Tolak Bandara Kulonprogo, Hari Ini Massa akan Demo DPRD DIY

Tolak Bandara Kulonprogo, Warga Terdampak Gelar Mogok Makan
YOGYAKARTA — Sampai hari ke-11, aksi mogok makan sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Solidaritas Tolak Bandara (GESTOB), tak jua ada pejabat terkait yang menyambangi. Kesal dan merasa tak dipedulikan, warga lima desa terdampak yang tergabung dalam Wahana Tri Tunggal (WTT) kembali akan turun ke jalan mengadakan aksi unjukrasa besar di komplek DPRD DIY. Aksi unjukrasa tersebut menuntut kejelasan sikap pemerintah, terhadap tuntutan warga terdampak.
Martono, Kordum WTT mengatakan, pihaknya tetap bersikeras menuntut agar rencana pembangunan bandara dibatalkan. Ditegaskannya, aksi yang dilakukannya bukan sekedar menolak atau menuntut ganti rugi yang besar. 
“Tuntutan kami masih sama, yaitu cabut IPL Bandara Kulonprogo,  cabut Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kulonprogo dan menolak represifitas dan intimidasi terjadap petani”, ungkapnya di Yogyakarta, Kamis (5/11/2015).
Sementara itu, Santos Muhammad, Bunas GESTOB mengatakan, pihaknya tetap akan bersama petani menuntut keadilan. Dalam pandangan Santos, rencana pembangunan bandara Kulonprogo itu berpedoman pada Perda No. 1/2012 Tentang RTRW Kulonprogo Tahun 2012-2032, yang bertentangan dengan Peraturan Pemerintah No. 26/2008 Tentang RTRW Nasional, Peraturan Presiden No. 28/2012 Tentang RTRW Pulau Jawa-Bali dan Perda No. 2/2010 Tentang RTRW Provinsi DIY 2009-2029. 
“Karena dalam berbagai peraturan itu hanya disebutkan pengembangan Bandara Adisucipto di Yogyakarta dan Bandara Adisumarmo di Surakarta, Jawa Tengah, dan tidak ada rencana pembangunan bandara di Kulonprogo,” jelasnya.
Santos mengakui, jika persoalan hukum berkait rencana pembangunan bandara tersebut saat ini sudah selesai dengan putusan MA, yang pada intinya tetap melegalkan IPL Bandara Kulonprogo. Namun demikian, pihaknya tetap menegaskan akan terus menolak pembangunan bandara.
Santos mengatakan, dengan putusan MA itu maka akan segera terjadi pembebasan lahan yang mengancam mata pencaharian sekitar 2.875 warga petani atau 11.501 jiwa di lima desa terdampak, yaitu Glagah  Palihan, Sindutan, Jrangkah dan Kibonrejo. 
“Karena itu, kami akan terus berjuang sampai rencana pembangunan bandara itu dibatalkan”. pungkas Santos. 
JURNALIS : KOKO TRIARKO



Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.



Akun twitter @KOKOCND
Lihat juga...