117 Anak Ikuti Khitanan Massal di Museum Seoharto

SENIN, 21 DESEMBER 2015
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto / Koko Triarko
YOGYAKARTA—Sebanyak 117 anak usia sekolah dasar dari seluruh wilayah di DI Yogyakarta, mengikuti khitanan massal gratis yang diadakan oleh H. Probosutedjo, adik mantan Presdien Soeharto, di Monumen Memorial Jenderal Besar HM. Soeharto, Dusun Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Senin (21/12/2015). Dalam gelar kegiatan sosial tersebut turut hadir Titiek Soeharto. Mbak Titiek, demikian ia akrab disapa, memberikan semangat kepada anak-anak yang hendak dikhitan. 


Gelar khitanan massal untuk pertama kalinya diselenggarakan di Gedung Notosudiro Komplek Monumen Jenderal Besar HM Soeharto di Kemusuk. Sebelumnya, acara serupa setiap tahun juga diadakan, namun di beberapa tempat berbeda. Sejak tahun ini, khitanan massal bagi anak-anak akan diadakan di Komplek Monumen Soeharto. Demikian dikatakan Djoko Utomo, Ketua Panitia Kegiatan. 
Dijelaskan lebih lanjut, kegiatan sosial oleh Bapak Probosutedjo memang sudah sering dilakukan. Namun, kali ini Bapak menginginkan untuk khitanan massal ini diadakan di Monumen Soeharto. Ada 117 anak yang ikut dikhitan, mereka berasal dari berbagai daerah di seluruh Yogyakarta. 
Anak-anak ditangani tim ahli dari RSU PKU Yogyakarta
“Pak Probo ingin berbagi kepada warga dan turut meringankan beban warga. Karena khitan itu bagi umat muslim wajib. Sedangkan pelaksanaannya ini sengaja diadakan di musim liburan sekolah sebagai hadiah bagi anak-anak dari Pak Probo”, jelas Djoko, sembari mengimbuhkan, khitanan massal melibatkan 18 Tim Medis dari RSU PKU Yogyakarta, dua di antaranya dokter.
Sementara itu, Titiek Soeharto yang hadir dalam kegiatan itu mengatakan, khitanan massal dan gratis ini sebenarnya acara biasa saja. “Bentuk kepedulian keluarga kami kepada masyarakat yang membutuhkan. Kegiatan serupa juga sudah sering dilakukan, dan kedepan diharapkan bisa diadakan setiap tahun di Monumen Soeharto ini.” jelasnya.
Samuel bersama ayahnya
Tak hanya sekedar dikhitan, kepada anak-anak peserta khitanan massal juga diberikan bingkisan dan uang saku. Dalam kesempatan itu, pun Titiek Soeharto juga turut memberikan uang saku bagi anak-anak peserta khitanan. Tak pelak anak-anak pun merasa terhibur dan senang dengan adanya kegiatan tersebut. Salah satunya, Samuel Artoko (9), warga dusun Sengon Karang, Argomulyo, Sedayu Bantul, Yogyakarta.
Samuel mengaku sangat senang, karena sudah sejak lama ingin dikhitan. Namun karena keterbatasan orangtuanya, Samuel harus bersabar. “Alhamdulillah, saat ini ada khitanan gratis dan dapat bingkisan. Pas liburan sekolah juga. Jadi kami sekeluarga sangat bersyukur. Sangat meringankan beban kami, karena kalau khitan sendiri harus bayar 400an ribu”, ujar Handoko (40), ayah dari Samuel.
Probosutedjo dan Titiek Soeharto memberikan sangu buat anak-anak setelah mereka dikhitan
Khitanan massal dilakukan dengan metode terkini yang dinilai paling aman dan efektif. Koordinator Tim Medis dari RSU PKU Yogyakarta, Joko Mardiyanto menjelaskan, khitanan massal dilakukan dengan metode Cirkumcici atau sirkumsisi, yaitu dengan cara memotong memutar atas bawah kiri dan kanan. Bekas luka sayatan dijahit dengan benang yang bisa diserap oleh tubuh. Dalam kondisi normal, dalam waktu tiga hari sudah bisa sembuh dan tak perlu kontrol maupun ganti perban sendiri. Namun selama tiga hari itu, bekas luka tidak boleh terkena air. Dalam tahap penyembuhan selama 3 hari, diberikan dua obat yaitu antibiotik dan anti nyeri.
Hadir dalam acara khitanan massal itu, mantan menteri agama dan mantan kepala rumah tangga di masa Pak Harto, Dr.Maftuh Basyuni, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Yayasan Wangsamanggala   Prof Dr. Suharyadi, General Manager Sekolah Kebangsaan Turki, Mehmet, Pimpinan Sekolah Kesatuan Kebangsaan Kemusuk, Ahmed, dan sejumlah tamu undangan lainnya.
Lihat juga...