Ada Ide Agar Kunjungan Titiek Soeharto Dikemas Seperti Acara Klompen Capir

SELASA, 22 DESEMBER 2015
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Foto: Koko Triarko

YOGYAKARTA—Titiek Soeharto menggelar temu wicara bersama puluhan penyuluh swadaya se-Kabupaten Sleman, DI.Yogyakarta, di sentra pengembangan buah jambu air dalhari dusun Krasakan, Jogotirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, Selasa (22/12/2015), siang. Dalam kunjungan itu, Titiek menerima keluh kesah warga petani terkait berbagai bantuan pemerintah yang dinilai tidak tepat sasaran dan bahkan meracuni petani.


Dalam masa resesnya kali ini di dusun Krasakan, Titiek Soeharto banyak menerima keluhan warga petani. Mulai dari HPP beras dari pemerintah yang dinilai salah perhitungan dan bantuan langsung bibit unggul yang dalam kenyataannya justru membuat para petani merugi besar. Selain itu juga disampaikan jeritan petani tembakau yang hasil panennya saat ini bagus, namun harganya sangat rendah akibat pemerintah menaikkan pajak cukai di pertengahan tahun anggaran.
Keluhan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Penyuluh Swadaya Kabupaten Sleman, Drs. H. Habib Habudin, di hadapan perwakilan penyuluh swadaya sekabupaten Sleman dan puluhan petani jambu air dalhari pedukuhan setempat. Keluhan berkait kelompok pertanian yang harus berbadan hukum untuk bisa mendapatkan bantuan pemerintah, juga masih mengemuka.
Terkait berbagai keluhan tersebut, Titiek Soeharto menyatakan, pihaknya melalui Komisi IV DPR RI akan melakukan upaya-upaya keras guna melakukan perbaikan. Dijelaskannya, terkait persoalan HPP beras telah disampaikan ke Kementan dan akan lebih ditekankan lagi. Sementara itu untuk persoalan bantuan bibit unggul yang kenyataannya justru membuat rugi petani, Titiek mengatakan, jika saat ini pemerintah sudah membuat program desa mandiri benih. Sedangkan, keluhan lain seperti minimnya sumber air, pihaknya akan mengupayakan plipanisasi Namun demikian, Titiek juga meminta agar para petani bisa lebih kreatif dan inovatif dalam mengatasi berbagai kendala, karena bantuan pemerintah itu sifatnya hanya mendukung. Terkait Poktan yang harus beradan hukum, Titiek menegaskan lagi, jika saat ini untuk sementara pemerintah bisa mentolerir. Namum, Titiek menyarankan sebaiknya badan hukum itu harus dibuat, karena sangat memudahkan Poktan sendiri dalam berbagai urusan.
Titiek Soeharto hadir didampingi Sekretaris Dinas Kelautan, Perikanan dan Pertanian Kabupaten Sleman, Ir. Dwiyanta Sudibya MT, Camat Berbah, Dra Tina Hastani, MM, Penyuluh dari UPT BP3K Wilayah 7  Berbah, Ketua Asosiasi Jambu Air Dalhari, Misran dan puluhan petani.
Dalam sambutannya, Tina Hastani mengharapkan, temu wicara bersama para petani sekiranya bisa menjadi pertemuan Kelompencapir seperti di zaman Pak Harto. 
“Sebab, kehadiran pejabat seperti Bu Titiek ini bisa memberi semangat bagi kami untuk lebih meningkatkan prestasi dan kinerja para petani”, ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Titiek sebagaimana biasanya pada setiap kunjungan kerja di masa reses, memberikan sejumlah bantuan. Bantuan pada sejumlah petani itu kali ini berupa PH Meter sebanyak 17 unit dan Bagan Warna Daun sebanyak 100 buah. 
Lihat juga...