 ton per hektar. Jenis padi yang ditanam serta kondisi iklim diakui mempengaruhi produktifitas, pemberian pupuk serta perawatan diakuinya menjadi faktor menyusutnya hasil gabah yang dipanennya.
Sanuri, Untung dan ratusan petani yang berada di wilayah Kecamatan Sragi berharap musim kemarau yang masih berlangsung akan berganti dengan musim penghujan. Sebab saat ini sebagian besar lahan sawah yang telah dipanen mengalami kekeringan bahkan sebagian petani mengalami gagal panen meski sebagian mampu tetap panen dengan hasil yang menyusut.
Pantauan Cendana News hamparan lahan sawah di wilayah Kecamatan Sragi berseberangan dengan hamparan tambak untuk budidaya ikan bandeng dan udang. Tanggul pemisah yang digunakan untuk pengairan menjadi sumber pengairan utama ratusan lahan pertanian di wilayah tersebut. Ratusan hektar sawah sebagian besar sudah dipanen sementara beberapa lahan sawah milik petani masih dalam masa panen.

JURNALIS : HENK WIDI

Bergabung dengan Cendana News pada bulan November 2014. Dengan latar belakang sebagai Jurnalis lepas di beberapa media dan backpacker, diawal bergabung dengan Cendana News, Henk Widi fokus pada pemberitaan wisata dan kearifan lokal di wilayah Lampung dan sekitarnya.

Twitter: @Henk_Widi
Lihat juga...