Akademisi dan KPID Jatim Membahas “Gender Dalam Penyiaran”

SENIN, 21 DESEMBER 2015
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Sari Puspita Ayu / Foto: Charolin Pebrianti
SURABAYA—Gender atau jenis kelamin bisa menjadi salah satu konten yang menarik dibahas ketika media lebih tertarik kepada perempuan daripada pria. Perempuan bisa menjadi komoditas yang dapat menjadi tontonan menarik.


Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jatim, Maulana Arief menjelaskan bagaimana paradigma masyarakat terhadap perempuan dalam media.
“Misalnya, ada perempuan yang diambil gambarnya pada bagian paha maupun dada. Hal tersebut menjadi tontonan menarik, namun juga bisa menjadi eksploitasi pada pihak perempuan,” terangnya ditengah-tengah diskusi ‘Gender Dalam  Penyiaran di Jawa Timur’, Senin (21/12/2015).
Menurutnya, banyak terjadi isi siaran yang melakukan pelanggaran, diantaranya adegan seksual (eksploitasi perempuan), dan kekerasan (peristiwa kecelakaan, dan orang yang mengalami luka-luka diambil gambarnya).
“Selain itu, wartawan misalnya, lebih banyak yang laki-laki, daripada perempuan. Bagaimana penilaian perusahaan, apakah laki-laki dianggap lebih lincah atau bagaimana,” ujarnya.
Koordinator Bidang Kelembagaan KPID, Redi Panuju menjelaskan sebenarnya bukan hanya perempuan saja yang biasa dieskploitasi.
“Media sekarang, tidak hanya eksploitasi perempuan, namun juga bisa dihadirkan didalam penyiaran yakni pria ‘lembeng’ atau gemulai justru menjadi tontonan menarik dan menghibur,” jelasnya.
Ketua Humas Universitas Airlangga (Unair), Suko Widodo menambahkan media dipengaruhi oleh berbagai hal mulai dari target dari media, pemilik, ideologi, dan jurnalisnya.
“Misalnya sebuah acara yang membutuhkan presenter yang cantik, kurus dan berkulit putih. Namun, kita tidak berani melawan hegemoni, misalnya mencari presenter yang berkulit hitam dan bertubuh gendut,” tukasnya.
Ia menilai, seolah-olah media sekarang berhubungan dengan kapitalisme. Sehingga banyak fungsi dan peran media yang sekarang bersifat homogenisme.
Dosen Ilmu Komunikasi, Kandi Aryani memberikan contoh salah satu kasus mahasiswanya, saat mahasiswanya mengikuti proses penerimaan reporter disebuah stasiun televisi, tidak diterima karena warna kulit.
“Mahasiswa saya ini secara kualifikasi berbakat, namun hanya karena warna kulit, dia tidak bisa diterima,” tegasnya.
Kandi menyampaikan kekecewaannya, ia mulai menanyakan bagaimana bisa warna kulit berpengaruh terhadap nasib seseorang. Padahal penampilan, tidak seharusnya menjadi penilaian utama.
“Keberagaman bisa menjadi sifat dan rasa ke-Indonesiaan, harusnya itu bisa menjadi pengakuan dan kesamaan prinsip baik dalam hal permasalahan gender,” tutupnya.
Lihat juga...