Terkait Peternakan Ayam, Warga Demo BLHD dan Disnak Lamsel

LAMPUNG — Warga Dusun Bangundana Desa Bangunrejo Kecamatan Ketapang melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Dinas Peternakan dan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung. Penyampaian aspirasi masyarakat merupakan bentuk kekecewaan masyarakat terkait keberadaan usaha peternakan  ayam petelur di wilayah tersebut.
Puluhan warga yang datang menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat terdiri dari kaum wanita dan laki laki  bahkan membawa spanduk bertinta merah bertuliskan penolakan serta tuntutan penutupan kandang ayam di wilayah dusun yang selama ini mengganggu warga dalam hal kesehatan dan kenyamanan.
Warga melakukan aksi pertamanya di depan kantor Dinas Peternakan Lampung Selatan selanjutnya melakukan penyampaian aspirasi serupa di depan kantor Badan Lingkungan Hidup kabupaten setempat.
“Kami melakukan aksi karena beberapa kali mediasi namun belum ada kesepakatan pasti dan menuntut pihak dinas peternakan melakukan tindakan nyata salah satunya penutupan kandang ayam tersebut,”ungkap Solih salah satu pengunjuk rasa  kepada Cendana News, Rabu(18/11/2015).
Ia mengungkapkan selama ini keberadaan perusahaan peternakan ayam di wilayah mereka menimbulkan bau menyengat yang berasal dari kandang ayam, bangkai ayam yang dibuang di sembarang tempat,  ayam warga sekitar pada mati dan tidak adanya izin lingkungan dari pemilik lahan tetangga. Tidak adanya izin tersebut bahkan seperti tidak mendapat respon dari pemilik perusahaan ternak ayam petelur tersebut hingga mengakibatkan kekecewaan masyarakat. 
Selain itu warga mengakui sebelumnya pemilik usaha ternak ayam hanya membuat dua unit kandang, kini menjadi 5 unit tanpa ada musyawarah serta pemberitahuan kepada warga di sekitar lokasi kandang ayam tersebut.
Warga semakin kesal, sejak berdirinya usaha ternak ayam itu banyak lalat yang membuat tidak nyaman. Kurangnya tanaman hijau, kotoran ayam yang dihasilkan tidak dijual kepada warga sekitar tapi keluar desa. Warga juga mengalami sesak nafas karena bau yang menyengat, tidak ada kompensasi dari pihak perusahaan.
Tidak hanya itu, saat membuat izin lingkungan, pihak perusahaan meminta izin tanpa ada musyawarah tapi dengan cara mendatangi warga satu persatu atau dari rumah ke rumah. Bahkan dampak limbah sampai mempengaruhi pertanian sawah.
Selanjutnya pendirian perusahaan ternak ayam jaraknya terlalu dekat dengan rumah warga sekitar. Warga juga protes pembangunan dapur dan mes karyawan memakan badan jalan. Yang lebih parah lagi, bangkai ayam mati di buang di lahan-lahan jurang milik warga. Kondisi dilapangan seperti itu ditambah dengan sikap pemilik perusahaan tidak koperatif.
“Semua keluhan-keluhan itu disampaikan masyarakat kepada pihak perusahaan. Bahkan meskipun semua tuntutan warga dipenuhi, warga sudah kesal dan minta perusahaan segera di tutup,” kata Solih.
Akibat kasus tersebut bahkan sebelumnya  puluhan warga melakukan unjuk rasa di depan peternakan tersebut meskipun tanpa hasil yang memuaskan akibat jawaban dari pemilik peternakan yang tidak sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Setelah itu menurut salah satu warga lain , Andi (35) bahkan pihak  Uspika Kecamatan Ketapang bersama anggota DPRD Lamsel daerah pemilihan  Ketapang telah melaksanakan mediasi antara warga dan pemilik perusahaan peternakan untuk memecahkan persoalan tersebut. Penyampaian aspirasi masyarakat yang sudah dilakukan di tingkat desa tingkat kecamatan hingga tingkat kabupaten tersebut menuntut agar peternakan tersebut ditutup.
“Pihak perusahaan juga tidak ada niat baik. Mestinya, ternak ayam yang sudah mencapai 10 ribu ekor harus membuat izin yang di keluarkan oleh Dinas Peternakan Lampung Selatan,” ujarnya. 
Warga Dusun Bangundana, Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang bahkan menyampaikan tuntutan  kepada pemilik perusahaan peternakan ayam di desanya. Tuntutan itu bahkan telah  dimusyawarahkan kembali bersama unsur pemerintah kecamatan, masyarakat dan pemilik perusahaan. Warga sekitar perusahaan peternakan ayam tersebut sangat kesal. Mereka meminta pemerintah segera menutup operasional usaha ternak ayam yang sudah berdiri setahun lebih itu.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Peternakan Kecamatan Ketapang Aka Joushim sebelumnya  mengatakan, saat menggelar demonstrasi, warga mengajukan keluhan-keluhannya kepada pemilik perusahaan ternak ayam itu.
Warga masyarakat Dusun Bangun Dana, Desa Bangun Rejo, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, mengeluhkan kandang ayam petelur yang beroperasi di dusunnya.
Peternakan ayam petelur milik Johan, salah satu warga Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan tersebut, beroperasi hampir 5 tahunan di dusun bangun dana, dan hingga saat ini di duga belum memiliki izin dari dinas yang terkait di lampung selatan.
Menurut keterangan Kepala Unit Pelaksana Teknis (KUPT) Peternakan Kecamatan Ketapang dan Kecamatan Bakauheni, Ir. Akka Jochim Jaenis, bahwa pihak dari UPT peternakan Ketapang-Bakauheni sudah memberikan peringatan secara lisan kepada pemilik peternak ayam petelur tersebut.

JURNALIS : HENK WIDI

Bergabung dengan Cendana News pada bulan November 2014. Dengan latar belakang sebagai Jurnalis lepas di beberapa media dan backpacker, diawal bergabung dengan Cendana News, Henk Widi fokus pada pemberitaan wisata dan kearifan lokal di wilayah Lampung dan sekitarnya.

Twitter: @Henk_Widi
Lihat juga...