ASDP Terapkan E-ticketing, Pengurus Truk Beralih Ke Pelabuhan Lain

LAMPUNG — Pasca pemberlakuan tiket elektronik (e-tiketing) oleh PT Mata Pencil selaku pihak ketiga yang bekerjasama dengan PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (PT ASDP) cabang Bakauheni, ratusan pengurus jasa penyeberangan mulai merasa kecewa dan melakukan protes. 
Kekecewaan tersebut pun diungkapkan oleh Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) di lintasan Selat Sunda. Akibatnya beberapa pengurus truk memilih untuk menggunakan jasa penyeberangan di pelabuhan lain dengan alasan efesiensi serta masih menggunakan penghitungan dimensi kendaraan secara manual.
Salah satu pengurus jasa penyeberangan, Adi (34) yang menjadi penanggungjawab penyeberangan kendaraan truk ekspedisi sekitar 12 unit mengaku merasa kecewa dengan penerapan e-tiketing yang mulai berlaku hampir sepekan ini mulai (24/11). Salah satu faktor yang membuat kecewa adalah penerapan e-tiketing dengan sistem sensor elektronik mengakibatkan sistem membaca dimensi panjang kendaraan lebih teliti hingga ke ukuran centimeter.
“Bayangkan jika hanya selisih tiga centimeter berakibat biaya jasa penyeberangan kendaraan lebih mahal sementara sopir dan pengurus sudah diberi uang pas oleh perusahaan ekspedisi dan tak mungkin kami menambahi,”ungkap Adi kepada Cendana News, Selasa (1/12/2015).
Sementara waktu ungkap Adi, beberapa kendaraan truk ekpedisi dengan dimensi panjang tertentu terpaksa menggunakan jasa penyeberangan di pelabuhan milik PT Bandar Bakau Jaya (BBJ) di Muara Piluk, sementara untuk kendaraan yang tak ada masalah sesuai sebelum pelaksanaan e-tiketing tetap menggunakan penyeberangan di PT ASDP Bakauheni yang menggunakan kapal Roll on Roll Off (Roro) terutama ekspedisi kebutuhan pokok yang cepat membusuk.
“Selisih uang sekitar puluhan ribu sangat berarti bagi kami pengurus dan para sopir karena pihak perusahaan hanya tahu tarif sesuai golongan kendaraan,”ujar Adi.
Pantauan CDN beberapa pengurus kendaraan bahkan mengalihkan penggunaan jasa penyeberangan menggunakan kapal LCT. Tarif yang dianggap lebih murah dan ada batas toleransi terkait panjang kendaraan membuat pengurus dan pengemudi lebih memilih menyeberang melalui pelabuhan PT BBJ yang menyeberang ke Bojonegara daripada melalui PT ASDP Bakauheni menuju Merak dengan kapal Roro.
Ia bahkan membandingkan pelaksanaan pengukuran dimensi kendaraan di PT BBJ yang menggunakan kapal jenis Landing Craft Tank (LCT) masih menggunakan meteran manual. Pengukuran meteran manual tersebut dikerjakan oleh petugas di pintu masuk Pelabuhan BBJ dan kecenderungan kelebihan dimensi panjang kendaraan akan ada batas toleransi dengan melakukan penurunan. Sementara itu di pelabuhan PT ASDP tidak ada toleransi terkait panjang karena sudah tersistem secara elektronik.
Peniadaan batas toleransi dimensi kendaraan tersebut diungkapkan koordinator PT Mata Pencil, Akim, selaku operator e-tiketing saat diwawancarai Cendananews.com sebelumnya. Menurutnya dimensi yang dimaksud baik panjang maupun tinggi kendaraan sudah terbaca oleh sensor yang terpasang di kanan dan kiri pintu masuk (toll gate) dan di atas pintu masuk.
“Sistem kita membaca dimensi baik panjang kendaraan bahkan siluet kendaraan terbaca, jadi kita tidak menggunakan batas toleransi jika mengacu ke Peraturan Menteri Perhubungan nomor 38,”ungkap Akim.
PT ASDP Bakauheni Akan Koordinasi dengan Pusat terkait E-Tiketing
Kekecewaan dan protes pihak pengurus jasa pelabuhan di PT ASDP Bakauheni terkait pemberlakuan e-tiketing pun telah disampaikan perwakilan sejumlah pengurus jasa penyeberangan dengan PT ASDP Bakauheni.
Dalam pertemuan dengan pihak PT ASDP pengurus angkutan penyeberangan (kendaraan truk dan bus) dan Gapasdap berharap program e-tiketing yang dikelola PT. Mata Pencil di berhentikan saja. Mereka menilai, pemberlakukan sistem e-tiketing tersebut bukannya menyelesaikan masalah tapi menambah masalah baru di penyeberangan Bakauheni-Merak.
Menurut Hutabarat, salah satu pengurus penyeberangan di Bakauheni, program e-tiketing yang dilaksanakan PT. ASDP pusat di Bakauheni melalui pihak PT. Mata Pencil tidak berjalan maksimal. Buktinya, kata dia, dengan adanya program e-tiketing ini penyeberangan di pelabuhan Bakauheni menjadi macet.
“Banyak hal-hal yang harus dibenahi lagi tentang program e-tiketing ini. Program e-tiketing ini malah menimbulkan kemacetan. Kadang-kadang pintu tolgate itu dibuka hanya dibuka 2 loket sehingga terjadi antrian panjang diluar pelabuhan,” kata Hutabarat.
Menanggapi soal itu, General Manager (GM) PT. ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni Tommy L. Kaunang mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan PT. ASDP pusat terkait keluhan program e-tiketing yang dikelola PT. Mata Pencil.
“Semua masukan dan harapan para pengurus penyeberangan dan Gapasdap akan di laporkan ke ASDP pusat. Kami selaku penanggungjawab pengelolaan pelabuhan Bakauheni sangat berharap program e-tiketing ini bisa berjalan lancar dan aman sehingga tidak menganggu pelayanan penyeberangan,” ujarnya.
Pengurus jasa penyeberangan sebelumnya juga sempat direpotkan dengan pemberlakuan sistem satu arah di semua arae pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan. Pemagaran area pelabuhan membuat seluruh akses ke pelabuhan dibatasai. Solusi selanjutnya dibuat dengan membuat kartu pengenal khusus bagi pengurus penyeberangan. Selanjutnya pemberlakukan e-tiketing pun dianggap merugikan pihak pengurus meski akhirnya pelaksanaan e-tiketing tetap diberlakukan meski mendapat protes.
JURNALIS : HENK WIDI

Bergabung dengan Cendana News pada bulan November 2014. Dengan latar belakang sebagai Jurnalis lepas di beberapa media dan backpacker, diawal bergabung dengan Cendana News, Henk Widi fokus pada pemberitaan wisata dan kearifan lokal di wilayah Lampung dan sekitarnya.

Twitter: @Henk_Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo / Fotografer : Henk Widi
Lihat juga...