Topeng Monyet dari Tempurung Kelapa Tembus Pasar Manca Negara

Beragam kerajinan dari tempurung kelapa
YOGYAKARTA — Memanfaatkan limbah tempurung kelapa kering, Hadi Suwito (51) warga Jethak, Sidokarto, Godean, Sleman, Yogyakarta, membuat kerajinan topeng monyet yang unik dan lucu. Usaha yang dirintisnya sejak 25 tahun lalu itu kini telah menembus pasar luar negeri seperti Turki dan Belgia. Beragam bentuk kepala hewan lucu dibuatnya sendiri dengan peralatan sederhana.
Bermula dari melihat kerajinan dari tempurung kelapa di sebuah daerah di Jawa Timur pada 25 tahun silam, Hadi Suwito lalu tergerak untuk meniru dan mencoba membuatnya sendiri. Waktu itu, kerajinan tempurung kelapa yang dilihatnya berbentuk kepala manusia. Namun karena dirasa kurang menarik, Hadi lalu membentuknya menjadi kepala monyet beragam mimik. Ada yang sedang marah, senang, mulut menjulurkan lidah dan sebagainya. Dengan kreasinya itu, kerajinan tempurung kelapa buatannya dilirik pasar.
Hadi Suwito, pengrajin tempurung kelapa
Hadi yang ditemui Sabtu (28/11/2015) mengatakan, beragam kerajinan tempurung kelapa yang dibuatnya seringkali juga terilhami dari raut wajah cucunya yang sedang marah atau menangis. Hadi mengaku tak pernah sekolah di jurusan seni. Namun berkat pengalamannya sebagai tukang pengrajin eternit atap rumah dari anyaman bambu, dia merasa terbiasa menggunakan pisau. Maka, membuat topeng monyet dengan tempurung kelapa itu dipelajarinya sendiri secara otodidak.
“Pada awalnya tentu susah mencari pembeli. Saya ke sana ke mari bawa contoh kerajinan saya. Tapi, lama-lama pasar senang juga dengan kerajinan saya. Dan, sekarang mereka yang datang ke rumah minta dibuatkan topeng monyet,” ujar Hadi.
Topeng monyet buatan Hadi kini sudah banyak dijual di sejumlah pasar di Yogyakarta. Setahun sekali, Hadi mengirim hasil kerajinannya itu ke Bali. Sejak tiga tahun ini, bahkan kerajinan topeng monyet buatan Hadi dieksport ke negara Turki dan Belgia. 
“Mereka suka dengan kerajinan ini karena bahannya yang ramah lingkungan. Kalau sudah tidak dipakai, bisa dibakar dan abunya dijadikan pupuk”, katanya.
Setahun sekali, Hadi mengeksport kerajinan topeng monyetnya ke negara Turki sebanyak 1.500 buah. Jumlah sebanyak itu dibuatnya selama tiga bulan. Harga jualnya berkisar antara Rp 15-25.000 perbuah, tergantung besar kecil dan kerumitannya. Sementara itu, harga tempurung kelapa sebagai bahannya dibelinya seharga Rp. 1.000. “Sangat murah sekali bahannya, karena yang saya pakai ini sebenarnya juga limbah. Kelapa yang tidak jadi”, katanya.
Hadi tak pernah kesulitan untuk mencari tempurung kelapa. Dia biasa mencarinya di pinggir pantai atau ada yang datang menjual tempurung kelapa. Dalam sehari, Hadi bisa menghasilkan topeng monyet sebanyak 10-20 buah. Cara membuatnya juga mudah. Tempurung kelapa dikeringkan lalu diukir. Alatnya sederhana. Hanya butuh pisau cutter, gergaji dan pisau besar. Atas ketekunannya itu, Hadi sering difasilitasi oleh pemerintah daerah setempat untuk mengikuti sejumlah pameran di banyak kota. Dari sejumlah kegiatan pameran yang diikutinya itu, topeng monyet buatannya dikenal pasar. 
JURNALIS : KOKO TRIARKO

Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.

Akun twitter @KOKOCND
Editor : ME. Bijo Dirajo / Fotografer : Koko Triarko
Lihat juga...